Celoteh Nyakbaye, Cerpen “Merekam Hari (4)”

Cerpen, Fiksiana, KMAB404 Dilihat

Menatap lemah pintu rumah, dengan berat hati aku menekan handel pintu. Mengambil napas sebanyak – banyaknya, sambil mengucap salam kebiasan yang sudah ditanamkan dari aku kecil.

Netraku langsung bertabrakan dengan netra Bang Putra yang lagi duduk di ruang tamu, Bang Putra tidak sendiri ada seseorang yang menemaninya, menelisik penampilanya yang modis membuatku rendah hati. Tapi aku tetap melangkah masuk ke dalam, tidak ada jawaban salam dari mereka berdua. Walaupun jarak duduk mereka terhalang meja tamu tapi aku tahu ada sesuatu diantara mereka.

“Mak menelepon Abang sebaiknya abang menelepon Mak balik.” Ucapku sebelum menghilang di balik pintu ruang tengah, aku menyempatkan diri menyampaikan pesan dari Mak mertuaku.

Menutup pintu kamar, bukan bermaksud tidak menghargai tamu tapi aku tidak mau menganggu kebersamaan mereka.

Aku merekam hariku bersama Bang Putra, selama enam bulan ini belum pernah aku dikenalkan dengan lingkungan kerjanya. Yang aku tahu Bang Putra kepala sekolah pada sekolah negeri di kabupatenku, kami menikah tapi belum mengadakan pesta, desakan Mak Ngah alias Mak Bang Putra kami menikah yang dihadiri keluarga besar yang lumayan banyak sedangkan hanya satu teman Bang Putra yang hadir, sedangkan aku yang baru saja melepaskan diri dari sekolah menengah atas selama enam bulan tidak dapat mengundang teman – temanku karena mereka asyik dengan lingkungan baru baik di kampus atau tempat mereka bekerja.

Aku berusaha merekam semua kejadian selama enam bulan kebersamaan kami, aku bagaikan adik kecil yang selalu dijaga oleh Bang Putra selama ini. Perlakuan kecil Bang Putra selalu aku anggap berlebihan mungkin karena rasa sukaku kepadanya sejak kecil, tapi apakah Bang Putra punya rasa yang sama dengan diriku.

Keraguan melanda, rekaman selama enam bulan ini seperti cermin yang berputar tidak ada perlakuan istimewa kami hanya dua orang yang sekali lagi terkurung dalam satu ruangan yang nama rumah. Aku yang berusaha menjadi istri tapi apakah Bang Putra berusaha menjadi suami untukku, entahlah.

Jika aku tidak memaksa Bang Putra untuk sarapan, apapun yang aku sajikan akan dingin di meja makan. Pemaksaan untuk mencium tangannya sebelum berangkat kerja serta pulang kerja, untuk menunjukkan bakti sebagai istri diawal pernikahan kami baru sebulan terakhir ini seperti rutinitas mungkin Bang Putra sudah terlalu lelah dengan pemaksaan dari diriku.

Selalu aku yang membuat suasana ramai di rumah yang hanya kami berdua penghuninya, sementaranya Bang Putra bagaikan orang yang sakit gigi selalu diam dengan muka yang ditekuk.

Ya Allah mengapa baru sekarang aku tersadar bahwa aku tidak melihat kebahagian di netra Bang Putra selama kami menjadi pasangan suami istri.

Netraku melepas air bening yang keluar deras, setelah semua rekaman selama enam bulan ini menyesakkan dadaku, apakah aku salah menerima permintaan Mak Ngah untuk menjadi menantunya.

Sesak di dada semakin menjadi, terlalu banyak yang aku pikirkan tanpa terasa aku tertidur di sudut ranjang. Tertidur dalam keadaan duduk.

***

Bersambung

Tinggalkan Balasan