Hatiku, Batu.(Part Akhir)

Cerpen, Fiksiana344 Dilihat

Semua menganggap aku salah, wanita yang tidak bisa memberikan keturunan masih banyak tingkah. Sudah tidak bekerja mengantungkan diri pada suami seharusnya memberikan hak suami untuk melanjutkan garis keturunannya.

Tajam sangat tajam perkataan mereka, jika jariku teriris pisau rasanya tidak separah irisan kata mereka padaku,  hatiku. Jiwaku meronta, hatiku terkoyak lebar aku yakin kata maaf tidak akan dapat menjahit lukanya yang mengganga.

“Percayalah aku masih mencintaimu, aku hanya ingin keturunan itu saja.” masih membela dirinya.malam dimana dia membawa wanita itu, dan anaknya kerumah yang katanya milik kami, tapi sekarang menjadi milik mereka. Belum juga satu malam baru satu jam dia di kamarku. Jeritan si kecil membuatnya meninggalkanku

“Sebentar aku lihat si kecil.” Katanya sambil berlalu meniggalkanku dan tak kembali lagi sampai ke pagi.

cukup, cukup sudah jika hanya satu malam dia tak kembali mungkin bisa aku maafkan tapi dia tak kembali kekamarku mungkin aku tidak akan kecewa tapi sudah hampir 2 windu dia tidak pernah datang ke kamarku baik siang maupun malam untuk menginap. Hanya  sekedar singgah mengambil keperluarnya yang tidak muat di simpan dikamar mereka karena kecil katanya. dan sekarang bukan hanya rumah, bahkan kamarku pun tak luput dari incarannya.

“Kamar sebelah terlalu kecil, kamu pindah ya kesebelah.?” remuk hatiku mendengarnya. Tapi dia, suamiku tak melihat atau mendengar jeritan hatiku, tega memintaku untuk pindah kamar yang menjadi saksi bisu bahwa dia  pernah dengan sangat memujaku.

***

 Hari ini aku meninggalkan rumah, rumah yang dulu menjadi tempatku berlindung tapi kini tidak lagi, sepanjang jalan aku mendengarkan ocehan tetangga tentangku, wanita tak sempurna masih bertingkah dan banyak lagi, siapa yang kejam aku atau dunia ini yang membuatku terlihat kejam.

Masih berlaku lagikah, surga seorang istri di kaki suami. Kaki suami yang menendangku keluar dari rumah yang dulunya disebut rumah kami.  Aku ingin bertanya kepada dunia, tapi mulutku terkatup rapat. Sekarang aku seorang janda, bayangkan gelar janda berat rasanya. Aku,  gelarku bertambah dengan menjadi perusak rumah tangga orang rumah siapa yang sebenarnya dirusak aku, atau entahlah aku malas untuk membahasnya.. Ya dia dulu suamiku sekarang orang lain yang bukan apa – apaku.

Kakiku melangkah pergi, menjauh. bukan karena aku takut. Tapi hatiku, ya hatiku telah membatu. Lelah aku lelah, batu ini tidak bisa lagi berkata – kata, jadi biarkan aku melangkah pergi meninggalkan semua carut marut kehidupan dunia ini.***

Tinggalkan Balasan

News Feed