Mahluk Apa Sih Itu Yang Bernama Gender?

APA SIH ITU GENDER? (2)

Oleh Sitti Rabiah 

Hari kedua pelatihan jurnalistik gender dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) berlangsung semakin seru. Pelatihan digelar Kamis-Jum’at, 2-3 November 2017, di Hotel The Margo Depok, Jawa Barat

Materinya “Pelatihan Pengarusutamaan Gender (PUG), Pemberdayaan Perempuan (PP) dan Perlindungan Anak (PA) Bagi SDM Media”. 

Pemateri kali ini adalah Budi Hartono, Kepala Bidang Fasilitasi Partisipasi Media Elektronik dan Sosial KPP-PA menjelaskan apa itu kata Gender dengan membagikan dua lembaran kertas kecil kepada semua peserta pelatihan ini.

Kertas kecil tersebut adalah satu berwarna merah dan yang satunya lagi berwarna hijau. Kertas hijau untuk menuliskan apa yang ada di pikiran kita tentang apa itu laki-laki. Begitu pun dengan kertas merah untuk menuliskan apa yang ada pada pikiran kita tentang perempuan.

Pada kertas merah dan hijau timbul berbagai macam jawaban. Ada yang mengatakan laki-laki itu pemimpin rumah tangga, sedangkan perempuan adalah pelaksana rumah tangga. Ada juga yang mengatakan laki-laki itu perkasa dan perempuan itu manja. Juga ada yang mengatakan laki-laki itu pemimpin dan perempuan itu di dapur, dan berbagai macam jawaban yang lucu dan aneh.

Nah…akhirnya pak Budi mengatakan bahwa urusan gender bagi laki dan perempuan bisa terbolak-balik atau berganti peran. Bisa juga sama, bisa juga berbeda. Jadinya bisa dinamis dan bisa juga setara.

Laki-laki dan perempuan terlahir memiliki jenis kelamin bersifat kodrat dari Ilahi yang sifatnya melekat dan tidak bisa dipisahkan atau ditukarkan, sifat tersebut universal dan kekal. Nilai-nilai sosial budaya tempat laki-laki dan perempuan tersebut hidup, memberikan atribut-atribut sosial kepada laki-laki dan perempuan. Atribut inilah yang disebut “Gender”.

Itulah..kesimpulan dari pemateri yang pertama, yaitu pak Budi. Sambil menunggu pemateri selanjutnya semua peserta dipersilahkan ngopi atau ngeteh dulu, karena sudah sore dan ruangan semakin dingin.

Drs H. Kamsul Hasan, SH, MH, Ketua Komisi Kompetensi PWI Pusat (dok pribadi)

Pemateri selanjutnya adalah Drs H. Kamsul Hasan, SH, MH, Ketua Komisi Kompetensi PWI Pusat sebagai fasilitator pelatihan membawakan materi seputar “Pelatihan Jurnalistik Sensitif Gender Untuk Pers Kampus”.

Pak Haji Kamsul adalah dosen di beberapa kampus, juga mantan ketua PWI Jaya selama 2 periode. Materi yang dibawakan sungguh berat dan membutuhkan pemikiran yang sangat tinggi.

Begitu materi Pak Haji ditampilkan di layar infokus, perlahan-lahan saya menuang air minum ke dalam gelas, mengambil permen dan kertas serta pinsil yang sudah disiapkan dari awal.

Wah….materinya ternyata berbagai macam undang-undang. Ada Undang-undang Perlindungan Anak, ada Undang-undang Penyiaran, ada Kode Etik Wartawan bahkan ada Undang-undang ITE. Hm…lumayan berat.

Tidak terasa tiba saatnya waktu adzan Maghrib, materi pak Haji Kamsul Hasan dihentikan sejenak. Mas Harie sebagai MC meminta para peserta pelatihan untuk beristirahat, dan menjalankan ibadah sholat Maghrib bagi yang Muslim. Pukul 18.00 WIB makan malam bersama.

ANAK TANPA AKTE LAHIR

Pelatihan dilanjutkan pada pukul 20.00 WIB malam, setelah makan malam. Materi yang dibahas masih tentang Undang-undang Penyiaran dan Undang-undang Perlindungan Anak. Karena waktu sudah malam, tiba waktunya untuk sesi tanya jawab.

 

Di antaranya saya sendiri menanggapi pernyataan dari salah seorang penanya, yang saya sendiri tidak menyimak siapa namanya. Pertanyaan dari penanya tadi menarik perhatian, sebab kebetulan saya adalah seorang pendidik anak usia dini, sekaligus kepala sekolah TK dan PAUD di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Beliau menanyakan ke Pak Haji Kamsul, bagaimana anak yang lahir tanpa ada akte?

Pernikahan kedua orang tuanya merupakan pernikahan Siri alias nikah di bawah tangan, yang artinya nikahnya tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA).

Nah sebagai pendidik anak usia dini, persoalan seperti ini sering saya jumpai terutama dalam setiap kali penerimaan murid baru di sekolah saya. Jika orang tua anak dari hasil pernikahan Siri, berarti anak tersebut biasanya tidak mempunyai akte lahir, karena syarat utama untuk mendapatkan akte lahir yaitu harus ada surat nikah dari kedua orangtuanya.

Saya menambahkan pula, berarti jika ada anak yang mendaftar sekolah tanpa ada akte lahir, berarti anak ini tidak diterima sekolah, karena hubungannya dengan ijasah nantinya. Baik di TK maupun SD.

Pak Haji Kamsul menyampaikan bahwa, anak hasil nikah Siri ini masih diperdebatkan, apakah nantinya bisa mendapatkan akte lahir dengan hanya mencantumkan nama ibunya saja? Pernyataan ini masih harus ditelusuri lagi kepada para pakar hukum dan pakar pendidikan.

Nah…karena sudah larut malam Pak Haji Kamsul memberikan tugas yaitu membuat “Rencana Liputan Perspektif Gender”. Tugas ini ternyata diperlombakan esok paginya. “Jika tugas ini berhasil diselesaikan dan hasilnya dianggap bagus, maka akan mendapatkan juara dan diberikan hadiah”, kata Pak Kamsul. Wah…semua peserta akhirnya pada semangat, walaupun sudah pada ngantuk dan lelah.

MEMBUAT RENCANA LIPUTAN

Keesokan paginya Jum’at 3 November 2017, pukul 07.00 WIB sarapan, ngeteh dan ngopi di resto The Margo. Sungguh makan pagi yang mewah dan enak-enak, berbagai makanan sudah disiapkan…hm..hm..hm Alhamdulillah luar biasa. Emang KPP-PA ini sudah menyiapkan sedemikian rupa, sehingga kami para peserta pelatihan dapat memanjakan lidah sejenak.

Pukul 08.00 pagi acara dimulai lagi. Tugas dari Pak Haji Kamsul sudah diberikan sebelum acara dimulai. Materi Pak Haji masih dilanjutkan, Mas Harie sebagai MC mengingatkan bahwa acara pelatihan ini diakhiri pada pukul 11.00 WIB berhubung hari Jum’at, dan para kaum lelaki akan menuju ke masjid untuk sholat Jum’at.

Di acara penutupan, diumumkan pemenang Juara Lomba Pembuatan Rencana Liputan Perspektif Gender

Alangkah kagetnya karena nama saya juga disebutkan di antara ketiga nama pemenang. Oh..Subhanallah hari ini kejutan buat saya, karena tidak menyangka akan dapat juara di mana masing-masing mewakili asal peserta yakni kategori media, blogger dan mahasiswa. Saya diumumkan sebagai juara atas nama blogger.

Semoga pelatihan berikutnya lebih heboh dan lebih dasyat lagi, sehingga bisa mendapatkan temuan-temuan isu yang bisa dibawa dan dibahas bersama yang akhirnya didapatkan solusinya. Amin.

Sukses selalu untuk KPP-PA RI semoga Allah SWT selalu meridhoi segala usaha untuk memajukan masyarakat Indonesia (Selesai)

Sitti Rabiah #KMAA Bagian 12

Tinggalkan Balasan