Muak

Cerpen, Fiksiana405 Dilihat

Pagi tak lagi memberikan cahaya untuk menyambutnya, sinar matahari selalu terhalang awan yang membuat hariku bagaikan di neraka jahanam. Pusing dikepalaku membuat aku melihat sekelilingku dengan rasa muak yang tak dapat aku gambarkan. Aku mengurut pelan dahiku, tapi rasa mual bercampur nyut – nyut tak mau pergi. Aku memekik dalam hati, kesal ini tak dapat keluar bercokol dalam hati membuat sesak terasa menghimpit di dadaku.

“Ais… mana sarapannya.” Suara itu menambah sesak di dalam dada.

Aku melangkah malas menuju sumber suara, selalu begitu bukannya memberikan uang belanja tapi selalu bertanya mana makanan. Aku memandang kesal ke arahnya

“Mana uangnya?” suara ketusku terdengar

“Ngutang dulu aja di warung, lapar nich.” Tanpa bersalah, selalu begitu

“Ngutang aja sendiri, malu ngutang terus.” Jawabku ketus.

Aku berlalu meninggalkan laki – laki yang sudah 5 tahun menjadi suamiku, entahlah aku berfikir sewaktu aku menikah dengannya otakku lagi error berat.

“Ais!” bentakkannya tidak membuatku menghentikan langkahku.

Langkah berat menghampiriku dan mencekal leganku kasar, kamu itu apa – apaan. Suami lapar bukannya dikasih makan main pergi saja.

“Makan pakai uang Bang, mana uangnya. Masak ngutang terus, kapan bayarnya.” Bentukku keras sambil menepis tangannya dileganku dan terus melangkah.

Suara si kecil dari arah kamar membuat aku sadar, suaraku telah membangunkannya dari tidur tidak lelap. Asiku berkurang karena 2 hari ini harus menahan lapar. Aku mengeluh dalam hati nasib badan, batinku.

***

Hidup semakin susah, sebelum pandemic saja suamiku malas bekerja apalagi sekarang. Dengan alasan takut keluar rumah, dapur kami tambah sering tidak berasap. mukaku sudah terlalu tebal untuk mengutang di warung, ngutang entah kapan bayarnya.

Netraku panas, sudah terlalu sering mengeluarkan air yang tidak mampu aku cegah. Ada sebak di dada. Aku bukan mesin uang pencetak uang, apalagi sudah 6 bulan ini aku diberhentikan kerja hanya karena tidak dapat beroperasi karena corona.

Memeluk si kecil menjadi pengobat sakit hati ini, aku melihat wajah kecilnya yang tidak sesehat anak – anak seumurnya. Mata cekung dan kurus, terakhir ke pos yandu, timbanganya bukan untuk anak normal. Katanya,  kekurangan gizi bagaimana tidak kurang gizi, untuk beli susu uang sudah tak punya. Akhirnya hanya air tajin yang bisa aku berikan jika dia lapar, asiku sudah tidak keluar lagi. Entah karena lapar atau usapan lembutku di perutnya membuat dia terlelap akhirnya akupun ikut terlelap.

***

Denyut dikepala membuatku tersadar dari tidur tidak lelapku, aku melihat dalam dekapku si kecil masih tertidur pulas. Aku meletakkanya di kasur, melangkah keluar kamar, netraku terpaku pada meja TV yang sudah kosong.

Aku berlari mencari suamiku, pasti dia lagi pikirku. Selalu saja barang rumah yang menjadi incaranya jika lapar sudah menyerang perutnya.

“Mana TV-nya?” bentakku kesal

“Jangan bilang hasil menjual TV.” Aku melihat suamiku lagi makan diruang makan

“Aku jual buat beli kebutuhan dapur.” Katanya santai

“Mana sisa uangnya?, bawa sini.” Ucapku kasar

“Habis buat bayar hutang.” Jawabnya sambil menghabiskan makannya

Aku berjalan menuju tempat beras, kosong. Menuju tempat kopi, teh, gula kosong. Akhirnya Aku menuju lemari es, juga kosong. Hatiku dongkol, netraku berapi menatapnya yang masih duduk santai menghabiskan nasi padang yang dibelinya.

“Mana keperluan dapur yang dibeli, semuanya kosong.” Kataku dengan emosi tingkat dewa. Aku mengambil piring makannya

“Tahunya hanya makan dan tidur, Anakmu juga lapar bukan kau saja yang lapar.” Jeritku sambil lempar piring makannya yang sudah ku pegang.

Prang suara piring bertemu dengan seman lantai ruang dapur, bukannya marah atau apalah. Tanpa memandang mukaku, dia berlalu menuju pintu.

“Berhenti.” Jeritku membahana ruang dapur

Bukannya berhenti, tanpa perasaan di pergi meninggalkan aku yang kesal, tidak ada lagi airmata yang keluar. Akhirnya aku berjalan menuju kamar, mengambil tas diatas lemari memasukkan pakaianku dan anakku. Aku harus pergi, aku sudah muak dengan semua ini, ku raih anakku dalam gendonganku. Aku harus keluar dari rumah ini, biarkan corona mengintaiku sama saja dirumah juga aku akan mati karena muak dengan kehidupan yang diberikan oleh suamiku.***

 

Tinggalkan Balasan