Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 aku sudah duduk di depan pak penghulu dengan Nia di sampingku.. Aku melihat ke arah pintu. Cayaha berdiri melihat ke arahku dengan sejuta duka dan kantong air mata yang sebentar lagi akan turun, tapi dia menahannya . Aku melihat Cahaya pergi setelah bibirnya mengucapkan sesuatu tapi aku tidak mendengarnya.
Aku tersentak ketika tangan penghulu mengayunkan tanganku untuk menjawab pertanyaanya. Spontan aku melepaskan tangan pak penghulu, memandang Nia sambil berkata
“ Maafkan Indra Nia, kita tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.” Nia terlihat tenang saja
“ Ya sudah, jika kau tidak mau menikahi Nia biar aku saja yang menikahinya. “ aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Andi, sambil memukul bahuku Andi berkata
“ Nia ini calon istriku, aku hanya ingin membantumu untuk mengingat Cahaya, aku yakin kau tidak akan berbuat macam – macam terhadap Nia. Karena itu aku dan bibi merencanakan ini.”
“ Aku tidak mau kau kehilangan tulang rusukmu yang susah payah kau cari,” aku memeluk sahabatku, Andi
“ Terima kasih, Andi “ aku beruntung mempunyai sahabat seperti dirimu
“ Sana, tulang rusukmu sudah pergi jangan biarkan dia sedih terlalu lama.” Aku memandang ke arah pintu, Cahaya sudah tidak ada di sana.
Andi melemparkan kunci mobil ke arahku,
“Hati – hati bawa mobilku.” Katanya
Sambil berlari aku menuju pintu, aku masih bisa melihat Cahaya masuk ke dalam mobilnya. Aku menyusul Cahaya dengan menggunakan mobil Indra, pantai pasti pantai yang menjadi tujuan Cahaya. Setiap kali hatinya gundah pasti pantai yang akan membuatnya tenang.
“ Pantai akan membawa semua dukaku” itu kata Cahaya sewaktu aku bertanya kenapa Cahaya sangat menyukai pantai.
Cahaya memakirkan mobilnya tidak jauh dari pantai, mobilku mengikuti mobil Cahaya dari belakang. Setelah memakirkan mobil, aku mengikuti langkah Cahaya yang mencari sudut untuk duduk memandang laut lepas. Mata indah itu yang selalu membuatku terpana memandangnya sekarang sarat dengan air mata, air mata yang dengan susah payah dia menahanya akhirnya tumpah membasahi pipi. Aku mempercepat langkahku, aku tidak mau lagi air mata itu mengalir karena aku yang membuatnya menderita.
“ Cahaya” aku meletakkan tanganku di bahunya
Cahaya terkejut dengan kedatanganku
“ Indra kenapa ada di sini?” tersendat suaranya mengatakan itu
“ Jangan menangis lagi, Indra sudah mengingat semuanya. Maafkan Indra, aku merengkuh Cahaya dalam pelukkanku, Cahaya menangis tersedu di dadaku.
“ Menangislah, setelah ini Indra tidak akan mengizinkan Cahaya untuk menangis lagi. Maafkan Indra.” Aku mengulang lagi kata maafku.
Ku biarkan Cahaya menangis sepuas yang dia mau, hampir 1 jam Cahaya menangis didadaku. Seperti teringat akan sesuatu, cahaya memandang wajahku
“ bagimana dengan pernikahaan Indra, bagaimana mempelai wanitanya?” masih dengan sedunya Cahaya bertanya kepadaku
“ Cahaya tidak mau menjadi penyebab duka bagi wanita lain.” Suara yang membuatku selalu merasa bahagia, selalu memikirkan kebahagian orang lain di atas kebahagiannya. Aku mengusap pucuk kepalanya yang terbalut jilbab, seperti tersadar Cahaya melepas pelukkan kami, aku tidak mau memaksanya tetap berada di pelukanku aku tahu batasan dan tidak mau membuat Cahaya kecewa denganku lagi.
Cahaya sangat memegang teguh ajaran agama itu yang membuatku jatuh cinta kepadanya. Aku jadi teringat bagaimana aku selalu mengancamnya untuk hanya sekedar dapat bersamanya, sehingga aku memutuskan untuk cepat melamarnya menjadi istriku.
Kami duduk berhadapan. Aku menghapus air matanya. Dengan malu cahaya menatap wajahku membuat aku bahagia teramat bahagia. Setelah tenang dan tidak melihat lagi air mata di matanya indahnya aku berkata
“ Ini semua berkat Andi, sahabatku menggunakan gaya unik untuk mengingatkan Indara akan Cahaya.” Menjawab pertanyaan Cahaya mengapa aku sekarang berada di pantai bersamanya.(bersambung)
***







