

Sebuah tantangan baru ada di depan mata. Secara tiba-tiba, pandemi membawa dampak yang luar biasa, baik dari sisi pendidikan maupun dari sisi yang lainnya, seperti social. Dilihat dari sisi pendidikan, pembelajaran dilaksanakan dengan jarak jauh, menggunakan system, memerlukan kuota, dan berdampak siswa tidak boleh bebas pergi ke tempat yang disukai, agar mata rantai penyebaran virus corona terputus. Siswa yang semula tidak boleh menggunakan handphone ketika di sekolah, sekarang yang terjadi malah sebaliknya, siswa harus menggunakan handphone ketika pembelajaran. Jika dulu sebelum terdampak pandemic covid 19, anak-anak dibatasi menggunakan handphone, sekarang, apa yang tidak bisa dilakukan dengan handphone. Semua yang dibutuhkan manusia, dapat di akses dengan menggunakan handphone.
Dilihat dari sisi social, pandemic covid 19 membawa dampak yang luar biasa. Siswa dilarang ke sekolah , siswa dilarang diluar rumah. Dilarang ke mall, dan bahkan siswa dilarang mengadakan pertemuan, dilarang menyelenggarkan pertemuan, berkerumun, dan aktifitas lain yang memungkinkan untuk berkerumun ataupun bergerombol. Dan bahkan bukan hanya siswa yang dilarang, semua aktifitas manusia dibatasi. Tidak boleh berkerumun, tidak boleh bergerombol.
Dampak apa saja yang terjadi akibat adanya pembatasan social seperti ini? Antara orang yang satu dengan yang lain saling jaga jarak, tidak boleh berdekatan, tidak boleh mengadakan pertemuan. Jika semuala sering mengadakan kegiatan pertemuan untuk membahas kegiatan social, kini tidak lagi dilakukan. Jika semual ketika ibadah dilaksanakan di masjid, orang harus berdekatan dan rapat agar tidak ditempati setan, kini malah ada jarak ketika melaksanakan shalat. Orang lebih mengutamakan kesehatan daripada syariat yang harus dilaksanakan. Bukankah sakit, sehat, hidup dan mati seseorang sudah ada yang menentukan? Salah satu dampak pandemic covid 19 telah merubah pola perilaku manusia masa kini. Jika semula orang shalat harus rapat, kini harus jaga jarak. Jika semula anak-anak tidak boleh membawa handphone ketika di sekolah, kini harus menggunakan handphone ketika pembelaaran. Lalu dampak social apalagi yang dirasakan?
Bagi yang biasa menggunakan jasa transportasi ojek online, pasti merasakan dampaknya juga. Mau keluar takut terpapar covid19. Mau menggunakan jasa ojek online, takut terpapar. Mau bawa kendaraan sendiri, jumlahnya terbatas. Orang lebih memilih diam di rumah. Anak-anak terbelenggu kebebesannya dari kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan. Tidak boleh main bola, tidak boleh keluar rumah, harus menggunakan masker, selalu cuci tangan , dan jaga jarak. Mungkin hal ini bisa dilakukan pembatasan untuk yang sudah memahami, orang dewasa, dan lansia. Namun bagaimana pembatasan ini diberlakukan untuk anak-anak yang masih berusia dua sampai lima tahun? Tentu saja sangat sulit memberikan pengertian untuk anak-anak ini. Baik yang masih balita hingga yang sudah lansia.
Sejak adanya pandemic, sekolah dilarang mengadakan tatap muka. Apakah masih tetap ada pembelajaran. Beberapa sekolah sangat terdampak akibat adanya pandemic. Ada sekolah yang hanya memberi tugas pada siswanya, tanpa mengadakan tatap muka secara online. Namun ada juga sekolah yang mampu melaksanakan pembelajaran online. Bagaimana sekolah menyiasati pembelajaran online? Apakah sdm guru sudah mumpuni mengakan pembelajaran online? Diklat dadakan dilaksanakan oleh beberapa sekolah yang mampu mengadakan diklat untk meningkatkan kemampuan guru mengadakan pembelajaran secara online. Namun bagi yang tidak mampu, pertemuan secara online dilaksanakan seminimal mungkin, untuk menghindari biaya yang membengkak dari berbagai sisi. Penggunaan kuota internet jelas meningkat. Kemampuan guru harus diupgrade menjadi guru yang paham IT. Mungkin hal ini tidak menjadi masalah bagi guru-guru muda yang sudah jelas memiliki dasar pendidikan IT sebagai bekal tambahan dalam mengajar. Minimal, mereka memiliki kemampuan menggunakan PC ketika membuat laporan skripsi ketika masih menjadi mahasiswa. Lalu bagaimana dengan guru-guru senior yang sudah pasti kemampuan IT nya masih kurang. Harus secepat mungkin dilaksanakan peningkatan kemampuan guru untuk melaksanakan pembelajara.
Berbagai system bermunculan memberi fasilitas sebagai system paling mumpuni yang dapat digunakan sebagai salah satu tool untuk melaksanakan pembelajaran. Ada zoom, teams M365, google meet, wa call, line call. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung mau digunakan untuk apa. Ada system yang berbayar dan ada yang gratis. Bahkan ada yang memberikan fasilitas gratis untuk beberapa menit tertentu, dengan pemakaian yang terbatas. Untuk pemakaian selanjutnya harus bayar.
Beberapa media social seperti waatshap dan line juga memungkinkan untuk mengadakan pertemuan secara online melalui panggilan suara ataupun videocall. Tidak menutup kemungkinan masih banyak bermunculan videocall – videocall yang lain yang memberi fasilitas yang ringan dengan pemakaian data yang minim. Untuk pemakaian data yang banyak digunakan saat ini adalah menggunakan zoom. Namun untuk beberapa organizer tertentu , ada juga yang menjatuhkan pilihan pada teams M365 untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan siswa-siswinya. Bagaikan jamur di musim hujan, dampak pandemic meciptakan hujan rejeki bagi mereka. Dalam satu hari, berapa jam mereka menggunakan data sejak adanya pandemic? Dari beberapa survey yang penulis dapatkan dengan menggunakan searching google, diperoleh data sebagai berikut: selama tahun 2019 penggna internet di Indonesia yang berusia 16 tahun hingga 64 tahun memiliki waktu rata-rata selama 7 jam 59 menit per hari untuk berselancar d dunia maya. Angka tersebut melampaui rata-rata global yang hanya menghabiskan waktu 6 jam 43 menit di internet per harinya. Berdasarkan riset situr Hoot suite dan agensi marketing social we are social bertajuk “ global digital report 2020” yang dirilis akhir januari lalu, Indonesia masuk ke dalam 10 besar negara yang paling lama mengakses internet. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-8 dalam daftar negara paling lama berselancar internet.
Itulah kondisi yang dihadapi saat ini. Dulu dan sekarang sudah berbeda. Dulu , anak-anak dilarang menggunakan handphone ketika bersekolah, sekarang anak-anak harus menggunakan handphone agar dapat mengikuti pembelajaran yang dilaksanakan secara daring. Masih banyak ditemui kendala dalam beberapa kasus terkait adanya pandemi covid19. Diantaranya terkait dengan ketersediaan infrastruktur, keterbatasan kompetensi siswa dan guru, penguasaan teknologi informasi serta relasi orang tua dalam proses Belajar Dari Rumah ( BDR )
Salah satu solusi dalam menghadpi pandemic covid 19 adalah dengan mengadakan pembelajaran daring yang dilaksanakan dari rumah. Guru melaksanakan pembelajaran daring /online learning. Hal ini dilakukan dengan harapan memutus mata rantai penyebaran covid19. Pembelajaran dilaksanakan dari rumah. Siswa tetap tinggal di rumah.
Guru dan siswa menghadapi era new normal. Apakah era new normal ini merupakan hal baru? Bukan. Era new normal sudah muncul lebih dari dua decade yang lalu, yaitu pada tahun 2007-2008 setelah krisi ekonomi dan tahun 2008 – 2012 setelah resesi global. Istilah new normal menyiratkan sesuatu yang tidak biasa atau belum pernah dilakukan sebelumnya.
Diperlukan managemen sekolah yang baik. Managemen sekolah hadir untuk menata kembali sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan sehingga terlaksana, tertata, efisien, efektif dan rasional. Di era new normal telah terjadi adanya perubahan, inovasi dan adaptasi. Sekolah perlu menata kembali agar tetap survive sebagai sekolah yang bermutu.
Menurut Jeff Davidson, perubahan adalah terjadinya sesuatu yang berbeda dengan sebelumnya, melakukan hal-hal yang baru, mengikuti jalur baru, mengadopsi teknologi baru, memasang system baru, mengikuti prosedur managemen baru, melakukan reorganisasi, dana tau terjadinya peristiwa yang bersifat mengganggu yang sangat signifikan. Sejak adanya pandemic covid19, telah terjadi perubahan. Perubahan menuju era new normal. Jika semula orang terbiasa berjabat tangan ketika berjumpa dengan teman yang telah lama tidak berjumpa, kini cukup senyum dan salam hormat. Atau cukup berikan ucapan salam, sebagai tanda persahabatan. Dengan memberi senyum yang dapat dilihat melalui pancaran mata. Karena jika senyum yang diberikan hanya senyuman palsu, maka akan terpancar di mata sebuah sorot kebencian. Nah. Bukankah di era new normal, anda harus menggunakan masker? Maka senyum yang palsu, bibir yang mengembang merekah, tidak terlihat. Yang jelas terlihat hanyalah pancaran mata, apakah menunjukkan sorot kebahagiaan, sorot kebencian dan ataukah sorot persahabatan.
Era new normal, perlu menata kembali managemen sekolah hingga tercapai tujuan pembelajaran. Bagaimana menata kembali pembelajaran yang menarik meski disajikan secara online. Terutama untuk pelajaran eksakta. Siswa perlu melaksanakan praktikum dengan peralatan standar agar hasil yang diperoleh memadai. Misalnya pelajaran fisika. Apakah mungkin siswa melaksanakan praktikum secara online? Apakah mungkin siswa melaksanakan praktikum dan memahami perhitungan rumit di dalamnya tanpa tatap muka? Semuanya serba mungkin. Perlu dibuatkan kurikulum darurat agar siswa mampu melaksanakan praktikum tanpa bimbingan tatap muka. Siswa dituntut harus memahami materi praktikum meski disajikan secara online dan tanpa peralatan yang memadai. Di internet, telah banyak dihadirkan pembelajaran praktikum secara online, misalnya melalui PHET. Untuk itu, diperlukan inovasi
Berkaitan dengan inovasi, ada 5 kategori pengguna inovasi. Yang pertama, adalah inovator. Kelompok ini merupakan kelompok dari orang yang berani dan siap pada hal yang baru. Apa yang harus dilakukan seorang innovator untuk pembelaaran yang inovatif? Guru , sebagai seorang innovator, mampu mengubah model pembelajaran pola lama, yang sifatnya teacher sentris, menjadi student centris. Model pembelajaran yang tepat dalam hal ini adalah dengan metode presentasi. Siswa diajak dan dilatih presentasi. Yang kedua adalah pengguna awal. Kelompok ini adalah kelompok yang sangat disegani dan dihormati oleh kelompoknya karena kesuksesan mereka dan keinginannya untuk mencoba inovasi yang baru. Sebagai seorang innovator, guru yang pertama kali menggunakan inovasi yang telah dibuatnya. Diujicoba kemudian digunakan secara massal. Sebagai seorang innovator, guru harus berani mencoba lebih dulu. Yang ketiga mayoritas awal. Kelompok ini adalah kelompok yang akan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi. Seorang guru ang melakukan innovator, kemudian menjadi pengguna awal, harus mampu mensosialisakian kepada pengguna lain agar inovasi yang digunakan dapat diadopsi sehingga dapat digunakan dalam lingkungan yang lebih luas. Yang keempat, kelompok mayoritas akhir. Ini merupakan kelompok yang menunggu hingga kebanyakan mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan. Kelompok ini merupakan kelompok pengguna secara lebih luas, setelah inovasi yang dibuat diuji coba dan digunakan dalam lingkungan yang lebih luas. Yang kelima adalah kelompok Laggard, yaitu kelompok yang bersifat lebih tradisional dan segan untuk mencoba hal-hal yang baru. Kelompok ini biasanya hanya menunggu hasil dari inovasi yang telah dilakukan dan diuji coba dalam lingkungan terbatas.
Guru merupakan seorang leader di kelasnya, seorang pemimpin bagi siswa-siswinya. Ketika melaksanakan pembelajaran, guru harus mampu berinovasi. Mengapa? Tantangan baru bagi guru yang melaksanakan pembelajaran secara online. Guru tidak dapat memantau siswa-siswinya ketika mengikuti pembelajaran daring. Siswa sedang apa, dengan siapa, dan beraktifitas apa. Meski pembelajaran online tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, guru tidak dapat memantau apakah siswa-siswinya mengikuti pembelajaran daring dengan maksimal. Guru hanya dapat melihat apakah siswa-siswinya sedang didepan kamera atau tidak. Sedangkan tangannya melakukan aktifitas lainnya, guru tidak tahu. Itupun jika siswa-siswinya menyalakan kamera. Jika tidak? Guru hanya bisa mendengar suara. Inilah tantangan baru bagi guru yang melaksanakan pembelajaran daring.
Guru, sebagai pemimpin di kelasnya, harus mampu melakukan inovasi, agar tidak ditinggalkan siswa-siswinya. Sementara mereka dalam kondisi hadir sebagai participant. Guru harus melakukan proses perubahan gaya mengajar. Guru harus mampu menginspirasi dan memotivasi siswa-siswinya di dalam pembelajaran yang mampu memberi kekuatan secara personal dan memiliki kemampuan yang mampu memeberi dampak positif bagi siswa –siswinya. Seorang pemimpin adalah seorang yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi yang mampu membangun kekuatan secara personal dan memiliki kemampuan membangun kekuatan yang menginspirasi siswa-siswinya.
Diperlukan sistem managemen yang terpadu. Fungsi managemen merupakan suatu proses yang membedakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan dengan memanfaatkan ilmu dan seni untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Diperlukan juga kepemimpinan transformasional, yakni kemampuan untuk menginspirasi sehingga bersama-sama dengan sukarela menciptakan suatu keadaan yang diinginkan menjadi lebih baik.
Menghadapi pandemic covid-19 , seorang guru harus cepat tanggap dan mampu beradaptasi dengan kondisi yang berubah cepat sehingga mampu menularkan semangat beradaptasi terhadap perubahan secara cepat pada siswa-siswinya, orangtua dan masyarakat.
Kepala sekolah adalah guru terpilih yang menjadi pemimpin bagi guru-guru yang lainnya. Sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah juga harus melakukan inovasi-inovasi dalam menghadapi tantangan yang dihadapi sebagai dampak dari pandemic covid19. Tantangan apa yang dihadapi seorang kepala sekolah di dunia sekolah yang dipimpinnya?
Substansi managemen pendidikan di sekolah meliputi managemen kesiswaan, managemen sara prasarana, managemen keuangan, managemen sumber daya manusia, managemen kurikulum, managemen humas, managemen layanan khusus, dan managemen system informasi. Dibidang kesiswaan misalnya, apakah memungkinkan melaksanakan kegiatan kesiswaan di era new normal? Apakah memungkinkan melaksanakan kegiatan yang melibatkan siswa di era new normal? Sedangkan siswa harus tetap tinggal di rumah. Diperlukan inovasi dan kreasi agar kegiatan tetap terlaksana tanpa harus melakukan pertemuan offline.
Dibidang sarana prasarana, guru yang terpilih untuk mengatur dan menata sara prasarana sekolah harus mampu melakukan inovasi di bidangnya. Apa yang harus dilakukan sebagai seorang innovator yang menangani masalah ini. Apakah juga diperlukan tatap muka online untuk melakukan kegiatan yang menunjang sarana prasarana. Apakah mungkin mengatasi masalah sarana prasarana secara online. Beberapa hal yang lain akan terjawab, apakah perlu melakukan perubahan managemen sarana prasaran ketika pandemic covid 19 sedang berlangsung dan sesudahnya.






