Aku mematut diriku didepan cermin, cantik batinku senyum mengembang di bibir yang membuat mabuk yang melihatnya bagaimana tidak bibirku merah alami tidak perlu menggunakan lipstick untuk membuatnya merah, bak merah delima kata orang tua jaman dahulu. Aku melangkahkan kaki meninggalkan kamar puas dengan penampilanku hari ini berjalan menuju motor matic kesayanganku.
Sepanjang jalan aku bersenandung, hatiku berteriak gembira bagaimana tidak hari ini pujaan hatiku yang masuk ke kantor seperti biasanya setelah hampir sepekan tugas keluar kota akhirnya rinduku akan terlepaskan.
Senyumku semakin mengembang melihat ujung kantorku sebentar lagi aku akan memakirkan motorku, hanya tinggal beberapa menit lagi aku akan memandang wajah yang sudah seminggu ini menganggu mimpiku sehingga tidurku tidak nyenyak. Aku menghitung langkahku dengan degup jantung yang sungguh membuatku takut ada yang mendengarnya. Berjalan pelan melewati resipsionis kantor memaparkan senyum yang mengandung pesona bukan hanya untuk pria tapi wanita juga menganggumi senyumku.
Lantai kantorku sudah terlihat, aku menghempaskan badan duduk di kursi kebesaranku memastikan semua tersusun rapi sebelum pujaan hatiku menampakkan dirinya yang sudah membuat rinduku menggunung, tak lepas senyumku menanti kehadirannya.
Detak jam dinding seakan berpacu dengan detak jantungku, aku memegang dadaku memastikan detaknya tidak menganggu orang yang berada disekitarku. Kupandangi lagi jam sudah lewat dari kebiasaan pujaan hatiku, tidak biasanya dia datang terlambat tapi hari ini sudah lebih satu jam keterlambatannya. Aku bulak balik memandang jam dinding dan pintu di depanku memastikan jangan sampai sosok yang sudah sepekan ini aku rindukan tidak lepas dari pandanganku.
“Jo, pak Bos belum datangkan.” Aku bukan bertanya kepada OB yang kebetulan lewat di depanku hanya memastikan keberadaan pak Bosku.
“Lho, ibu tidk tahu ya.”
“Apa.” belum selesai ucapan OB kantorku aku sudah bertanya
“Kita punya bos baru bu, tapi belum masuk mungkin besok baru kita ketemu Bos baru kita.” Ucapan OB yang panjang lebar tidak menjadi perhatianku.
“Kok bisa aku tidak tahu, hatiku kalut, kenapa sampai aku tidak tahu, batinku menjerit.







