Belahan Jiwaku (2)

 

Kamar yang sudah dua tahun kami siapkan untuk anak kami, tapi nasib berkata lain Aku harus kehilangan anak kami dalam usia kandunganku sudah enam bulan, dan sampai sekarang aku tak kunjung hamil lagi.

Menguncinya dari dalam malas, untuk mendengarkan penjelasan Bang Adnan pasti banyak lagi dusta akan terkeluar dari mulutnya yang membuat hatiku bertambah sakit.

Untuk menghindari suara ketukan dipintu kamar, aku memilih menutup telingaku dengan kapas dan memilih menghitung kambing dalam hayalan untuk menjemput tidurku, entah sampai hitungan keberapa akupun tertidur.

***

Suara azan berkumandang, tak seperti biasanya sebelum azan aku sudah terbangun. Tapi hari ini batinku lelah sampai – sampai aku terlewat suara terahim.

Setelah mengadu kepadanya, aku memilih untuk membersihkan diri dan mengenakan pakain putih hitam karena hari ini hari rabu. Seragam putih hitam dengan jilbab salem menjadi pakaian kami ASN.

Memilih meninggalkan rumah pagi sekali, biarkan hari ini Bang Adnan mengurus semua keperluanya.

Setelah mendorong motor maticku agak menjauh dari rumah baru aku menghidupkan mesinnya dan melaju dengan kecepatan sedang sambil menikmati udara segar dipagi hari.

Perjalanan yang seharusnya memakan waktu lima belas menit dari rumah ke sekolah hari ini menjadi agak lambat karena ditengah jalan aku berhenti untuk membeli sarapan untuk di makan di sekolah nanti.

Gerbang sekolahku sudah terlihat, meliha mereka siswaku yang sudah berdatangan ada sesak di dada, entah kapan aku menjadi seorang ibu.

Apakah karena anak Bang Adnan sekarang berulah, ingin mencari istri dengan alasan anak. Belum juga lima tahun umur pernikahan kami, sedangkan nabi Zakaria lama baru diberikan keturuanan setelah lama berdoa.

***

Malas rasanya meninggalkan sekolah setelah bel panjang tanda pelajaran hari ini sudah berakhir, dengan terpaksa aku meninggalkan sekolah setelah melihat penjaga sekolah gelisah karena jam sudah menunjukkan angak setengah enam.

Melajukan motor menuju coastal area, tempat orang mencari ketenangan setelah jenuh bekerja seharian.

Coastal area, tempat yang baru beberapa tahun menjadi objek wisata di kabupatenku Karimun.

Motor maticku aku pinggirkan setelah sampai pada mushola yang berada di coastal area, duduk di terasnya yang menghadap laut.

Hujan turun, padahal langit cerah. Aku beringsut masuk ke teras dalam mushola untuk menghindar air hujan, dingin tapi tak sedingin hatiku, mataku masih terpaku dengan pandangan laut yang tertiup kabut, gelombang kecang. Senyumku kecut mengingat saat ini badai gelombang sedang melanda rumah tanggaku.

***

Setelah sholat isyak baru hujan berhenti, aku berjalan menuju motor maticku yang basah kuyup terguyur hujan. Aku tidak memperdulikan motorku yang basah, menghempaskan badan pada badan motor dan menjalankannya pelan menuju rumah, sedapat mungkin aku mengulur waktu untuk sampai di rumah.

Pukul sembilan kurang sepuluh menit aku sampai di depan rumah, gelap tak ada tanda kehidupan. Sejak pagi aku menghindar dari telepon dari Bang Adnan.

Mungkin bosan Bang Adnan lebih memilih untuk menghibur hatinya dengan perempuang yang mengaku calon istrinya, lagi – lagi senyum kecutku menghias bibir ini.

Setelah memasukkan motor maticku ke garasi, aku berjalan masuk melalui pintu garasi menuju ruang dapur.

Menghidupkan lampu dapur, menuju ruang tengah ketika aku ingin menghidupkan lampunya aku melihat sosok yang duduk termenung di depan TV yang tidak nyala, belum sempat aku menghindar Bang Adnan berdiri dan menatap diriku dengan raut wajah yang sulit aku artikan.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

News Feed