Sambil bersiul aku keluar dari kamar mandi, malam tadi tidurku nyenyak sekali tidak seperti malam – malam sebelumnya selalu gelisah memikirkan bagaiman aku harus memenuihi harapan Ibu untuk segera menikah. Cahaya datanglah dalam kehidupan sebagai penerangnya. Jam sudah menunjukkan pukul 07 pagi ketika aku keluar dari kamar, aroma nasi goreng buatan Ibu sudah tercium dihidungku.
“ Harum bau nasi gorengnya Bu”
“ Makan yang banyak sebelum ke kantor “
Sambil sarapan aku tersenyum – senyum sendiri, sampai tidak sadar ibu sudah berdiri dibelakangku dan memberikan pukulan sayang dikepalaku sambil berkata
“ Apa yang difikirkan sampai senyum – senyum begitu”
“ Memikirkan calon menantu ibu”
“ Kamu itu ya, belum juga kenal dengan orangnya sudah bilang menantu Ibu jangan janji kosong lagi nanti kualat.”
“ Janji sekali ini yang namanya Cahaya pasti menjadi menantu Ibu bukan calon Ibu.”
Aku menyakinkan ibu.
“ Ya sudah cepat sarapannya nanti lambat lagi pergi kekantornya.”
***
Pukul 10 pagi, sejak dari rumah aku merencanakan akan menghubungi Cahaya tapi karena masih ada pekerjaan aku menunda untuk meneleponya. Akhirnya waktu untuk menelepon Cahaya tiba, semua pekerjaan sudah selesai. Aku hanya menunggu waktu rapat dengan klien pukul 2 siang nanti.
Aku mendial nomor Cahaya yang aku dapat dari biro jodoh, satu kali dua kali sampai dana terakhir aku tidak mendengarkan nada sambung yang diangkat dari telepon Cahaya. Aku mengulangnya lagi, masih tidak ada jawaban, aku mulai gelisah. Apa – apa ini kenapa aku gelisah, inikan jam kantor mungkin saja Cahaya lagi ada tamu atau bersama kliennya. Aku coba menenangkan diriku, belum apa – apa aku sudah gelisah apakah aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku mengeleng – gelengkan kepalaku, terlalu kuat pesona Cahaya terhadapku.
“ Pak, ada tamu” aku terkejut dengan suara bawahanku yang tiba – tiba sudah ada dalam ruanganku.
“ Kenapa tidak ketok pintu dulu”
“ Maaf Pak sudah beberapa kali saya mengetoknya tapi Bapak tidak”
Belum juga selesai kata – kata bawahanku
“ Hai, ini jam kantor. Makanya jangan melamun, pintu sudah mau roboh juga di ketok tapi tidak perasan.” Suara Andi terdengan nyaring sambil masuk kedalam ruanganku.
Sialan temanku ini memang selalu menganguku saja.
“ Ya, sudah” kataku kepada bawahanku
“ Maaf, dan terima kasih.” Sebelum bawahanku pergi aku sempat memesan minum
“Tolong buatkan kopi manis 2 “
“ Buat saya tidak usah manis karena saya sudah manis” sebelum bawahanku berlalu
“ Manis dari hongkong” memangnya ada apa kesini, tumben – tumbenya jam kantor. Di pecat ya jadi pengangguran. Mau minta kerja, maaf tidak ada lowongan” kataku kepada Andi. Sambil tertawa Andi berkata
“ Memang situ yang pemilik kantor, bisa sembarangan terima kariyawan.”
Kami tertawa bersama, ya Andi memang bisa menjadi sahabat yang paling mengerti aku. Andi tahu kapan aku butuh sahabat, maka ia akan hadir untuk memberikan aku bahu eit jangan salah dulu bukan bahu untuk menangis tapi bahu maksudku adalah pemikiran yang jitu kalau soal perempuang. Hanya saja memang dari dulu aku tidak bisa dengan mudahnya bisa tertarik dengan wanita. Sudah banyak wanita yang dikenalkan Andi padaku, tapi dia tidak pernah bosan mengenalkannya lagi walaupu selalu aku tolak.
“ Jangan – jangan kau pencinta laki – laki Indra.” Pernah olok – olokan ini dikatanya padaku.(bersambung)












