Ada Sesuatu (part 2)

Aku masih menunggu motor Faiz lewat, tapi sampai jam segini aku belum melihat bayangannya. Dengan malas aku terpaksa menyetop oplet yang lewat daripada aku terlambat datang ke sekolah.

Aku masih menduga – duga apa yang menyebabkan Faiz berubah sikap kepadaku, sudah sepekan Faiz tidak membalas Chatku.

Melihat keluar jendela oplet tanpa sengaja mataku melihat motor Faiz melintas, berarti Faiz baru saja keluar dari gang rumah kami. Apakah Faiz sengaja tidak lewat, batinku lemah. Apa salahku, aku terus berfikir apa yang membuat Faiz mengacuhkanku tapi pikiranku tidak menemukan jawabannya.

Turun dari oplet aku melihat sekelebat bayangan Faiz yang berjalan menuju kelasnya, tapi aku tidak berniat untuk mendekatinya. Kalau Faiz memilih untuk menghindariku, maka harus mau tahu diri, batinku lemah.

***

 

Sebulan telah berlalu hidupku sepi tanpa kehadiran dan chat dari Faiz, aku juga tidak pernah melihat batang hidung Faiz disekolah ada yang kosong dalam relung hatiku. Tapi aku malu untuk menghampiri Faiz dirumah, begini – begini aku masih tahu diri masak anak perempuan yang harus mencari dulu. Aku menahan napas berat sebelum aku menghembuskannya kembali, semua yang sudahku baca tidak satupun yang melekat di kepalaku.

Aku sengaja duduk diteras rumah hanya untuk dapat melihat Faiz melintas jika dia harus mencari sesuatu. Terus menatap kejalan masih tetap berharap akan kemunculannya.

Aku masih terduduk lemah di kursi depan teras rumahku, sudah hampir magrib sebenarnya aku masih mau menunggu, mana tahu aku akan melihat Faiz. Tapi suara Ibu dari dalam sudah mengingatku untuk masuk, tabu katanya jika duduk diluar ketika azan berkumandang. Akhirnya aku harus menurut tidak mungkin hanya karena Faiz aku akan melawan apa yang dikatakan Ibu.

Selesai sholat magrib aku bergegas menuju ruang tam, mengintip keluar jendela berharap Faiz akan melintas di depan rumahku. Aku sudah bertekat untuk menghadang Faiz dan bertanya kepadanya mengapa sampai sepurnama dia mendiamkanku.

Mataku menatap tak percaya pandangan di depan rumahku, akhirnya aku melihat Faiz dengan cepat aku menekan panel pintu ruang tamu dengan berlari kecil aku menuju jalan didepan.

“Faiz.” Panggilku berharap Faiz berhenti, tapi Faiz mengacuhkan aku

“Faiz, apa salah Ais. Jika Ais bersalah, Ais minta maaf.” Kataku dengan sengaja memperkuat suaraku. Aku melihat Faiz berhenti dan berbalik memandang ke arahku.

“Ais lupa dengan kata – kata sendiri.” Katanya berusaha menyudutkan Aku

“Iya Ais lupa jika Ais sudah menyakiti hati Faiz.” Jawabku jujur

“Ais tidak berharap Faiz menghukum Ais karena Ais benar – benar tidak merasa membuat Faiz marah.” Aku berusaha menjalin komunikasi dan memecahkan permasalahan kami.

“Jika tidak merasa bersalah kenapa Ais tidak pernah mengatakanya kepada Faiz.” Faiz masih berkeras bahwa aku bersalah.

“Faiz kita sudah berkawan dari kecil, tak seperti biasanya Faiz menghindari Ais bukan, tapi sekarang Faiz menghindari Ais. Sudah sebulan Faiz menghindari Ais, Ais sudah berusaha mendekat tapi Faiz semakin menjauh.” Kataku emosi

Aku meninggalkan Faiz setelah mengeluarkan semua yang membeku di dalam hatiku, percuma juga aku berusaha berbaikan jika Faiz tidak mau mengatakan kesalahan aku apa?

Aku menghemas pintu depan dengan keras, dan berlari menuju kamarku dengan air mata yang dengan susah payah aku tahan. Akhirnya air mata ini terjun bebas setelah aku berbaring di kasurku. Aku kesal dengan Faiz yang marah padaku sedangkan aku tidak merasa membuat salah kepadanya.(bersambung)

Tinggalkan Balasan