Priiiit bunyi peluit panjang, berakhir sudah pertandingan hari ini. Aku melihat senyum puas dari pelatih, semua anggota tim bersorak gembira. Akhirnya kami menang juga, aku bernapas lega, akhirnya bisa juga kami menang.
Sudah 2 tahun anggota tim volley sekolahku meraih juara tapi isu – isu yang didengar sungguh tidak enak dikuping. Apalagi aku sebagai kaptern tim sungguh merasa geram mendengarnya, bagaimana tidak kami sudah bersusah payah berlatih, sampai – sampai kami melupakan bahwa pelajaran lebih penting daripada ekskul tapi mau dikata apalagi, tak semua yang suka ekskul bisa belajar dengan baik. Termasuk diriku, yang otaknya hanya so – so saja.
Mengingat sudah hampir 3 bulan berlatih hanya untuk meraih juara, aku jadi teringat kata pepatah jangan hanya jadi jago kandang. Aku jadi sedih, bagaimana tidak, dalam ekskul aku jagonya tapi dalam belajar aku hancur. Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan ceramah dari walikelas yang sebenarnya sangat baik, tapi mungkin karena aku yang melalaikan tugasku sebagai siswa akhir aku kena damprat habis – habisan olehnya
“Yul, ini bukan yang pertama kali ibu ingatkan kamu masalah membagi waktumu dengan ekskul yang kamu ikuti.” Aku melihat walikelasku menarik napas sebelum melanjutkan perkataanya.
“Sudah 4 orang guru melapor, selain hasil ulangan kamu yang jelek, kamu juga tidak mengumpulkan tugas. ingat Yul, sekolah harus seimbang antara pelajaran dan ekskulnya bukan kamu lebih mementingkan ekskul saja.” Suaranya menyiratkan bahwa dia sungguh kesal dengan aku melalaikan tugas – tugas sekolahku karena turnamen bola volley antar sekolah ini.
“Seharusnya semangat olahraga kamu tanamankan juga dalam belajarmu, sehingga meningkatkan nilaimu. Ibu yakin karena kamu rajin berlatih makanya permainanmu hebat. Coba kamu bayangkan jika kamu juga berlatih untuk semua mata pelajaran, saya pasti akan jadi juara kelas.” Mata itu menatap tajam setelah menyelesaikan ucapannya.
Aku tidak sanggup untuk melihat mata itu, akhirnya aku menundukkan wajahku memandang lain ruang majelis guru.
“Saya sudah meminta kelonggaran mengumpulkan tugas dari guru matapelajaran yang kamu lalaikan, hanya seminggu ingat itu. sekarang kembalilah ke kelas.” Aku memandang wajah walikelasku dan mengangukkan kepala mengucapkan salam dan meninggalkan ruangan majelis guru.
***
Aku termenung di dalam kamar, dengan setumpuk tugas yang aku lalaikan selama berlatih mengikuti turmanen.
Panel pintu kamarku terbuka
“Yul makan dulu, dari tadi ibu tidak keluar kamar. Ini sudah pukul 2 siang.” Ternyata ibu yang masuk ke kamarku
“Apa yang kamu kerjakan.” Ibu melangkah mendekatiku dan melihat semua buku yang berserakan dimeja belajarku
“Banyak tugas ya…Yul.” Ibu bertanya. Aku hanya menggangukkan kepala, jika jangan sampai Ibu bertanya lagi, doaku dalam hati .
“Makan dulu.” Setelah mengatakan itu Ibu keluar dari kamarku.
Aku bergerak malas menuju ruang makan, aku tidak punya nafsu untuk makan tapi jika aku tidak makan pasti Ibu akan masuk lagi ke kamar, batinku.
***
Aku melirik jam beker di meja belajarku, sudah pukul 12 malam tapi tugasku masih ada 2 yang belum selesai. Aku menghembuskan napas berat, besok aku harus mengumpulkan semua tugas bagaimana ini. Tidak mungkin aku berbohong mengatakan aku sakit, pasti Ibu tidak mau menandatangani surat sakitku, nyatanya hari ini aku baik – baik saja.
Aku memutar otakku, memikirkan bagaimana besok aku tidak sekolah dan ada waktu untuk mengerjakan tugas yang belum selesai.
Ya Allah, aku jadi teringat dengan nasehat walikelasku
“Orang yang berbohong itu harus hati – hati, karena satu kebohongan harus ditutupi dengan kebohongan lain. Kalian mau tahu, sebenarnya orang pembohongan itu pintar. Mau tahu kenapa saya mengatakan pintar. Coba kalian fikirkan, dia berfikir keras untuk mengarang cerita supaya dipercaya oranglain. Bukankan itu sulit, karena itu saya mengatakan orang yang pembohong itu pintar.” Aku tersenyum kecut mengingat nasehatnya
“Coba dia menggunakan kepintarannya untuk hal yang positip tentu lebih bermanfaat.” Ah nasehat itu seakan menusuk hatiku, aku jadi malu dengan diriku sendiri.
***
Seperti mimpi aku sudah berada di sekolah, aku duduk di depan walikelasku yang hari ini wajahnya tidak seperti biasa. Aku melihat matanya memerah seperti ada api di dalamnya memandangku
“Sudah kamu kerjakan tugas yang Saya katakana, pasti belumkan. Jangan hanya diam jawab Ibu.” Aku ngeri melihat kemarahannya
“Kamu saya skor dari sekolah, sekarang pulang dan berikan surat ini kepada orangtua. Pulang sekarang jangan membuat saya tambah marah.” Suaranya seperti petir di siang bolong yang panas sangat mengejukan, jantungku hampir berhenti. Aku bisa pastikan wajahku pasti seputih kapas dan bagaikan mayat hidup sekarang. Aku tidak bisa berkata – kata.
“Bu…maaf saya jan.” belum selesai ucapanku
“Sana pergi, kamu tidak dengar perkataan saya tadi.” Airmataku menetes, sungguh aku menyesal. Tapi aku berusaha, karena aku tidak mau bohong hari ini aku datang. Tapi kenapa walikelasku malah memarahiku, bukannya memberikan aku kesempatan, batinku.
“Yul…ya Allah badanmu panas sekali.” Samar – samar aku mendengar suara Ibu, dimana aku.
***
Matamu panas, badanku terasa sakit semua. Aku berusaha mengerakkan tanganku terasa perih. Ada yang menusuk dilenganku, aku mencoba memperhatikan tanganku. Mataku langsung terbuka lebar walaupun masih terasa panas.
Aku dimana, kenapa ada infus ditanganku. Aku coba memperhatikan ruangan, ini bukan kamarku. Panel pintuku terbuka, Ibu masuk di belakang Ibu ada walikelas dan beberapa temanku.
“Sudah bangun Yul.” Suara Ibu memanggilku
Senyum terukir dibibir wali kelas, satu persatu temanku mengelilingi tempat tidurku mereka.
“Yul…bagaimana perasaanmu?” tanya walikelasku.
“Alhamdulillah kamu sudah sadar, Ibu khawatir dengan kondisimu. Ibumu mengatakan kamu terlalu lelah mengerjakan tugas – tugasmu sehingga kamu pingsan dan segera dibawa kerumah sakit.
Aku mengingat – ingat kejadian itu, ternyata aku terlalu kebawa fikiran sehingga bermimpi jika wali kelas memahariku.
“Maaf bu, Yuli salah.” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku penyelasan yang dalam kini bersarang didadaku.***










