P
erbincangan yang sejak tadi tak ada sudahnya, emosiku sudah tidak stabil semakin aku menahannya semakan sakit kepala rasanya.
Menatap netra yang sejak tadi berusaha menghindar, semakin jauh dari kebenaran apa yang terkeluar dari mulut Bang Adnan.
“sudahlah Bang semakin banyak beralasan semakin banyak bohong yang terkeluar, jangan sampai semua yang terkeluar dari mulut Abang menjadi boomerang buat Abang sendiri.” Ucapku ketus.
Malas untuk melayani semua kebohongannya, aku melangkah keluar kamar mencari udara segar tak bisa aku berbagai udara dengannya.
Belum juga aku mencapai pintu ruang tengah, suara memekik dari ruang tamu membuat aku menjadi jengkel, siapa yang bertamu tidak melihat waktu.
Jam dinding sudah menunjukkan angka sepuluh malam, dengan malas aku menekan panel pintu dan mengucapkan salam untuk menyindir tamu yang tak diundang.
Wajah kusut seketika Nampak ketika aku membuka pintu depan, bukanya menjawab salamku malah masuk dengan tidak tahu diri, untung saja kuda – kudaku kuat jika tidak aku akan terjungkal karena terlalu keras dirinya menyengolku.
“Maaf, Kakak mencari siapa.” Ucapku ketus tapi masih mau berbasa – basi melihat dirinya yang lebih tua dariku.
“Kakak siapa? Aku tidak merasa mempunyai adik. Mana Bang Adnan?” tanyanya ketus.
Keningku berkerut siapa wanita ini yang bertanya suami orang dengan lancang, batinku geram.
“Bang ada yang mencari.” Jerit kesal sambil menelisik perempuang yang dengan angkuh berdiri di ruang tamu rumahku.
Tanpa aku persilakan perempuan itu duduk dengan sombong di salah satu kursi ruang tamuku.
“Bang cepat keluar.” Jeritku lagi, kesal dengan tamu yang merasa ini rumahnya.
Langkah kaki mendekat ruang tamu, raut wajah Bang Adnan terlihat geram menatapku, tapi hanya sesaat, ketika melihat tamu yang sedang duduk sombong memandangnya seketika wajahnya dibuat semanis mungkin.
“Bang, katanya sama adik Abang hormat sedikit dengan calon kakak ipar. Menjerit macam tinggal kat kampung tak sopan.” Rajuknya kepada Bang Adnan.
Hatiku terbakar habis mendengar ucapanya yang mengatakan aku adik Bang Adnan, mataku nyalang menatap Bang Adnan sambil bernapas kuat dari hidung tanda aku sangat kesal.
“Kapan menikahnya Kak, senang saya siapkan segala pernak pernik pernikahan.” Ucapku kesal dan masih menatap tajam Bang Adnan.
Bang Adnan seribu bahasa, lihat butir keringat jagung membanjiri keningnya belum lagi tangannya yang tak berhenti digoyangkan tanda dirinya lagi risau berat.
“Sebulan lagi kami menikah, kan begitu lebih baik jadi adik ipar harus hormat dengan kakak ipar. Tolong buatkan air sirup, haus sekali.” Tanpa malu perempuan yang entah siapa berani menyuruh aku yang notabene nyonya rumah.
“Rencananya nikahnya berapa lama, sebulan, setengah tahun atau setahun?” sengaja aku memancing emosi perempuan yang tidak tahu malu.
“Apa maksud adik ipar bertanya seperti itu, mana ada orang menikah macam tu.” Kena kau batinku melihat perempuan itu naik pitam
“Saya sudah menikah dengan Bang Adnan tiga tahun, mungkin Bang Adnan lupa mengatakan pada Kakak.” Pandangan sinisku kepada Bang Adnan.
Aku melihat raut terkejut dari wajah perempuan itu, dan menatap aku bergantian menatap Bang Adnan.
“Saya tidak apa – apa jika Kakak menikah dengan Bang Adnan tapi tidak bisa lebih dari satu bulan.” Ucapku dengan nada mengejek.
“Bang benar dia istri Abang, bukankah Abang mengatak dia Adik Abang.” Ucapnya kecewa.
Seperti kedatangannya, kepergiannya pun bagai angin yang datang pergi sesuka hatinya.
Hening, hanya suara binatang malam yang terdengar. Melihat tidak ada yang akan dikatakan Bang Adnan aku memilih untuk masuk ke kamar tamu yang biasanya digunakan Abah dan Emak jika datang menginap. (bersambungI













