Teleponku bergetar tanda ada panggilan masuk. Aku mengambil handphone dari saku celanaku, melihat ke layar handphone. “ Cahaya “Pucuk di cita ulampun tiba ternyata yang meneleponku adalah Cahaya, aku seperti tidak percaya ternyata yang meneleponku adalah Cahaya. Aku sengaja tidak bersuara, dari seberang sana aku mendengar suara wanita yang telah menebar benih cinta dan sayang, suara merdu yang membuat hatiku merasa lega karena beberapa hari ini memikirkan kesehatan Ibu.
“ Assalamualaikum,” suara dari seberang sana, suara yang baru pertama kali aku dengar sudah membuat hatiku berbunga, aku membayangkan Cahaya yang berdiri di depanku mengucapkan salam sambil tersenyum manis.
Cahaya berjanji akan menjenguk ibu, hatiku sangat bahagia tidak pernah menyangka dia akan memenuhi ajakanku untuk datang menjengkut Ibu.
Aku tertawa dalam hati, aku akan membuat Cahaya tidak akan lepas lagi dari tanganku, dia harus menjadi Istriku. Masuk ke kamar ibu dengan senyum dibibir membuat Ibu langsung bertanya kepadaku.
“ kenapa tersenyum ada yang membuat hatimu bahagia , Indra?
“ Besok menantu Ibu akan datang menjenguk Ibu.” kataku
Ibu seperti tidak percaya mendengar perkataanku, “ Kapan Indra bertemu dengannya?”
“ Cahaya barusan menelepon Indra, Indra meminta Cahaya untuk datang menjenguk Ibu dan ia menyetujuinya.” Kataku lagi
“ Jarang sekali ada yang seperti itu, dia istimewa sehingga mau saja di ajak ketemuan di rumah sakit.” Ibu menimpali kataku.
Aku merenungkan kata ibu, Cahaya memang wanita yang istimewa aku tidak akan melepaskannya ia harus menjadi isteriku.
***
Seperti tidak sabar aku menunggu kedatangan Cahaya, dari pagi aku sudah berusaha menahan hatiku untuk tidak menelepon Cahaya. Aku ingin bertanya kepadanya jam berapa ia akan datang menjenguk Ibu, aku jadi tersenyum sendiri ternyata ada hikmah dengan sakitnya Ibu. Bukannya aku mensyukuri Ibu sakit, tapi dengan keadaan ibu aku bisa bertemu wanita yang sudah menawan hatiku. Doa seorang Ibu selalu manjur, buktinya aku akan bertemu yang pujaan hatiku.
Terlalu lama rasanya jam berjalan, tidak sabar aku menanti kedatangan Cahaya. Ibu melihat keresahaanku, yang dari tadi aku berjalan hilir mudik di dalam kamar rawat inap. Mataku tak lepas dari jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Tinggal 15 menit lagi dari waktu yang dijanjikan Cahaya untuk menjenguk Ibuku, aku pamit kepada Ibu untuk jemput Cahaya di depan pintuk masuk rumah sakit. Sambil berjalan menuju lift lantai 5 yang akan mengantar aku ke lantai satu tempat pintu masuk rumah sakit berada. Hatiku berdoa semoga Cahaya menepati janjinya, pintu rumah sakit sudah di depan mata, aku melangkah melewatinya melihat ke kanan dan kekiri mencari Cahayaku. Akhirnya sosok yang kucari berada di sebelah kanan parkiran. Aku memperhatikannya, mengunci mobil berjalan ke arah pintu masuk rumah sakit.Sengaja aku menelepon Cahaya hanya untuk mengodanya. Aku melihat Cahaya mengangkat telopon dariku sambil tersenyum malu Cahaya menjawab pertanyaanku apakah ia jadi menjenguk ibu. Dengan suara lembutnya Cahaya berkata sudah sampai diparkiran rumah sakit.
Aku masuk kedalam rumah sakit, untuk berpura – pura kalau aku baru turun dari lantai 5 tempat Ibu di rawat untuk menjemputnya. Dengan napas yang aku buat seperti baru saja akan menyusulnya di parkiran aku melihat ia tersenyum melihat aku terengah – engah.
“ Indra senang Cahaya mau menjenguk Ibu, ayo kita ke lantai 5.” Sambil mengajak Cahaya menaiki lift untuk sampai di lantai 5 tempat ibu dirawat. Karena suasana hari ini ramai selama perjalan ke ruang inap Ibu kami hanya berdiam diri saja, aku seperti tidak mau lepas memandang Cahaya. Aku tidak percaya wanita dengan pesona yang membuatku tergila padanya sekarang ada disampingku berjalan menuju ke kamar Ibu.
Saking malunya Cahaya tidak sedikitpun memandang wajahku, sampai – sampai ia melewati kamar Ibu jika aku tidak memanggilnya.
“ Cahaya ini kamar Ibu,” kataku sambil menunjuk pintu kamar Ibu. Wajahnya bersemu merah menahan malu, aku ingin mengusiknya tapi aku mengurungkannya. Tidak sampai hati untuk mempermainkannya. (bersambung)










