Kembang Di Ranting Kering (Part 1)

Cerpen, Fiksiana319 Dilihat

Cinta bisa tumbuh dimana saja, mungkin ini memang adanya. Aku tersenyum dalam duka, tak pernah aku bayangkan semua akan jadi begini. Ku hapus kasar airmata yang tidak pernah aku izinkan untuk keluar, sungguh kurang ajar dia keluar tanpa meminta izin dan pamit dariku dulu. Semua tak seharusnya terjadi tapi kini terjadi sudah. Hanya sesal yang berkepanjangan yang kini aku rasakan.

Jam dinding sudah berdenting sebanyak 12 kali, sebentar lagi subuh menyinsing tapi bayangannya belum juga nampak, jangan bayangannya , untuk menelepon saja susah, cukup sms saja, itupun tidak.

Hatiku mengeras, jika tidakku ingat dia suamiku, surgaku dibawah telapak kakinya mungkin saat ini aku akan menelepon polisi saja, kesal hatiku berkepanjangan.

Sialnya lagi, laki – laki yang bergkelar suami olehku punya kebiasaan jelek bagaimana tidak jelek sudah tahu kerjanya harus pulang malam tapi tidak suka membawa kunci rumah. Sehingga aku harus menunggu kepulangannya yang tidak tentu waktunya, menjengkelkan.

Bunyi mesin mobil sudah terdengar di depan rumah, aku memandang kearah jam dinding sudah pukul 01.30 dini hari, bergegas aku berjalan menuju pintu depan. Menekan kunci pintu mengesernya supaya terbuka kuncinya, setelah itu handel pintu aku tekan untuk membukanya.

Wajah lelah terlihat didepanku, hilang semua rasa marah yang tadi sudah menggunung, pemandangan didepanku sungguh membuat hatiku iba, meraih tangannya mencium, berjalan seiringan sambil mengandenganya.

“Capek pa? ku lempar senyum manis sambil bertanya kepadanya

“Hmm.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Suamiku menuju kamar kami, aku menuju dapur untuk membuatkan teh hangat. Sesampainya di kamar, aku memandang kearah ranjang kami yang sudah ditidurinya tanpa membuka dulu baju kerjanya. Aku meletakkan teh yang ku bawa di atas meja dikamarku. Berjalan menuju tempat tidur, meraih kaos kaki yang masih terpasang dikakinya. Membuka kemeja kerja dan celana kain yang seharusnya diganti sebelum pergi keperaduan dan bertemu dengan alam mimpi. Aku hanya tersenyum memandangnya, suamiku apakah suami – suami diluar sana sama dengan suamiku, aku batin.

Aku yang tadi resah dan gelisah menunggunya akhirnya hanya bisa menarik napas berat melihat dia tertidur dengan lelapnya tapi memikirkan aku tadi resah memikirkannya.

Aku mengambil posisi disampingnya untuk menyusul kealam mimpi.

***

Azan subuh berkumandang, aku mengeliatkan badan. Mataku perih tapi aku harus bangun. Membuka mataku, pandang pertama yang kucari adalah suamiku. Aku hampir terpekik melihat dia tidak ada ditempatnya. Aku mengitari setiap sudut kamar mencari keberadaannya, tak seperti biasanya, jika pulang dini hari aku harus membangunkannya untuk sholat subuh.

Aku mendengar gemericik air dari kamar mandi, mungkin suamiku yang mandi subuh – subuh begini. Lumayan lama aku menunggu suamiku keluar dari kamar mandi. Panel pintu terbuka, aku melihat suamiku keluar dengan handuk dikalungkan di lehernya, harum badanya tercium membuatku tersenyum.

“Pagi pa mandinya?” tanyaku

“Cepat ambil wudhu kita sholat berjamah.” Serunya kepadaku

Aku cembrut mendengar kata – katanya  yang tidak ada romantis – romantisnya dipagi hari, sambil terbirit aku menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.(Bersambung)

***

 

Tinggalkan Balasan

News Feed