
Bagi sebagian orang, bisa jadi merasa malu menjalani profesi sebagai seorang tukang tambal ban. Padahal profesi ini sangat dibutuhkan. Bayangkan jika tiba- tiba ban gembos, apa yang kita lakukan. Sudah tentu mencari tukang tambal ban. Sambil berdoa dan berharap semoga ada tukang tambal ban terdekat. Jika tidak? Terpaksa deh dorong motor hingga berkeringat. Apalagi kalau dorong nya jauh. 10 meter saja dorong motor, peluh keringat sudah bercucuran.
Profesi tukang tambal ban, sangat dibutuhkan. Jangan malu menjalani profesi ini. Berikan pelayanan yang maksimal. Berikan senyum dan salam sapa yang memikat sehingga menyenangkan orang yang kesana. Lelah dengan keringat bercucuran berharap ban motornya tidak gembos lagi.
Apalagi jika diberi advis tambahan. Saya pernah bertemu tukang tambal ban yang simpatik. Ketika saya merasa motor saya perlu ditambah angin, dalam sapa yang menarik dia ucapkan
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Nambah angin”
Gegas dia langsung tarik kabel penghubung isi gas dan langsung mencolokkan ke roda motor. Tidak lama. Namun manfaatnya luar biasa. Saya pandang wajahnya yang sudah mulai keriput. Di usia yang memasuki senja masih juga bekerja mencari nafkah. Usia senja yang seharusnya digunakan untuk beribadah dan mendekat kepadaNya, dia gunakan sebagian waktunya untuk mencari nafkah, sekedar tambahan memberi nafkah keluarga.
“Dulu kerja dimana pak?”, tanyaku iseng
“Saya pensiunan bu”, jawabnya. ” Dulu satpam di bank bejexxx.”
Oh ternyata pensiunan. Kenapa ndak minta diperpanjang saja? Toh dia masih kuat, masih bisa menjadi tukang tambal ban.
“Ndak minta diperpanjang pak,?”, tanyaku
“Ndak bu. Malu sama yang muda-muda. Lagi pula kasihan mereka sudah menanti lama meski cuma satpam.”
“Sekarang lagi jamannya pensiun diperpanjang sebagai pegawai tidak tetap. Mendapat bayaran dobel, dari pensiunan dan dari instansi”
“Enak ya bu, diperpanjang gitu. Tapi saya ndak mau bu, mengambil jatahnya anak-anak muda yang sudah lama menunggu. Biarlah yang muda-muda berkarya. Saya sudah tua, tidak bisa gesit seperti ketika muda. Biarlah bu. Diambil yang muda-muda. Saya jadi tukang tambal ban saja sudah bersyukur. Biar jadi ladang pahala buat saya. ”
Panjang lebar ceritanya seolah sangat paham arti hidup dan kehidupan. Betapa banyak orang yang sudah udzur enggan meninggalkan jabatan demi isi perut sendiri hingga lupa bahwa yang muda sudah menanti.
Dua ban motor selesai diisi angin, saya bayar dengan uang 5 ribu
“Tidak usah kembali pak, “kataku. Tidak ada pamrih apapun. Cuma niat membantu
“Terima kasih bu, semoga rejekinya tambah banyak, ” doanya. Ternyata masih banyak orang yang tulus dan baik di jagad bumi ini. Meskipun yang tidak baik juga jauh lebih banyak. Semua kembali pada diri kita. Jika orangnya baik, akan ketemu dengan orang yang baik. Yakin dan percaya, bahwa Allah akan mencukupkan rejeki dan menjadi pelindung orang orang yang baik. Rejeki akan dilipatgandakan bagi orang yang pandai bersyukur. Maka Nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?











