Ku Buang Asa (part 2)

Cerpen, Fiksiana360 Dilihat

 

Dua minggu sudah berlalu, aku tidak mendengar kabar dari yang namanya Indra. Tiba – tiba hari ini aku mendapatkan telephone dari nomor tidak di kenal. Untuk telephone pada jam istirahat, jika tidak tidak akan ku angkat.

“ Assalamualikum.” Aku mendenger suara dari seberang sana

“ Walaikumsallam “ jawabku.

“ Maaf dengan siapa ya.”

“ Sudah lupa.”

“ Bapak mencari siapa?”

“ Benar ini ibu Eva? Terdengar suara dari telephoneku

“ Iya saya bu Eva, dengan siapa ya ini.”

“ Ada keperluan apa ya pak?”

Aku tidak merasa memanggil orang tua, lagian aku bukan wali kelas yang seharusnya ditelephone jika ada siswa yang bermasalah.

“ Ibu Eva sudah lupa sama saya?” terdengar suara dari seberang sana

Lama aku memikirkannya siapa sih, yang usil menganggu orang pikirku.

“ Maaf pak saya lupa, saya bicara dengan siapa ya ? sekali lagi aku bertanya.

“ Mungkin karena saya tidak orang penting jadi mudah dilupakan.” Suara  di seberang sana seperti kecewa

“ Indra Laksmana, ingat?”

“ Pak Indra, ada apa ya pak?”

“ Pak ?” aku mendengar suara heran dari telephoneku.

“ Sejak kapan, Eva memanggil saya bapak?”

“ Enak suara tawanya.” Tanpa sadar aku tertawa lepas mendenger pernyataan bang Indra.

“ Iya tersasul bang Indra.” Jawabku atas pertanyaan bang Indra.

“ Eva pikir bang Indra sudah lupa sama Eva, lama tidak ada kabar.”

“ Eva rindu ya sama bang Indra.”

“ Ih, enak saja.”

Terdengar suara tertawa dari seberang telephone sana.

“ Eva tidak mengajar?”

“ Lagi istirahat bang.”

Percakapan kami berlasung selama setengah jam, karena aku harus mengajar. Bang Indra berjanji akan menelepon aku lagi.

***

Tak kusangka, selepas sholat isya aku mendapat telephone lagi dari bang Indra.

“ Assalamualaikum” terdengar suara dari seberang sana.

“ Walaikumsallam.” Jawabku.

“ Ibu Eva lagi ngapain?”

Aku tersenyum geli mendengar suara bang Indra menyebut ibu kepadaku.

“ Ih apa – apaan pakai ibu segala bang Indra.”

Dari seberang sana aku mendengar suara bang Indra tertawa terbahak – bahak.

“ Gantian tadi siang Eva panggil abang dengan pak.” Suara bang indra dari seberang sana.

“ Ada yang penting ya bang, sampai dua kali dalam satu hari bang Indra menelephone Eva?”

“ Iya, ada yang penting.” Jawab bang Indra

Jantungku berdegup kencang, ada apa gerangan yang begitu penting sampai dua kali bang Indra menelephone.

“ Di kantor kekurangan anggota, abang berharap Eva mau pindah ke kantor dinas pendidikan.”

“ Abang sudah merekom nama Eva kemarin pada rapat bulanan kantor .” Kata bang Indra.

Aku terkejut mendengarnya hampir saja handphone yang kupegang terjatuh dari tangganku.

“ Eva, eva dengar apa yang abang katakana.” Aku dengar suara bang Indra dari speker handphoneku.

“ Eva tidak pernah bermimpi mau pindah ke kantor dinas bang.” Jawabku

“ Kenapa bang Indra membuat keputusan tanpa bertanya kepada Eva.”  Kataku.

Aku jadi mengingat percakapan kami setelah 4 hari berkenalan di bazaar MTQ kemaren.

“ Eva sudah ASN?”

“ Belum bang.”

“ Mau kalau pindah ke kantor dinas pendidikan.” Lagi ada kekurangan personil.

“ Abang bisa merekomkan Eva, kalau Eva mau?” kata bang Indra.

“ Entahlah, Eva tidak pernah berpikir kearah situ bang.” Jawabku.

Tapi menurutku percakapan kami hanyalah percakapan kosong, dari dua orang yang baru berkenalan. Aku tidak menganggap percakapan itu serius.

Apakah hanya karena itu bang Indra berani mengajukan namaku sebagai kandidat baru di kantornya, terlalu berani pikirku.

“ Eva, Eva masih ada di sana?” aku mendengar bang Indra memanggil namaku dari speker handphone, mungkin karena lama aku berdiam diri sehingga bang Indra memanggil –manggil namaku lagi.

Tiba – tiba aku di kejutkan oleh satu tepukan dipundakku

“ Eva pasti kamu menghayal lagi.” Aku memandang kearah datangnya suara.

“ Ibu, mengagetkan saja.” ternyata ibu Lina yang menepuk punggungku.

“ Masih memikirkan Indra, anak dinas pendidikan ya.”

“ Tidak bu.” Jawabku berbohong.

Sudah beberapa minggu berlalu MTQ Kabupaten, aku selalu mengarang – ngarang cerita di kepalaku akan bertemu kembali dengan bang Indra. Seharusnya aku menjadi penulis novel saja.

Bukankah guru juga seorang penulis, setiap hari menuliskan agenda mengajar mengenai perkembangan pembelajaran dan perkembangan siswa – siswanya selama di ajarnya.

Aku tersenyum kearah bu Lina yang duduk di sebelahku, aku  mencoba – coba menulis cerita cintaku yang mungkin hanya sebatas asa. Arena MTQ menjadi cerita tersendiri dalam cerita cintaku.***

 

 

Tinggalkan Balasan