HIKMAH BERANI HIJRAH

Terbaru583 Dilihat

Hari ini ada kejutan membahagiakan dari sahabat guru TPA permatahati IBU.

Diawali masuknya sapaan santun di gawai “Assalamualaikum, selamat pagi Bu sakti gmn kabarnya???🙏🙏”

 

Sejenak terkesima, lama tidak bersua. Sahabat guru yang sudah pamit tahun 2011 karena menikah dan mengikuti suami ke Kalimantan.

 

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah sehat, pangestunipun.

Bismillah doa terbaik buat Bu Novi dan keluarga semoga sehat selalu bahagia❤️” antusias menjawabnya. Lalu HP ku taruh, karena hendak salat Dukha.

 

“Amiiin, gimana Bu Sakti? Sekolahannya semoga tambah sukses” jawab Bu Novi

“Aamiin. Alhamdulillah, ” jawabku.

Aku kian penasaran, lanjut bertanya “Bu Novi masih di Kalimantan kah?

” Alhamdulillah, masih bu. Bu maaf mau tanya gmn caranya jd pengusaha yg sukses 😁🙏🙏🙏

Kangennya ikut seminar seminar lagi bu, biar bertambah ilmunya.

Alhamdulillah di sini sudah buka usaha bakso.

Minta doanya Bu semoga di beri kemudahan.

Bu maaf bolehkah kalau saya telefon njenengan 🙏🙏🙏” tanya Bu Novi.

 

Dengan senang hati, saya persilakan Bu Novi telefon.

 

 

Masya Allah, trenyuh. Salut dengan kisah yang beliau sampaikan. Banyak pelajaran yang saya peroleh dari pengalaman Bu Novi beserta suami, dari nol hingga akhirnya mempunyai usaha, dengan memiliki karyawan, kendaraan pribadi dan tentu rumah tempat tinggal pun Alhamdulillah menjadi bukti ketaqwaan, kesabaran dan buah dari menjadi ahli syukur, barakallah Aamiin

 

Ternyata benar, Bu Novi bercerita sudah empat tahun tinggal di daerah yang sekarang ini merintis usaha dagang bakso. Setelah sebelumnya menjalani perjalanan hidup susah senang bersama belahan jiwa.

Nekad menyeberang pulau, dari Jawa hijrah ke Kalimantan. Awalnya dijanjikan bekerja di perusahaan pertambangan, namun saat telanjur pindah Kalimantan ternyata mencari kerja tidak semudah yang dibayangkan. Karena sungkan berlama-lama numpang, maka mengalahkan rasa malu ikut menjadi karyawan warung bakso bersama suami. Dari pagi ketemu pagi, tak kenal lelah bekerja. Tapi akhirnya Bu Novi jatuh sakit, opname. Sementara untuk biaya rumahsakit ikhtiar kesana kemari tidak dapat pinjaman. Kerja lebih keras, pagi jualan bubur, siang jualan bakso. Hingga pada akhirnya memutuskan keluar menjadi karyawan warung bakso.

Memberanikan diri merintis jualan pentol bakar, sempat saat mencari tempat untuk jualan diusir oleh para pedagang yang telah menguasai area tersebut. Tidak putus asa, mencari tempat jualan di pinggir lokasi wisata, dekat pantai. Ternyata resep hasil googling yang bermula dua kilogram habis dalam dua hari, bertambah terus. Cuaca yang mudah berubah panas, hujan membuat masalah baru, arang untuk membakar menjadi tidak mudah menyala. Bersyukur hikmah silaturahim, tergabung dalam Komunitas Keluarga Ngapak mempertemukan Bu Novi dan suami dengan kawan yang berempati. Atas bantuan komunitas mendapat dana bantuan. Cukup untuk membeli meja kursi, terpal dan mengontrak barak. Alhamdulillah dari yang awalnya jualan dengan sepeda motor berpindah-pindah, berkembang dapat hibah rombong bakso lengkap dengan panci kelengkapan untuk jualan bakso. Hingga saat ini sudah menjadi satu-satunya pedagang bakso yang punya kekhasan.

 

Insya Allah dengan iman, taqwa(menjalankan perintah menjauhi larangan), ikhtiar( bersungguh2 memberikan yg terbaik lillahita’alla), tawakkal dan qanaah.

Istighfar selalu dalam hati. JanjiNya istighfar mengundang jalan keluar. Masya Allah, barakallah Aamiin.

Tinggalkan Balasan