Awal Deritaku (part 12)

Cerpen, Fiksiana441 Dilihat

Mencari tempat pakir di rumah sakit ternyata sulit seperti mencari tempat parkir di Mall saja fikirku. Setelah hampir 15 aku melihat ada tempat pakir yang kosong, belum lagi aku membuka pintu mobilku ada nada panggilan telephon yang masuk. Mengambil handphone dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata Indra, aku mengeser tombol hijau untuk menjawab telephone dari Indra

“ Assalamualaikum,” suara Indra terdengar dari seberang sana

“ Sudah sampai di mana?

“ Apa Cahaya tidak jadi menjenguk Ibu?”

Sebelum Indra bertanya lagi aku menjawab

“ Sudah diparkiran, tunggu sebentar.”

“ Ya, sudah Indra tunggu dipintu masuk ya “ aku mendengar suara Indra dari seberang sana. Tanpa menjawab aku mematikan hanphoneku.

Dari jauh aku sudah melihat Indra menungguku di depan pintu rumah sakit, mengembangkan senyumnya ketika melihat aku menghampirinya.

“ Indra pikir cahaya tidak jadi menjenguk Ibu,” aku hanya tersenyum mendengar perkataan Indra. Kami berjalan beriringan menuju lift yang akan membawa kami kelantai dimana Ibu Indra di rawat. Ternyata teman satu kamar Ibu Indra sudah di izinkan pulang, aku memberikan salam dan meraih tangan Ibu Indra serta menciumnya.

“ Ibu sudah kelihatan membaik,” aku membuka percakapan dengan Ibunya Indra.

“ Ibu sudah baik, kan sudah ditengok sama calonya Indra.” Aku tersipu malu mendengar kata – kata Ibu Indra.

“ Ah ibu bisa saja,” aku mendengar Indra mengomentari perkataan ibunya.

“ Siapa bilang Cahaya calon Indra.” Sambil berkata itu Indra memandang wajahku dan tersenyum penuh makna.

“ Kalau bukan calonmu mengapa datang menjenguk Ibu?” aku tersenyum mendengar perkataan Ibu Indra.”

“ Indra tidak pernah membawa perempuan kerumah, Cahaya. Karena itu Ibu yakin Cahaya calonya Indra.” Ibu Indra mengatakan hal yang membuat Aku maupun Indra sama – sama jadi tidak enak.

“ Ibunya nak Cahaya baik – baik saja? bagaimana dengan kedua adiknya pasti patuh dan baik seperti nak Cahayakan? Aku terkejut mendengar perkataan Ibunya Indra bagaimana beliau tahu aku mempunyai saudara, aku melirik kearah Indra. Yang lirik hanya diam memandang Ibunya, sedikitpun Indra tidak melihat kearahku, terpaksa aku menjawab pertanyaan Ibunya Indra

“ Ibu baik, adik – adik cahaya juga baik.”

“ Alhamdulillah, semoga Ibu bisa secepatnya ketemu dengan Ibunya Cahaya.” Aku menelen ludah mendengarkan perkataan Ibunya Indra. Berusaha tersenyum, tapi aku tahu senyumku pasti kaku dilihat Ibunya Indra.

Percakapan di monopoli oleh Ibu Indra, sesekali Indra menimpali kata – kata Ibunya yang membuatku merasa seperti pesakit yang menunggu vonis dokter tanpa bisa berbuat apa – apa,hanya tersenyum dan mengeleng.

“ Sudah sana, ajak Cahaya pergi. Tidak usah menunggu Ibu lagi, inikan malam minggu pasti Indra sudah capek ngurusin ibu beberapa hari ini di rumah sakit. Ibu sudah baikan, besok juga sudah bisa pulang.” Aku terkejut mendengar penuturan Ibu Indra, pasti mukaku sudah seperti udang rebus, merah. Aku tidak tahu mau berbuat apa, epal yang sedang ku kupas untung saja tidak terlepas dari tangan.

“ Iya bu, cerewet baru sembuh sedikit sudah ngusir anaknya.” Aku mendengar suara Indra mengomentari perkataan Ibunya.

Setelah aku meletakkan apel yang ku kupas di dalam piring dan menyerahkan kepada Ibu Indra, salah satu tangan Ibu Indra meraih tanganku dan berkata

“ Ibu mau secepatnya Cahaya menjadi menantu,” aku tersipu malu mendengar perkataan Ibu. Belum lagi lepas rasa Maluku, Indra sudah membuatku malu dengan meraih tanganku dan berkata kepada Ibunya

“ Ya, sudah kami pamitmu mau malam mingguan.” Sambil meraih tangan ibu dan menciumnya. Aku terpaksa melakukan hal yang sama mencium tangan Ibu dan melangkahkan kami menyertai Indra karena tanganku masih dipegangnya.

Sesampai di luar kamar, Indra masih memegang tanganku, mungkin karena perasan aku berusah melepas gengaman tangannya Indra berkata

“ Maaf, aku terpaksa melakukannya. Mudah – mudahan Cahaya tidak marah atas kelancangan Indra memegang tangan Cahaya.”

Aku tidak tahu, perasaan apa yang sekarang ini aku rasakan, aku hanya bisa tersenyum dan mengikuti langkah Indra menuju lift untuk sampai di lantai satu rumah sakit. Di dalam lift kami hanya terdiam, mungkin karena ada beberapa orang di dalamnya sehingga Indra maupun aku tidak tahu harus berkata apa. Setelah keluar dari lift,  Indra meraih tanganku dan mengajak duduk di salah satu kursi yang biasanya dipakai untuk pasien antri dalam berobat. Kami duduk bersebelah dengan posisi Indra melihat kepadaku sementara aku melihat kedepan.

“ Kita ngapain duduk disini.” Tanyaku kepada Indra

“ Indra tahu ini tidak pantas, tapi tidak ada waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan hati pada seseorang. Aku mendengar suara Indra, dengan perasaan yang tidak menentu. Ternyata bukan hanya anak remaja jika lagi ditembak akan deg deg kan, memangnya aku mau ditembak, kan belum tentu mana tahu seperti film india kuch – kuch tai hai hanya sebuah komitmen yang saling menguntung yang akan dibicarakan oleh Indra. Ya komitmenaku butuh Indra dan Indra butuh aku, kami saling membutuhkan untuk membahagiakan orangtua masing – masing. Lama Indra mengantung kalimat yang akan diteruskanya. (bersambung)

 

 

Tinggalkan Balasan