TABUNG OKSIGEN (Part 1)

Terbaru685 Dilihat

“Ummi, cepat ke sini! Cepat!” Terdengar teriakan Adi dari arah kamar.

Mawar tergopoh-gopoh menuju sumber suara. Dia belum pernah mendengar anaknya berteriak seperti itu. Setiba di kamar, Mawar kaget melihat kondisi suaminya, Pak Imam. Baru beberapa menit dia berada di dapur menyiapkan makan siang.

“Astagfirullah, kenapa bisa begini?” tanya Mawar.

Napas pak Imam tidak beraturan. Dia mencoba mencari posisi duduk yang pas agar bisa bernapas. Mulutnya terus menganga menghirup udara segar yang kemungkinan sedari tadi dibutuhkan paru-parunya.

Adi menceritakan awal mula kejadiannya. Menurutnya, dia masuk di kamar untuk mengambil charger HP. Saat itu abinya sedang tidur. Saat dia hendak meninggalkan kamar, dia mendengar abinya memanggil.

“Adi, tolong bantu abi bangun!” pinta pak Imam. “Dadaku terasa sesak,” lanjutnya.

Adi lalu membantu abinya. Awalnya, dia terlihat lebih baik. Tetapi lama kelamaan napasnya memburu. Setiap kali menarik napas, seakan ada sesuatu yang menahan sehingga untuk melepas udara harus melalui mulutnya. Semakin lama tarikan napasnya semakin pendek. Adi panik dan tanpa sadar langsung berteriak memanggil umminya.

Mawar juga bingung dan panik. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak punya pengetahuan tentang apa-apa selain urusan di rumah. Tiba-tiba Adi menjentikkan jarinya.

“Kita panggil pak mantri saja, Mi!” katanya.

“Ooiyye’, nak!” seru Mawar dengan mata membulat tanda setuju. “Cepatlah, nak! Nanti pak mantri keburu pergi.”

Mawar terus saja mengusap dada pak Imam. Sesekali diolesi dengan minyak kayu putih dengan harapan agar bisa membantu melegakan napas suaminya itu.

Tak lama berselang, Adi pulang. Tetapi dia tidak bersama siapa-siapa.

“Mana pak mantri, nak?” tanya Mawar.

“Tunggu sebentar katanya, Ummi. Pak Mantri ternyata sedang tidak sehat sejak kemarin,” jelas Adi.

“Kalau begitu, kembali lagi ke rumahnya pak mantri, nak!” kata Mawar sambil memijat punggung pak Imam. “Bilang, nda’ usah dipaksakan datang ke sini kalau beliau lagi sakit.” Lanjutnya.

Baru saja Adi hendak keluar kamar, terdengar ketukan diiringi salam di pintu depan.

“Assalamualaikum!”

“Wa’alaikumsalaam warahmatullaah!” Adiu dan Bu Mawar menjawab salam hampir bersamaan. Pak Imam juga menjawab salam dengan suara lirih.

“Silakan masuk, pak! Seru Bu Mawar mempersilakan pak mantri menemui pak Imam.

“Bapak kenapa, Bu?” tanya pak mantri.

“Dadanya terasa sesak, pak mantri.” Jawab Bu Mawar. “Sudah belasan tahun saya bersama bapak, baru kali ini saya lihat bapak sesak napas begini.”

“Coba saya periksa dulu,” kata pak mantri sambil mengeluarkan stetoskop dari kotak perlengkapannya.

Bu Mawar dan Adi memperhatikan aktivitas pak mantri. Setelah memeriksa denyut jantung pasien, pak mantri lalu mengecek tekanan darah dan memeriksa asam urat pak Imam. Beberapa menit kemudian, terlihat pak mantri geleng-geleng kepala. Bu Mawar jadi penasaran.

“Bagaimana, pak? Berapa asam urat dan tekanan darah bapak?” tanya Bu Mawar. “Masih normal atau bagaimana, pak?” cecarnya.

Pak mantri kembali menggelengkan kepala. Dia menarik napas panjang sambil terus memandang pasiennya.

“Sebaiknya bapak dibawa ke rumah sakit sekarang juga, Bu. Bapak butuh bantuan pernapasan,” tegasnya.

Mawar terkesiap. Belum ada kata yang terucap, pak mantri pamit pulang.

“Saya pulang dulu, Bu. Kalau semuanya sudah siap, tolong telepon saya. Biar nanti saya yang menghubungi pihak rumah sakit untuk menjemput.”

“Eh, e.. iyya pak.” Mawar menjawab terbata-bata. “Terima kasih sudah datang, pak. Mohon maaf sudah merepotkan.”

‘Ya Allah, apa sebenarnya penyakit suami hamba?’ batinnya. Dia segera menyiapkan pakaian dan perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit. Sedang sibuk -sibuknya mencari sikat gigi, tiba-tiba Adi datang.

“Ummi, Abi tidak mau dibawa ke rumah sakit,” kata Adi.

“Memangnya kenapa, nak?” tanya Mawar keheranan. “Kenapa Abi tidak mau?” lanjutnya.

Adi hanya mengangkat bahu. Mereka berdua segera ke kamar depan. Pak Imam langsung membuka matanya mendengar pintu kamar terbuka.

“Saya tidak mau ke rumah sakit,” katanya. “Saya tidak mau kalau harus di-swab lalu dinyatakan terpapar Covid.”

“Tidak semua orang yang ke rumah sakit itu harus di-swab, honey.” Mawar membujuk suaminya. “Menurut informasi,  pihak rumah sakit tetap meminta kesediaan pasien kalau mau di-swab. Jika pasien tidak mau, mereka tidak dipaksa kok.”

Mawar menjelaskan dengan suara pelan. Dia tahu bahwa suaminya akan menjadi lebih sensitif jika sedang sakit. Berbicara agak besar sedikit, dia pasti akan merasa sedang digertak.

“Kalau tidak mau dibawa ke rumah sakit, lalu bagaimana kita bisa tahu apa penyakit yang menyerangmu, sayang? Bagaimana kita mengatasi sesak napas itu?”

” Kalau begitu, saya dirawat di klinik saja!” kata pak Imam. “Di klinik orang tidak perlu di-swab. Saya tidak mau ke rumah sakit.”

“Baiklah, nanti saya telepon pak mantri.” Ucap Mawar sambil meninggalkan suaminya.

Semuanya sudah siap. Bantal, sarung, selimut, alat sholat, dan pakaian. Tak lupa Mawar membawa KTP dan kartu BPJS pak Imam.

Belum juga tersambung panggilan telepon ke pak mantri, kakak perempuan Mawar datang. Dia bersama suami dan anak-anaknya. Mereka datang menjenguk abinya Adi.

Tidak lama kemudian, mereka berlima sudah dalam perjalanan menuju ke sebuah klinik di daerah Letta, Kab. Bantaeng. Setiba di klinik, pak Imam langsung ditangani oleh tim medis.

Pak Imam diperiksa tekanan darah, dicek saturasi, dipasangkan selang infus, dan disuntikkan beberapa jenis obat injeksi. Ada dua orang perawat yang mengurusi pak Imam, satu orang perawat lainnya mengisi form tentang identitas pasien sambil mewawancarai Mawar.

Setelah itu, pak Imam terlihat agak baikan dibanding beberapa menit yang lalu. Wajahnya tidak lagi sepucat tadi dan napasnya sudah mulai teratur. Alhamdulillaah!

Mawar sangat berterima kasih kepada kakak dan iparnya yang telah mengantar ke klinik. Sejak kemarin Mawar mengajak suaminya untuk berobat ke dokter, tetapi dia selalu menolak. Dia lebih senang membeli obat di apotik daripada konsultasi ke dokter.

Padahal kan ada  pepatah yang menyebutkan bahwa apabila sebuah urusan diserahkan pada ahlinya, maka pasti akan berhasil. Sebaliknya, jika sesuatu dikerjakan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan