Suara mobil memasuki pekarang rumah, aku menanti kepulangan suamiku dengan seribu pertanyaan. Aku melirik jam dinding, jarum pendeknya menunjukkan pukul 12 malam, hatiku dingin sedingin mala mini.
Langkah mendekati pintu kamar, tak lama panel pintu ditekan. Sosok suamiku masuk, melihat terkejut kearahku
“Belum tidur?” suaranya, ada nada lain pada suara suamiku. Aku menekan rasa yang tiba – tiba merasuk kalbku.
“Malam sekali acara reuninya bang. Memangnya besok tidak kerja?” tanyaku, aku berusaha menetralkan suaraku aku tidak mau suamiku curiga kalau aku sudah tahu kebohongannya.
“Pertemuan sekali – sekali jadi pada bercerita masa lalu sampai lupa waktu.” Nada suara yang membuatku muak, sudah bertambah satu lagi bohongnya bisa aku pastikan itu, hatiku sakit, tapi aku berusaha bertahan.
“Ibu tadi menelepon?” aku mengalihkan pembicaraan.
Aku melihat keterkejutan diwajahnya, tapi hanya sekilas.
“Abang tidak jadi kerumah Ibu, tidur sudah malam.” Aku tahu dia menghindariku.
Aku berjalan menuju pintu kamar dengan mengendong anakku yang tertidur pulas, membukanya.
“Mau kemana?” tidur dikamar tamu jawabku ringan
“Lho kenapa harus dikamar tamu?” tanya panik
“Disini panas.” Aku berlalu meninggalkan suamiku
Aku tahu dia mengikuti langkahku, belum juga aku sampai dikamar tamu bahuku sudah dipegangnya. Mata kami saling tatap, ada kilatan yang aku tahu suamiku tahu apa tandanya. “Maaf?’ katanya lirih
“Kita perlu sendiri dulu, jangan menganggu ketenangan tidurnya.” Aku berkata sambil memandang anakku yang dalam gendonganku.
“Lepaskan, dewi lelah mau istirahat.” Tekanan pada suaraku membuat pegangan suamiku perlahan lepas. Aku menekan panel kamar tamu membuka dan masuk, aku menguncinya berjalan menuju tempat tidur airmataku sudah bagaikan bah membajirinya. Hatiku remuk, pecah berkeping – keeping.
***
Sedikitpun aku tidak bisa memejamkan mataku, hari ahad biasanya menjadi hari keluarga. Kami akan membawa buah cinta kami untuk mengenalkan padanya bahwa sehat itu perlu. Setelah shohat subuh kami akan ke alun kota untuk ikut meramaikan suasana dengan jalan santai.
Pagi ahad ini, aku tidak punya tenaga untuk itu semua, aku lelah. Intuisiku sebagai istri mengatakan ada yang lain dari suamiku bukan hanya tadi malam tapi sudah 3 purnama aku merasakannya tapi aku tidak mau berandai – andai, karena taruhannya adalah rumah tanggaku.
Aku mendengar ketukan dipintu, aku malas untuk membukanya kepalaku masih sakit seribu jarum sepertinya menusuk kepalaku. Akhirnya ketukan sekarang dibarengi dengan panggilan namaku
“Wi..Dewi pasti kamu sudah bangun.” Suara suamiku malah membuat kepalaku tambah sakit tadi hanya jarum yang menusuk tapi sekarang bagai dipukul dengan godam besar menghantamnya.
Pelan makin pelan aku mendengar panggilan dan ketukan dipintu kamar, akhirnya aku tidak mendengarkan apa – apa semuanya tiba – tiba menjadi kelabu dan abu – abu.
***
Helusan lembut ditanganku mulai aku rasakan, akhirnya aku membuka mata. Air mataku menetes deras
“Ibu.” Aku mendekap ibu mertuaku
“Kapan Ibu datang.” Aku bertanya lemah
“Ibu yakin pasti ada yang tidak beres waktu kamu menelepon kemaren malam. Padi tadi Ibu paksa Bapak untuk datang kerumah kalian.” Kata Ibu sambil matanya melirik tajam setajam pisau kearah Anaknya Indra.
Aku menoleh kesamping, aku tidak mendapatkan anakku disana
“Putra dibawa bapak bermain diluar.” Ibu menjawab kekhawatiranku
“Ibu tinggal kalian berdua, bicarakan baik – baik.” Menetes kembali airmata tanpa aku sadari
Bang Indra menghampiriku duduk dikursi tempat ibu duduk tadi, aku membalik badanku dan memunggi bang Indra. Sentuhan tangannya di leganku, ku tepis. Ada api yang membara membakar aku, aku marah tapi aku harus menahan diri. Aku tidak mau meledak – ledak di depan mertuaku. Mereka sudah bagaikan orangtuaku sendiri sejak Ibu dan Ayahku meninggal. Bahkan Ibu dan Ayah mertuaku lebih menyanyangi aku daripada Bang Indra yang anak kandungnya. (bersambung)






