Hujan Bawa Diaku(part akhir)

Cerpen, Fiksiana500 Dilihat

Takbir sudah mengema, sebentar tadi sudah ada pengumuman dari Kementrian Agama berdasarkan sidang Isbat tahun ini besok ditetapkan tanggal 1 Syawal. Aku sudah berharap kami sekeluarga bisa bertemu keluarga besar di kampung dengan virtual saja.

Tiba – tiba guruh berdentum dengan kuatnya tanpa ada tanda – tanda hujan turun dengan lebatnya, aku langsung mengadahkan tanganku berharap dengan cemas semoga di kampung tidak hujan seperti disini.

Sekali dua kali nada sambung terus berbunyi tapi tidak ada yang mengangkatnya sampai bunyi suara operator terdengar

“Nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan.” Suara merdu itu  terus mengoceh.

Kami mengulang lagi mendail nomor telepon orangtuaku di kampung, masih respon yang sama. Aku terus berdoa semoga malam ini kami bisa tetap bertemu keluarga di kampung secara virtual. Harapan tinggal harapan sudah lebih dari tiga jam belum juga bisa terhubung.

Aku menghela napas berat, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dengan rasa kecewa yang besar, kami sepakat untuk menelepon besok pagi saja setelah sholat Id. Hujan ternyata membawa diaku dengan derasnya hujan sederas airmataku yang turun karena kecewa tidak bisa bertemu secara virtual dengan keluargaku.***

 

 

Tinggalkan Balasan