
Hari ini saya diminta oleh kakakku yang ketiga untuk menemaninya ke kampung sebelah. Namanya kak Eni. Beliau ingin menjenguk ibu mertuanya yang sedang sakit keras. Kami berangkat ke sana dengan berjalan kaki. Rumah kak Eni dengan rumah mertuanya kira-kira hanya berjarak satu kilometer saja.
Setiba di sana, kami bertemu dengan beberapa keluarga dari pihak suami kak Eni. Ada yang sedang duduk-duduk sambil mengobrol di teras depan, ada yang asyik menonton video di gawainya, ada juga yang berbincang dengan adik ipar kak Eni di kamar.
Kami berdua disambut dengan hangat oleh si empunya rumah. Kami langsung menuju kamar mertua kak Eni. Kulihat kondisi beliau sangat memprihatikan. Tubuhnya sangat kurus dan mulutnya sedikit terbuka. Matanya terpejam dan dadanya naik turun dengan sangat perlahan. Raut mukanya tampak seperti menahan rasa sakit. Aku sangat sedih melihatnya.
Di masa sehatnya dulu, beliau sangat aktif beraktivitas. Badannya yang sedikit tambun tidak mengurangi semangatnya untuk bekerja di rumah dan berkegiatan di luar rumah. Beliau adalah istri seorang kepala desa sekaligus ibu rumah tangga. Beliau memiliki banyak kegiatan bersama ibu-ibu di desanya itu.
Pak desa telah meninggal dunia empat tahun yang lalu. Sejak saat itu, beliau sudah mulai sakit-sakitan. Empat hari yang lalu, kak Eni mendapat kabar bahwa ibu mertuanya terjatuh di kamar mandi dan tidak sadarkan diri. Akan tetapi saat itu, kak Eni juga sedang tidak enak badan. Jadi, baru hari ini beliau bisa menjenguk mertuanya.
Suami kak Eni memiliki empat orang saudara, 3 laki-laki dan 1 perempuan. Semua saudaranya telah berkeluarga dan memiliki rumah masing-masing. Yang tinggal bersama ibunya adalah adik perempuan satu-satunya. Saat ibunya pingsan, saudara perempuannya itu sedang tidak di rumah. Beruntung ada tetangganya yang juga masih ada hubungan keluarga dengan mereka yang membawanya ke rumah sakit.
Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata mertua kak Eni terkena stroke. Tiga hari lamanya beliau dirawat di rumah sakit. Namun, tidak ada tanda-tanda kesembuhan. Malahan anggota badan beliau semakin tidak berdaya. Tangan dan kakinya sebelah kiri tidak dapat digerakkan lagi.
Hari keempat, seluruh keluarga sepakat untuk meminta pulang. Rencananya, beliau akan menjalani terapi dan rawat jalan saja. Setiba di rumah, ternyata kondisinya semakin memburuk. Sewaktu masih dirawat di rumah sakit, beliau masih bisa berbicara meskipun terbata-bata. Saat ini, tak satupun kata yang terucap. Beliau hanya mengangguk dan menggeleng lemah jika ada yang berkomunikasi dengannya.
Saya sangat sedih melihat beliau. Saya teringat pada mendiang ummiku yang baru beberapa bulan ini meninggalkan kami semua kembali ke alam baka. Saya tidak sanggup menahan airmata yang mulai menderas.
Entah mengapa, setiap kali saya melihat ibu-ibu tua yang sedang sakit, selalu saja hatiku teriris. Rinduku pada ummi sudah tidak tertahankan lagi. Saya ingin sekali berjumpa dengan beliau. Meskipun terkadang beliau datang di alam mimpiku, tetap saja rindu itu bergelora dan menyesakkan dadaku.
Duhai, ummiku… Apa kabarmu di alam sana? Besanmu kini sedang terbaring dan sakit keras. Apakah kau menyaksikannya? Duhai ummiku… temuilah diriku walau hanya dalam mimpi. Betapa saya merindukanmu.
Terdengar suara isak tangis kak Eni yang duduk di sebelahku. Saya yakin, dia juga merasakan sedih yang tiada tara sebab tinggal ibu mertuanyalah orang tua yang dimilikinya kini. Kami berdoa semoga Allah subhaanahu wa ta’ala memberikan kesembuhan kepada beliau. Aamiin…










