TULISAN PERDANA

Terbaru235 Dilihat

Bismillaah. Saya memulai jejak digital perdana ini dengan menyebut nama Allah Subhaanahu wa ta’ala. Hari ini pertama kalinya saya menulis di website YPTD.Saya berharap langkah ini akan mengantarkan saya menuju cita-cita menjadi penulis terkenal.

Sebelumya, saya menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bu Ditta Widya Utami yang telah membantu dan memberi arahan sehingga saya bisa berada di sini. Beliau merupakan salah seorang narasumber di kelas belajar menulis bersama PGRI yang saya ikuti. (Terima kasih, Bu!)

Hari ini saya sangat bersemangat untuk menorehkan kegiatan di rumah dalam bentuk tulisan. Setiap hari Ahad tiba, saya selalu menghabiskan waktu bersama keluarga. Kalau memungkinkan untuk keluar rumah, kami biasanya pergi ke kebun yang terletak di wilayah pegunungan. Tepatnya di kampung Panrangaji (Banyorang, Kab. Bantaeng).

Namun karena saat ini si sulung sedang sakit, jadi kami di rumah saja. Setelah sholat subuh berjamaah, kami bersama-sama membaca kitab suci Al-Qur’an. Setelah itu, saya menyapu dan merapikan barang-barang yang ada di rumah. Tentunya saya tidak lupa mencuci pakaian. Si bungsu bersama abinya sedang sibuk mencuci mobil di halaman depan rumah.

Rencananya, setelah mencuci dan membersihkan saya ingin mengganti gorden. Seingat saya, sudah lama gorden tersebut melaksanakan tugasnya menghiasi rumah kami. Gorden yang terpasang di pintu-pintu kamar dan jendela saya copot semua. (Semoga rencana ini terlaksana, aamiin…)

Jarum jam telah menunjuk ke angka 9. Urusan bersih-bersih sudah kelar. Cucianpun sudah berbaris rapi di tali jemuran samping rumah. Alhamdulillaah. Saya menatap barisan pakaian tersebut yang berayun-ayun mengikuti arah angin sambil mengeringkan keringat. Rasanya ada kepuasan tersendiri jika melihat pemandangan itu dan menikmati udara segar.

Setelah mandi, saya bersiap melaksanakan sholat Dhuha. Tahun ini saya telah bertekad untuk merutinkan sholat Dhuha. (Mohon doanya, pemirsa!) Semoga saya bisa istiqomah menjalankannya. Apalagi bulan puasa ini merupakan momentum yang paling tepat untuk memulai rutinitas kebaikan yang baru.

Baru saja saya menyelesaikan sholat, terdengar suara suami saya sedang berbincang dengan seseorang. Saya melongok ke jendela, ternyata kakak ipar saya datang. Beliau minta tolong menumpang Wi-Fi karena ada pertemuan virtual yang harus dihadirinya.

Saya tiba-tiba teringat pada website YPTD yang pernah dibahas di kelas belajar menulis. Saya lalu mengirim chat ke Bu Ditta menanyakan cara menulis di website tersebut. Beberapa menit setelah pesanku terkirim, belum juga tercentang biru. Sambil menunggu, saya buka grup WA. Sudah ada puluhan notifikasi di aplikasi hijauku. Artinya, sudah banyak chat yang belum saya baca. Saya lalu membuka chat tersebut satu persatu.

Saya tenggelam di dunia maya sampai pukul sebelas siang. Waduh, saya harus segera kembali ke dunia nyata sekarang! Waktu saya tinggal satu jam lagi sebelum masuk waktu sholat Dzuhur. Sedangkan saya belum menyentuh gorden sama sekali. Untuk memudahkan rencana yang sudah terjadwal, saya minta tolong suami untuk membantu mencopot gorden yang ada. Alhamdulillaah, tanpa perlu menunggu lama, suami pun mulai beraksi.

Setelah semua gorden tergeletak di lantai, dengan sigap saya mengangkatnya ke tempat cucian kotor. Insya Allah besok saya cuci mereka karena kalau dicuci sekarang kemungkinan tidak bisa kering. Lalu saya mengambil gorden bersih dari lemari. Yang paling urgen terpasang hari ini adalah gorden jendela.

Ada tujuh daun jendela dan tiga daun pintu yang harus dipasangi gorden. Akan tetapi saya fokus ke jendela saja dulu agar sebentar malam aktivitas kami tidak terlihat oleh orang lain dari luar rumah. Adapun gorden pintu tidak terlalu masalah jika terpasang belakangan.

Setelah sholat Dhuhur berjamaah plus mengaji, saya mulai berkunjung ke dapur. Melihat bahan makanan yang tersedia, lalu memikirkan menu berbuka puasa hari ini. Saya lihat masih ada stok bubuk agar-agar dan sagu mutiara di lemari. Gula merah juga masih ada. Ahhaa…! Saya mau bikin es cendol saja deh. Tapi…, saya tidak punya kelapa untuk diambil santannya ini.

‘Ah, nanti saya minta tolong ke suami untuk membelinya di pasar’ pikirku sambil mulai memproses agar-agar tersebut.

Saya sudahi dulu tulisanku hari ini yah, pemirsa! Kalau saya menulis terus, nanti es cendolnya tidak menjadi kenyataan. Hanya angan-angan belaka. Semoga puasa ketiga belas hari ini mendapat berkah dan ampunan dari Allah subhaanahu wa ta’ala. Aamiin…

Tinggalkan Balasan

1 komentar