2. PRO KONTRA

Terbaru258 Dilihat

Ramadhan  masih 20 hari lagi. Namun gaungnya sudah terasa hingga detik ini. Gema Tunjangan Hari Raya dan Gaji 13 sudah mulai terasa. Bayangan TPP sudah didepan mata. Ditambah lagi parcel ramadahan di sekolah sudah dibagikan. Yah, hari ini , komite di sekolahku bagi-bagi parcel Ramadhan. Satu kotak yang berisi sembako, yang terdiri dari gula, kopi, minyak goreng, beras dan kue lebaran. Gembira tiada terkira jelas tergambar di pelupuk mata. Senyum terkembang di bibir teman-teman seperjuangan. Semuanya tertawa gembira dapat parcel Ramadhan.

Sepertinya teman-teman lupa bahwa sebelum parcel Ramadhan dibagikan, Ibu pimpinan sempat menyinggung masalah etika berbicara di grup wa.  Menurut beliau, etika berbicara dengan tatap muka tidak berbeda dengan etika berbicara di grup wa. Jika ada yang memberi informasi yang penting, apalagi masalah dinas, wajib bagi kita untuk memberi respon. Jangan cuma diam dan nyimak saja. Harus memberi respon. Tentu saja respon yang diinginkan adalah respon positif. Padahal selama ini , yang biasa dilakukan teman-teman adalah no comen. Mengapa? Karena setiap kita memberi komentar di grup selalu di jawab sinis oleh senior. Tentu saja, sebagai yunior, kita harus tahu diri dan pandai menempatkan diri. Apalagi orang baru. Seolah ada larangan, bahwa orang baru tidak boleh show up.

“ Lihat itu bu Ninik komentar di grup ,” kata bu Pipin sambil menoleh ke arahku.

“ Emang kenapa dengan dia ?”, tanyaku cuek

“ Show up”, timpal bu Pipin, “ Sok banget dia. Share-share masalah pendidikan. Emang dia itu siapa”.

Bu Pipin masih saja mengomel melihat ulah Bu Ninik yang sedang berbagi informasi dan memberi jawaban bagi teman-teman yang bertanya, seolah-olah memahami betul masalah yang di share di grup wa. Aku tak habis pikir, emang kenapa kalo share informasi di grup tentang sesuatu yang mungkin sangat penting. Emang ndak boleh ta, orang muda share informasi di grup?

Memang sih, Bu Ninik termasuk masih muda di tempat kami. Tapi bukankah yang masuk lebih dulu adalah Bu Ninik. Bu Pipin kan masih tergolong orang baru, meskipun pangkatnya sudah sekelas jendral. Biar sajalah, Bu Ninik berbagi informasi. Sirik amat, batinku

Tapi aku diam saja tidak membalas komentarnya. Selalu kutanamkan dalam diriku, tidak usah berkomentar tentang hal-hal yang tidak terlalu penting. Jika benar, berarti ghibah. Jika salah, berarti fitnah. Mungkin saja Bu Ninik share info itu memang bermaksud ingin berbagi informasi dan bukannya ingin tampil doang alias pencitraan. Bukankah itu tidak dilarang? Gitu sih menurutku. Karena tidak sesuai dengan pikiranku, aku memilih diam dan tidak memberi komentar celotehan Bu Pipin.

“ Bapak Ibu sekalian, monggo dicermati jika ada informasi penting,” lanjut Ibu Pimpinan dengan lantang. Suaranya yang keras membuyarkan cerita kami . Hp langsung kuletakkan . Gawat kalau ketahuan. Bisa- bisa kena semprot. Tadi ada yang dating terlambat, dan langsung disemprot Ibu Pimpinan. Walah, walah…bisa panjang urusannya.

” Dimana etika Bapak Ibu? Kalau ada yang share tentang info resmi dari dinas, tolong di respon. Jangan hanya di lihat setelah itu tidak dijawab. Dimana etika panjenengan semua?”, suara Ibu Pimpinan keras. Beliau banyak membahas masalah  etika berbicara di grup wa.

“ Kalau mau share yang bukan urusan dinas, ya jangan di grup kita. Silahkan share di grup yang lain. Grup kita khusus untuk masalah kedinasan. Kalau ada yang bahagia, atau susah, boleh di info di grup kita. Yang lain, cukup di grup sebelah”. Memang Ibu pimpinan yang baru ini luar biasa tanggap. Hal apapun , yang sekecil-kecilnya ditata dan di atur sedemikian detail. Termasuk masalah meja dan kursi. Yang mejanya tidak rapi, wouw…pasti kena semprot.

“ Meja itu ya, harus rapi , harus bersih. Masa begini saja harus diajari. Saya berbicara seperti ini pantasnya kepada anak saya, tapi kali ini saya terpaksa berbicara pada Bapak Ibu. Kebangeten panjenengan semua itu “, lanjut Ibu Pimpinan. Rona mukanya sedikit kemerahan menahan amarah. Bicaranya penuh penekanan. Beliau mengingatkan untuk selalu menjaga kebersihan, selalu cuci tangan dan jaga jarak. Dan jangan lupa untuk selalu memohon kepada Yang Maha Kuasa agar selalu diberi kesehatan

“ Jangan hanya menjaga kebersihan saja. Tapi selalu berdoa. Itu juga penting”, lanjut Ibu Pimpinan.” Jika sudah berdoa masih sakit itu namanya takdir”. Suaranya keras menggelegar membelah angkasa. Memang hebat Ibuku yang satu ini. Pandai mengambil hati dan juga pandai menasehati tanpa membuat orang lain sakit hati. Mendadak ingat teman yang baru saja terpapar sakit. Padahal sehari-harinya selalu menjaga jarak. Dia paling preventif diantara teman-teman kami. Setiap hari bawa semprotan yang berisi desinfektan karbol sere. Setiap mau duduk, semprot. Pindah duduk, semprot. Bahkan sering kali, tempat duduk temannya juga disemprot. Sangat peduli pada diri sendiri dan lingkungan disekitarnya.

Namanya pak Esi. Orangnya sederhana dan penampilannya bersahaja. Bahkan sangat santun dan menghormati sesama teman. Dalam keseharian selalu menyanyi. Lagu Broeri Pesolima menjadi idolanya. Suaranya memang khas, bahkan boleh dibilang mirip dengan Broeri Pesolima. Baiknya? Jangan ditanya. Pak Esi baik kepada siapa saja.

Pernah suatu hari ketika masih menjabat, Pak Esi memeriksa mejaku.

“ Gak ada kuncinya, ya Bu Sri? “, tanya Pak Esi.

“ Iya, Pak “

“ Tunggu ya, nanti saya panggilkan tukang kunci. Biar mejanya Bu Sri diperbaiki dan dipasang kunci” , katanya sambil berlalu memanggil tukang service kunci.

Dan memang benar, tidak lama setelah Pak Esi berlalu, tukang kunci datang. Memperbaiki dan membetulkan posisi kunci mejaku. Sekarang mejaku sudah ada kuncinya. Memang dia pejabat yang terbaik yang pernah kukenal ditempatku kerja, SMA Amanah. Dan karena kebaikannya itu, aku jadi selalu membantu apa yang dia perlukan. Membantu  membuat laporan. Dan banyak yang lainnya. Menurutku sih, kebaikan itu nggak usah dihitung-hitung. Ya, nggak.

Begitu mendengar Pak Esi sakit, tentu saja aku terkejut luar biasa. Orangnya preventif, bagaimana mungkin bisa sakit? Rasanya tidak mungkin. Apalagi info yang aku dengar, Pak Esi terpapar Corona.

“ Pak Esi sakit covid, Bu”, kata temanku Bu Yayan.

“ Masa sih? “, jawabku. “ Sakit apa?”

“ Corona ”

“ Loh, kok bisa ?”, tukasku. “ Dia loh preventif. Kemana-mana bawa desinfektan “

“ Ini loh, fotonya. Pak Esi sedang terbaring di rumah sakit”, jelas Bu Yayan sambil menunjukkan foto Pak Esi yang sedang terbaring di tempat tidur dengan dipasang alat bantu pernapasan

Duh, Ya Allah. Mengapa orang sebaik dia harus sakit? Mengapa bukan yang lain? Yang sirik banyak. Mengapa bukan mereka? Rasa sedih mengayut di hati, seolah ada rasa sesal mengapa harus pak Esi yang sakit.

Pak Esi orangnya dikenal baik. Meskipun ada juga sih beberapa yang tidak suka dengan Pak Esi. Yah namanya dunia kerja. Pastilah ada rasa suka dan tidak suka. Yang cocok, ya suka. Yang tidak cocok, ya tidak suka. Semoga Pak Esi cepat sembuh, batinku berbisik. Dinding ruangan memberi angina sejuk seolah menjawab doaku. Suasana ruangan yang semula gaduh, mendadak hening seakan mengerti dan memahami, ada rasa sedih diantara kami. Semoga Pak Esi, cepat sehat kembali.

 

 

Tinggalkan Balasan