Madunya Cinta (Part 3)

Cerpen, Fiksiana410 Dilihat

Doa yang dibaca oleh iman sholat isya sudah lama berlalu, semua makmum sudah pada pulang kerumah masing – masing. Aku masih terpaku ditempatku sholat tadi, aku lelah tapi aku tidak ingin pulang, itu bukan rumahku lagi.

“Bu Cinta di tunggu bapak di rumah.” Lamunanku terganggu oleh suara sopir suamiku yang menyusul ke masjid.

Aku berdiri menuju pintu keluar masjid dan mendekati sopir suamiku

“Bilang bapak, saya pulang kerumah orangtua saya.” Setelah mengatakan itu menuju taxi online yang baru saja aku pesan.

“ Bu, nanti bapak marah.” Ucap sopir suamiku

“Pulang saja, katakan apa yang saya katakana.” Setelah itu  aku meninggalkan masjid menuju kearah  taxi menaikinya dan mengatakan alamat kepada sopir taxi.

***

Rumah masa kecilku, tak berubah hanya aku yang berubah. Aku malu untuk pulang tapi kemana lagi aku harus pulang. Aku melangkah ragu, tapi aku tetap melangkah, masih tergiang diteligaku, ketika Ayah mengatakan silakan menikah tapi Ayah tidak akan memberikan restu.

Mungkin ini hukuman bagiku yang tidak mendapatkan restu dari orangtua untuk menikah, menetes airmataku laju bagaikan tidak bisa direm.

“Assalamualaikum.” Salamku terdengar serak karena aku menahan isak

Langkah mendekati pintu depan rumah, suara Ibu menjawab salamku

“Waalaikumsallam.” Wajah ibu yang terlihat lebih tua dari biasanya membuka pintu untukku.

Aku memeluknya erat, kutumpahkan semua beban serta lelah pada tubuh tuanya. aku terisak dalam pelukan eratnya. Tiada kata – kata hanya bimbingan sayangnya membawaku ke kamar masa kecilku.

“Istirahatlah dulu.” Aku memandang wajah ibuku, menganggukkan kepala dan menuju ranjang masa kecilku. Berbaring dan memejamkan mataku, bagaikan disihir aku tertidur lelap setelah beberapa tahun ini aku tidak pernah tidur lelap.

***

Suara azan subuh membangunkan aku dari tidur lelapku setelah hampir 2 tahun aku tidak bisa melelapkan mataku, bisik – bisik tetangga yang mengatakannya menduakan cintaku. Aku membuka mataku melihat suasana kamar yang memberikan kenangan masa kecilku, jika aku bisa memilih dan meminta kepada-Nya, biarkan aku tetap menjadi putrid kecil Ayah Ibuku. Aku tersenum kecut, jika itu bisa maka tidak akan ada sakit yang bersarang dihatiku saat ini. Ketukan dipintu membuatku cepat beranjak dari ranjang menuju pintu.

“Mau sholat berjamaah bersama.” Wajah ibu yang selalu memberikan kesejukan dan kedamaian aku mengangguk bergegas mengambil wudhu dan menuju tempat dimana kami selalu sholat berjamaah.

***

Aku pamit kepada Ayah dan Ibu untuk kekantor, tidak ada pertanyaan ataupun soalan dari kedua orangtuku. Mereka tidak bertanya, tapi aku tahu banyak yang mau mereka tanyakan padaku. Maafkan anakmu ini Ayah…Ibu.

Memasuki lobi kantor aku melihat dia, suamiku berdiri. Melihat kedatanganku, dia langsung mendekatiku

“Kita perlu bicara Cin.” Suaranya sengaja dipelankan

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” aku menjeda ucapanku

“Itu bukan rumahku, silakan bawa siapa saja yang mau tinggal di dalamnya.” Setelah mengatakan itu aku berlalu menuju lift. Dia mengikutiku memasuki lift, aku hanya memandang sekilas dan kemudian membuang pandanganku ke arah lain.

“Cinta, aku mohon. Dia tidak ada tempat tinggal selain tinggal dengan kita.” Ucapan suamiku membuaku tertawa tertahan

“Memang kemana rumahnya?”

“Aku sudah menikahinya, tidak mungkin dia tinggal dirumah peninggalan suaminnya.” Aku tidak butuh penjelasan suamiku.

“Tinggal saja, aku tidak keberatan. Tapi Aku akan kembali kerumah orangtuaku.” Ucapanku membuat suamiku mengeram dan menarik tangan  sangking kesalnya.

“Kamu itu apa – apaan, kamu istriku kenapa harus tinggal dengan orangtuamu.”Katanya geram

“Istri, sejak janji sumpah setia kau langgar. Aku bukan lagi istrimu.” Aku sengaja mengingatkan dirinya bahwa dia pernah berjanji hanya aku satu – satunya wanita yang akan menjadi istrinya.

Aku melihat kilatan kesal dimatanya, akhirnya lift terbuka di lantai kantorku. Tapi dengan cepat suamiku menekan tombol tutup dan menekan lantai dasar. Aku melihatnya geram berusaha melepaskan diri tapi tenagaku tidak sebanding dengan kekuatan laki – laki yang bergelar suamiku.

Dengan paksa aku dibawa kemobilnya, kami pergi meninggalkan kantorku. Tapi jalan yang kami tuju bukan rumah. Aku hanya menghembus napas lega karena aku tidak sudi untuk melihat dia, yang kata suamiku adalah maduku.(bersambung)

***

Tinggalkan Balasan