Bertekut lutut, aku terpaksa melakukanya. Begitu hina, aku sungguh tak berguna, aku manusia yang seharusnya bertekuk lutut hanya pada yang Maha Kuasa tapi saat ini aku terpaksa, sangat terpaksa melakukannya. Tak terbendung lagi ada sungai airmata yang mengalir di dalam hati, aku harus kuat. Tak akan aku tunjukkan airmata ini di depanmu, manusia laknak yang mengaku tuhan dan membuatku harus bertekuk lutut dihadapanmu. Aku menyumpah dalam hati, ada luka yang mengganga dan mengeluarkan darah.
Aini, nama singkat pemberian orangtuaku masih saja disingkat lagi dengan memanggilku Ain. Tapi aku tidak peduli paling tidak aku masih punya nama. Lingkungan kumuh terpaksa aku tempati setelah pergi dari kampung. Rumah megah diantara rumah megah dikampung, ya bapakku termasuk orang terpandang yang menyewakan lahan untuk orang berladang. Tuan tanah istilah dikampungku. Muda tapi aku mau berdikari, sudah 17 tahun tapi hidup selalu terkungkung oleh tradisi keluarg dimana anak perempuan tidak boleh bersekolah tinggi.
“Cukup abangmu saja yang kuliah, kau di rumah belajar menjadi istri yang baik dari Ibumu.” Bentak Abah ketika aku mengatakan ingin kuliah setelah tamat SMK.
“Zaman sudah berubah Bah, biar bisa membantu Abah, Abang mengelola tanah.” Aku berusaha menyakinkan Abah.
“Abangmu sudah ada, kau tidak perlu memikirkannya.” Masih ketus nada bicara Abah.
“Maaak…” Rajukku pada Mak, sambil memeluk emak meminta bantunya untuk memujuk Abah untuk mengizinkan aku kuliah.
***
Aku keluar melompati pagar rumah, masih hitam pekan warna langit waktu itu. aku sudah bertekat untuk pergi mencari jati diri, lelah diperlakukan seperti anak kecil. Kapan aku akan dewasa dan menentukan hidupku sendiri, fikirku kala itu.
Aku memandang takjub Kota Batam baru pertama kali aku melihatnya, setelah lelah perjalanan dengan kapal yang lumayan membuat perutku bagai dikocok, sensansi yang tidak pernah aku rasakan. Hanya berbekal pengalaman cerita Abangku, untuk mengatasi mabuk laut, jika merasa ingin muntah, jangan dimuntahkan tapi langsung ditelan, walhasil aku pratekkan. Alhamdulillah aku tidak jadi mabuk laut.
Aku meneliti lagi handphoneku, membaca chat terakhir dari sahabatku, yang sudah hampir setahun bekerja di batam.
“Batu Aji.” Gumamku kecil
“Ingat naik taxi, diluar pelabuhan terus di tawar. Ke Batu Aji hanya 75 ribu.” Tulis temanku dichatnya. Batam aku sudah datang, hatiku riang
***







