RAMADAN BERKEMAS

Terbaru581 Dilihat

Hari ini tanggal 26 Ramadan 1442 Hijriyah bertepatan dengan hari Sabtu tanggal 08 Mei 2021 Masehi. Artinya, sudah dua puluh enam hari Ramadan bersama kita melewati hari. Sudah dapat diprediksi bahwa kemungkinan besar empat hari ke depan, Ramadan telah pergi. Lalu bulan Syawal datang menggantikannya. Saya merenung sendiri dalam sebuah ruang kerja berukuran 3×4 meter ini. Saya mencoba mengingat kembali pekan-pekan pertama Ramadan yang telah terlewati. Apa saja yang telah kukerjakan dan berapa banyak hal yang tidak kulaksanakan?

Duh, ternyata ada begitu banyak waktu penuh berkah telah saya sia-siakan. Sering saya menghabiskan berjam-jam hanya untuk membaca status orang di beranda Facebook, membaca obrolan di grup-grup WhatsApp, atau bahkan sekadar menonton video-video di YouTube. Duhai, betapa meruginya diri ini. Memang betul adanya bahwa penyesalan datangnya belakangan. Sungguh, saya sangat menyayangkan keteledoran dan kelalaian yang saya lakukan di bulan nan suci ini.

Meskipun demikian, saya tidak mau terlalu lama meratapi keadaan. Saya yakin tidak ada seorang pun yang dapat memutar ulang waktu yang telah berlalu. Saya harus bangkit! Saya harus memperbaiki kesalahan yang telah kulakukan. Bagaimana caranya? Tentunya saya harus memulai hidup baru. Yah, saya harus fokuskan hati dan pikiran untuk membayar ‘kegagalan’ yang telah kualami. Saya tahu ini sudah sangat terlambat kusadari. Namun, dalam hal kebaikan yang tertunda saya tetap memegang prinsip ‘lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali’.

Pertama, saya memetakan kegiatan positif yang akan mengisi empat hari Ramadan yang tersisa.  Aktivitas harian di sekolah maupun di rumah mesti saya atur dengan cermat. Mulai dari jam makan sahur sampai pada saatnya tidur di waktu malam harus tertulis dengan jelas. Jam kerja di sekolah selama Ramadan mengalami sedikit perubahan dan itu akan saya gunakan untuk merutinkan salat Duha. Waktu untuk urusan domestik rumah tangga juga terjadi pergeseran sehingga saya harus pandai-pandai mengatur waktu untuk memperbanyak tadarus Al-Qur’an.

Kedua, pengaturan waktu ini harus saya komunikasikan dengan suami dan anak-anak di rumah. Dengan demikian, beliau bisa menyesuaikan dengan kegiatannya di sekolah dan di masjid (suami adalah bendahara masjid Al-Manar Bantaeng). Siapa tahu beliau bersama kedua anak lelakiku juga mau ikut pada program khusus yang telah saya buat.

Ketiga, mulai hari ini saya harus membatasi penggunaan gadget. Saya tidak mau lagi menghabiskan banyak waktu di media sosial. Apalagi kondisi kedua netra saya yang sudah minus 5 sangat rentan dengan cahaya dan radiasi handphone android. Belum lagi tanganku yang sering merasakan pegal setelah beberapa lama memegang HP. Selain itu, saya juga harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak dalam menggunakan HP. Mereka selama ini saya batasi hanya boleh menonton YouTube selama 60 menit saja dalam sehari sementara saya sendiri tidak memberi batasan sedikit pun. (‘Kan terdengar aneh yah, pemirsa!)

Keempat, saya harus memohon pertolongan Allah Subhaanahuu Wa Ta’aala. Ini yang paling penting dan utama. Walau sehebat apapun manusia mengatur keadaannya dalam kehidupan, tetap Allah yang memegang kendali atas diri setiap individu. Saya terus memohon agar saya diberikan kesehatan lahir dan batin untuk menebus kesalahan saya di hari-hari kemarin. Semoga apa yang saya lakukan bisa membawa keberkahan dalam hidupku di dunia, terutama di akhirat kelak. Saya sangat berharap agar ini menjadi sebuah kebiasaan baru bagi saya hingga saatnya dijemput malaikat maut. Saya akan sangat beruntung lagi jika kebiasaan ini diikuti dan terus dilakukan oleh anak cucu saya nanti.

Sebuah rencana besar dalam hidupku tentunya tidak berjalan mulus seratus persen dari awal sampai akhir. Saya yakin ada-ada saja hambatan dan rintangan yang akan terjadi. Sebagai manusia biasa pasti saya akan mengalami kondisi keimanan yang fluktuatif. Kadang meningkat, suatu waktu akan menurun, dan mungkin juga akan biasa-biasa saja. Dalam kondisi seperti ini, saya hanya bersandar pada pertolongan, rahmat, dan karunia dari Sang Maha Mengatur segalanya. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Tiada daya dan kekuatan selain Allah. Ini yang menjadi pegangan bagi saya.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.44 WITA. Sebentar lagi waktunya untuk melaksanakan salat Duhur. Saya harus menyelesaikan tulisan ini sesegera mungkin agar bisa bersiap-siap untuk salat. Oya, ada lagi satu target yang saya canangkan sejak saat ini yaitu salat lima waktu sehari semalam harus saya kerjakan di awal waktu. Kemudian setelah itu, saya harus membaca kitab suci Al-Qur’an minimal satu halaman. Memang ini lumayan berat untuk dilakukan. Akan tetapi saya yakin Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang sedang berjalan dalam sebuah kebaikan. Mohon doakan saya yah, pemirsa!

Semakin dekat waktunya Ramadan pergi. Dia telah berkemas-kemas untuk kembali kepada Sang Pencipta. Empat hari ini merupakan langkah konkret yang harus saya jalani dengan penuh kesungguhan. Ketika Ramadan tahun ini beranjak meninggalkan kami, saya tetap merasakan adanya perubahan baik dalam hidup. Pergilah, duhai Ramadan 1442 Hijriyah! Semoga saya bisa bertemu dengan Ramadan tahun depan dan semoga saya tidak lagi merasakan derita penyesalan seperti tahun ini. Aamiin…

Tinggalkan Balasan

3 komentar

  1. “…duhai Ramadan 1442 Hijriyah! Semoga saya bisa bertemu dengan Ramadan tahun depan dan semoga saya tidak lagi merasakan derita penyesalan seperti tahun ini. Aamiin…”
    Clossing Sttatement nan mengharukan,…
    Salam Literasi Bu Sitti Zuhraeni
    YPTD

  2. Terimakasih Bu Sitti sudah berbagi tulisan penuh manfaat…semua kita pada hakikatnya berada dalam kerugian, manakala tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik..sebaik waktu yang kita miliki adalah apabila sisi dengan beragam amal Sholeh…..