Awal Deritaku (part 15)

Cerpen, Fiksiana388 Dilihat

Mataku terbuka seperti ada yang mengomandaninya, melirik ke jam beker yang terletak di nakas sebelah tempat tidurku. Jam 02.30 dini hari. aku melangkahkan kami menuju kamar mandi, berwudhu dan memulai sholat hajat untuk meminta petunjuk akan pertanyaan Indra. Lama aku berdoa, sampai akhirnya aku tertidur dengan menggunakan mukena dan terbaring disajadah. Sayup – sayup aku mendengar suara Mak memanggil, Astafirullah sudah hampir jam 06 kurang 5 menit, aku belum sholat subuh. Berlari kekamar mandi dan mengambil wudhu, menyelesaikan sholat subuh yang terlambat, berdoa dan keluar kamar.

Hari minggu biasanya aku setelah sholat subuh aku akan mengajak ibu untuk berjalan santai dan akhirnya kami akan ke pasar untuk berbelanja, aku melihat ibu sudah siap dan menungguku dipintu depan. Bergegas aku menghampiri ibu

“ Kalau Cahaya masih penat, ibu kepasarnya sendiri saja. tidak usah jalan pagi.”

“ Assalamualaikum, selamat pagi” aku menoleh ke halam rumah mencari arah suara yang mengucapkan salam.  Seperti tidak percaya aku melihat Indra berdiri depan mobilnya di depan rumahku. Mati aku, sambil memandang Ibu yang menjawab salam dari Indra dan tersenyum ramah kepadanya. Indra berjalan kearah rumahku, meraih tangan Ibu dan menciumnya sambil memandangku dan berkata

“ Mau jalan pagi, barengan sama Indra saja, ayo Bu. Ibu seperti dikomandai mengikuti langkah Indra menuju mobil Indra, Indra membuka pintu penumpang dan mempersilakan Ibu Untuk duduk. Aku masih terpaku di depan pintu rumah,

“ Cahaya ayo, tunggu apalagi” suara indra mengejutkan ku, berjalan ke arah mobil indra duduk di depan karena Indra membukakan pintu depan di samping sopir yang tentunya menjadi tempat duduk Indra untuk mengemudikan mobilnya. Setelah mobil berjalan aku melihat kearah belakang tempat Ibu berada. Ibu hanya senyum – senyum memandang diriku tanpa bertanya apa – apa.

Kami ke taman kota, setelah memakirkan mobilnya Indra membuka pintu untukku dan Ibu. Kami berjalan santai untuk gitari taman kota untuk mencari keringat dan bersantai di hari minggu.

“ Maaf bu, Saya Indra mungkin Ibu terkejut melihat kedatangan saya yang tanpa di Undang.” Suara Indra memecah kesunyian diantara kami. Aku hanya terdiam berjalan sambil memegang tangan Ibu. Jika Ibu mengizinkan saya ingin melamar Cahaya. Ibu dan aku langsung berhenti melangkah kami saling berpandangan. Mata Ibu memancarkan sejuta pertanyaan kepadaku, tapi aku tidak bisa menjawabnya. Indrapun menghentikan langkahnya melihat kami terpaku pada tempat kami berdiri.

“ Ibu harus duduk.”

Aku membawa ibu duduk di bangku yang berada di taman kota, Indra mengikuti langkah kami. Aku duduk di sebelah kanak ibu sementera Indra mengambil posisi di sebelah Kiri ibu,

“ Maaf sebelumnya Bu, saya tahu ini tidak pantas dan melanggar adat tapi saya mau meminta langsung Cahaya kepada Ibu, karena sepertinya Cahaya masih ragu untuk menerima Saya.” Indra berbicara dengan nada tegas dan berwibawa, aku sampai tidak bisa bergerak seperti untuk bernapas saja aku sulit, memegang tangan ibu dengan erat. Ibu menatapku dan kemudian mengalihkan padangan kepada Indra. Apa yang Indra lihat dari Cahaya, bicaralah ibu mau mendengar pendapat Indra tentang Cahaya.

“Maaf Bu, Indra baru mengenal Cahaya selama 1 bulan, Cahaya wanita yang tegar dan kuat. Cahaya bisa menjadi tulang punggung keluarga setelah ayah tidak ada. Yang terpenting Cahaya sangat menyayangi Ibu dan adik – adiknya. Indra sangat terkesan dengan Cahaya bu, Indra sudah sholat hajat meminta petujuk dari Allah. Dan Indra yakin Cahaya adalah jodoh yang dikirimkan oleh Allah untuk Indra. Indra hanya berdua dengan Ibu Indra setelah ayah 3 tahun yang lalu meninggal karena sakit yang dideritanya. Jika Ibu mengizinkan Indra akan masuk melamar Cahaya,”

Aku hanya mendengarkan penuturan Indra kepada Ibu, tidak berani untuk melihat Ibu maupun Indra. Aku takut Ibu marah, setelah mendengar perkataan Indra, lama ibu terdiam dan akhirnya Ibu berkata

“ JIka Indra serius ingi memperistri Cahaya datanglah melamar Ibu tunggu.”

Aku langsung memandang wajah ibu, Indra mengambil tangan Ibu dan menciumnya. Wajah Ibu dan Indra sama – sama memancarkan cahaya bahagia yang tidak dapat aku gambarkan, selama jalan pagi Ibu dan Indra bercerita aku hanya menjadi pendengar setia dari cerita mereka.

“ Ibu kita sarapan dulu sebelum kepasar,” Indra mengajak aku dan Ibu untuk sarapan bubur ayam yang kebetulan mangkal di kebun kota. Setelah makan bubur ayam Indra mengantar kami kepasar. Dengan santainya Indra menawarkan berbagai sayur dan ikan kepada Ibu, membawakan belanjaan dapur seperti Indra yang menjadi anak Ibu saat ini. Aku tidak habis pikir dengan Ibu, apakah segitu inginya ibu mempunyai menantu sehingga kau tidak dipedulikan ibu dari taman kota sampai dengan di pasarIbu asyik dengan Indra saja. aku kadang – kadang tertinggal dibelakang sementara Ibu dan Indra asyik menawar belanjaan untuk dibeli.

Jam sudah menunjukkan pukul 09 pagi akhirnya Indra mengantarkan kami pulang kerumah. Sebelum pulang Indra masih sempat meminta izin untuk mengajak aku untuk menjemput Ibunya di rumah sakit. Tanpa bertanya ibu sudah berkata

“ Mau pergi jam berapa?”

“ Jika ibu mengizinkan saya pulang berganti baju dan menjemput Cahaya kembali.”

“ Silakan, Ibu akan pastikan Cayaha sudah siap sebelum nak Indra menjemput.”

Aku hanya memandang Ibu dan Indra bergantian, apa – apaan ini tanpa meminta persetujuanku mereka sudah membuat janji. Indra menghidupkan mobil dan melambaikan tangannya kearah aku dan Ibu sambil berkata sebentar lagi Ia akan menjemputku.

Ibu melihat kearahku dan berkata

“ Sana mandi dan siap – siap sebentar lagi mau dijemput untukmenengok mertua.”

Aku mengaruk kepalaku yang tidak gatal dan mengikuti ibu masuk kedalam rumah, bagaikan dihipnotis aku menurut saja apa yang dikatakan Ibu, menuju kamarku mandi dan bersiap – siap menunggu kedatangan Indra.

Tidak sampai 45 menit Indra sudah sampai dirumahku, Ibu menghampiriku kamarku dan melihat aku mengenakan jilbab warna hitam yang masuk dengan semua baju. Ibu menegurku dan mengatakan

“ ganti dengan warna jilbab yang cerah, Ibu akan menyuruh Indra menunggu sebentar.” sambil berjalan meninggalkan kau sendiri di kamar. Aku mendengarkan suara ibu memberitahukan kepada Indra untuk duduk dan menunggu aku diruang tamu. Langkah kaki Ibu kembali menuju kamarkau.

“ Itu baru cantik, masak pakai jilbab hitam mau jumpa mertua.” Goda ibu kepadaku.

Kami berjalan beriringan menuju ruang tamu, Indra berdiri melihat kedatanganku dan Ibu. Memcium tangan ibu aku pamit begitu juga dengan Indra meraih tangan Ibu dan pamit. (bersambung)

Tinggalkan Balasan