Awal Deritaku (part 21)

Cerpen, Fiksiana222 Dilihat

Baru saja aku terlelap dikursi dekat ruang ICU, aku terbangun ketika tangan seseorang menyentuh bahuku. Membuka mata dan melihat adikku Azhar di depanku.

“ Ibu bagaimana?

“ Ibu baik – baik saja kak, Azmi menelepn katanya kakak sendiri dirumah sakit. Jadi Azhar diminta untuk menemani kakak. Ibu dengan Mak Long dan Mak Ngah di rumah.” Jelas Adikku Azhar. Azhar duduk disampingku kami hanya terdiam tidak mengeluarkan suara, aku melihat ke arah jam di tanganku. Pukul 2.30 dini hari,

“ kakak ingin sholat hajat”  kataku kepada Azhar, sebelum pergi mencari mushola rumah sakit aku melihat sejenak kedalam ruang ICU untuk memastikan Indra di sana. Pastilah Indra di sana, dia sedang melawan masa kritisnya. Menetes airmataku, dalam hati aku berkata “ Jangan tinggalkan aku.”

“ Azhar disini saja, jika terjadi sesuatu dengan bang Indra ada Azhar.” Kataku

Adikku Azhar hanya mengelengkan kepala, aku berlalu mencari mushola rumah sakit.

***

.

“ Ya Allah, aku hanya minta yang terbaik darimu. Aku tahu semua adalah ketentuan darimu tidak ada dayaku selain menerima ketentuanmu, air mata ini terus saja mengalir sejak aku memulai sholat hajatku. Setelah mengucapkan amin, aku bergegas kembali keruang ICU

“ Sudah ada kabar, “ kataku kepada adikku Azhar.

“ Belum kak.” Aku mengambil tempat duduk di samping Adikku.

“ Kak, tidurlah barang sejenak supaya kakak tidak ikut sakit “

Aku memandang wajah adikku, aku mengangguk dan menyandarkan kepalaku di bawah Azhar, terasa amat lelah.

“ Kalau ada apa – apa bangunkan kakak” pesanku

Tak butuh waktu lama aku tertidur, baru sebenar aku tertidur aku sudah terbangun. Seperti ada tangan yang menyentuh pundakku membuat aku terbangun tapi tidak ada siapa – siapa. Adikku Azhar tertidur dengan menyandarkan badannya ke dinding rumah sakit, aku mengerak – gerakkan badanku terasa pegal sekali. Aku berdiri berjalan menuju ruang ICU, Indra masih terbaring lemah di sana. Aku melihat kea rah tanganku memandang jam tanganku pukul 5.05 sebentar lagi azan subuh terdengar. Aku melihat kembali kea rah Indra, ada pergerakan di sana.

“ Suster , suster aku memanggil suster,” mendengar suaraku adikku Azhar terbangun dan datang kearahku, setelah melihatnya adiku berlari ketempat suster adiku berlari ketempat suster jaga. Aku masih memandang             terus ke dalam, tak lama Azhar datang bersama dokter dan perawat, mereka masuk keruang ICU dari luar aku melihat dokter memeriksa Indra. Memerintah sesuatu kepada suster, tak lama suster keluar dari ruang ICU dan pergi entah kemana aku tidak tahu. Tak lama suster tadi datang membawa sesuatu dan memberikannya kepada dokter. Dokter menyuntikkan sesuatu ke infus yang terpasang pada tangan Indra, tak lama Indra membuka matanya. Dokter mengatakan sesuatu dan Indra sepertinya hanya terdiam saja. Mungkin dokter menyuruh Indra untuk istirahat, karena Indra memejamkan matanya kembali. Dokter meninggalkan Indra di ruang ICU, sesampainya di pintu luar ruang ICU

“ Nona siapanya pasien.” Sambil memandang kepadaku

“ Calon istrinya, dok.”

“ Saya harap Nona bersabar, sepertinya pasien kehilangan ingatanya.” Jelas dokter kepadaku.

“ Tapi kita lihat perkembangannya, semoga dugaan saya salah, berdoalah untuk kesembuhan pasien. Saya tinggal dulu.” Dokter berlalu dari hadapannku.

Aku tidak tahu mau berkata atau berbuat apa yang pasti seluruh badannku seperti tidak bisa bergerak hampir saja aku jatuh ke lantai rumah sakit. Untung saja adikku Azhar cepat meraih badanku sehingga aku masih bisa di peluknya. Sambil memapah aku ke arah tempat duduk yang tidak jauh dari ruang ICU.

“ Sabar kak, itu baru diaganosa sementara, yang pasti bang Indra selamat dari kecelakaan itu sudah Alhamdulillah kata Adikku.

Semuanya seperti novel percintaan yang kubaca ada saja yang menghalangi kebahagianku.(bersambung)

***

 

Indra sudah hampir dua minggu di rumah sakit hari ini, Indra sudah bisa pulang. Aku mengambil cuti 1 hari, walaupun aku tahu ini hanya sia – sia. Indra tidak mengenaliku, sejak ia sadar dari masa kritisnya seperti yang dikatakan dokter padaku waktu itu, Indra kehilangan memorinya entah kapan ia akan mengingatnya kembali.

Aku masih ingat pertama kali Indra melihatku ia hanya memandangku seperti aku hanyalah orang asing yang kebetulan lewat dan melihat keadaanya. Sama sekali aku tidak di endahkan oleh Indra. Indra hanya berkata kepada istri pamannya mengucapkan terima kasih karena sudah mengurus pemakaman Ibunya, pandangan matanya kosong. Tidak ada kata – kata lain yang keluar dari mulut Indra.

“ Indra ini Cahaya. Indra ingat Cahaya?” suara istri paman Indra sambil menujuk kepadaku. Indra hanya mengeleng, sambil berkata

“ Siapa dia Bibi?”

“ Cahaya calon istri Indra, “ istri paman Indra berusaha mengingatkan Indra akan aku. Pandangan Indra kosong menantapku sambil memegang kepalanya yang mungkin terasa sakit.

“ Aku tidak mengingatnya.” Aku memegang tangan Istri paman Indra.

“ Sudah bibi, jangan diteruskan biarkan saja Indra Istirahat dulu.” Sambil memandangku bibi menepuk – nepuk tanganku yang masih memegang tangannya.

“ Kita akan perlahan – lahan membantu Indra untuk mengingat semuanya.”

“ Ya” aku mengangguk mendengar perkataan bibi Indra.

***

Hari ini Indra akan keluar dari rumah sakit, istri paman Indra meneleponku tadi malam mengabarkannya kepadaku. Aku berjanji kepada istri paman Indra untuk datang dan menjemput Indra dari rumah sakit.

Aku mengucapkan salam dan masuk ke dalam kamar rawat inap Indra, bibi sudah di sana. Semuanya sudah siap hanya menunggu kedatanganku untuk mengantar mereka pulang ke rumah Indra.

“ Walaikumsallam” bibi Indra menjawab salamku

Aku berusaha menolong Indra tapi Indra menolak, akhirnya aku membawa tas yang berisi barang – barang Indra selama 2 minggu di rumah sakit.

Aku bagaikan supir saja, sesampainya di mobil Indra meminta istri pamannya untuk duduk dibelakang bersama denganya. Aku hanya menuruti saja permintaan Indra, selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan antara kami. Tidak butuh waktu lama kami sudah sampai dirumah Indra. Rumah yang memberikan kesan tenteram buatku tapi kini aku tidak tahu apakah aku jadi tinggal di sini seperti keinginan Ibu Indra untuk merawat taman bunganya. Indra, ya Indra tidak mengingatku bagaimana aku akan di ajaknya tinggal di rumah yang menjanjikan kenyaman di dalamnya.

Aku melewati jalan dengan taman yang Indah yang semuanya menjanjikan sesuatu untuk masa depanku bersama Indra.

Tak perlu berlama – lama di rumah Indra, tak ada sapa ramah apalagi kata – kata yang membuatku betah disana. Setelah masuk kekamarnya Indra tidak keluar lagi. Aku pamit kepada istri paman Indra,

“ Tidak menunggu dulu.” Terima kasih bibi, biarkan Indra istirahat saja kataku. Sambil mengambil tangan bibi menciumnya, mengucapkan salam dan berlalu. Taman ini menjanjikan semua yang indah sewaktu pertama kali aku menginjakan kaki di rumah Indra. Waktu itu ada Ibu Indra, sekarang beliau tidak ada. Indrapun sudah lupa pada diriku, taman ini hanya menjadi kenangan buatku saja. menetes air mata di sudut mataku cepat ku hapus. Aku tidak mau ada yang tahu bahawa hatiku sangat sakit. Putik kebahagian yang ku harapkan berkembang menjadi bunga akhirnya kuncupnya layu sebelum berkembang.(bersambung)

***

 

Tinggalkan Balasan

1 komentar

  1. Assalamulaikum
    Bu Siti Nurbaya,
    Novel Awal Deritaku sudah sampai episode 21
    Kira kira sampai episode berapa ? YPTD akan usulkan permohonan ISBN
    Terima kasih
    Salam Literasi
    YPTD

News Feed