Berjalan menyusuri koridor sekolah. Semalam suntuk mengerjakan tugas sekolah hingga malam telah larut. Rasa kantuk masih melekat menggayut manja di pelupuk mata. Lelah terasa menyiksa di badan. Namun Yanu harus menyelesaikan urusannya dengan Sera. Tugas-tugasnya yang menumpuk, membuat Yanu mengabaikan Sera yang kemarin sore sempat dijanji diajak jalan ke mall. Yanu bingung antara Sera yang suka mandiri dengan Nadia yang suka merajuk manja. Mana yang harus dipilih? Dua-duanya menawan hati. Dua-duanya cantik mempesona. Memilih keduanya, jelas tidak mungkin. Masih sekolah dibangku SMA sudah punya pacar dua. Gimana nanti kalau kuliah ya… Walah walah…
Menyadari diri memiliki tampang penuh pesona membuat Yanu semakin percaya diri. Sering tak enak hati menolak ajakan teman ceweknya. Kadang makan di kantin saja minta ditemani Yanu. Yah lumayan lah, dapat traktiran semangkok bakso. Meskipun tak sedikit yang selalu ditolak dengan berbagai alasan yang sering tidak masuk akal.
” Yanu…,” suara lirih yang sangat dikenalnya.
” Sera..”, Yanu menoleh ke arah suara itu. “Kamu ngapain disini?“ Yanu menatap sekeliling. Ada apa gerangan hingga Sera ke kelas 12P5?
“ Pinjam catatan,” sahut Sera
” Kok gak pinjam di aku? “
“ Tadi malam kamu tak telpon, tak wa tidak ada tanggapan. ”
Yanu terdiam menatap tajam ke dinding langit. Semalam memang dia telah mengabaikan Sera. Ternyata ini jawabannya. Sera mau pinjam catatan. Yanu pikir Sera mau nagih janjinya ngajak jalan ke mall atau nonton. Padahal tugas Yanu banyak. Kalau diangkat tak enak menolak. Kalau tidak diangkat, tugas terbengkalai. Alamaaakkkk…..
” Kamu sudah sarapan? “tanya Yanu mengalihkan.” Yuk ke kantin. Tapi kamu yang bayar yaaa… Aku lagi gak bawa duit niiihhh… “. Berdua berjalan ke arah kantin.
” Eh, kirain kamu yang mau bayar. Kan kamu yang ajak”
” Yah, kali ini kamu deh…”
” Terus giliran kamu kapan? “
Yanu tersenyum nyengir.
Duduk di kantin berdua dengan Sera sambil makan bakso. Wih, nikmatnya. Apalagi dibayarin. Hehehe…
” Kok kamu lihat aku sih? “, tanya Yanu sambil terus makan bakso. Lapar nih
” Kalo makan jangan sambil ngomong…”, tukas Sera
” Eh, iya…iya…” Yanu makin nyengir aja. Tiba-tiba dilihatnya sosok yang sangat dikenalnya . Nadia.
” Waduh, gawat nih”, Yanu mulai tidak tenang. Matanya lirik sana sini berpikir keras agar tidak papasan dengan Nadia. Tapi mana mungkin? Nadia sudah pasti sangat mengenalnya. Wah gawat nih, dia malah kesini. Berjalan dari arah belakang Sera. Nadia dan Sera sama-sama cantiknya. Nadia manis dan manja. Sedikit pelit dan jarang nraktir. Beda dengan Sera. Sering nraktir bakso dan pangsit. Tapi Sera mandiri dan gak pernah bermanja-manja. Apa kata dunia kalau Sera tahu, dia juga suka dengan Nadia. Walah walah, gawat. Bener-bener gawat. Dunia bisa kiamat








