Cerita Anak | Tanggung Jawab Kristin

Fiksiana815 Dilihat

“Kristin!”

Kamila berteriak di depan kelas. Dia melihat temannya membuang sampah. Temannya membuang sampah di halaman depan kelas.

Teman Kamila itu bernama Kristin. Mereka berdua telah lama bersahabat. Keduanya seringkali saling mengingatkan.

“Kenapa kamu buang sampah sembarangan?” tanya Kamila lagi.

Kristin berteriak, “Bukan aku!”

Kamila mendekati Kristin. Dia ingin memastikan bahwa dia tidak salah lihat. Dengan pelan dia bertanya pada Kristin.

“Kamu yakin, Kristin?” tanya Kamila.

Kristin menganggukkan kepala. Dia tetap tidak mengakui kesalahannya. Dia bahkan hendak pergi meninggalkan Kamila.

Kamila mencegahnya dengan berkata, “Tunggu, Kristin!”

Kristin pun membatalkan niatnya. Dia menatap Kamila. Keduanya tiba-tiba terdiam.

“Kristin… Kamu lupa dengan keyakinan kelas kita?” tanya Kamila.

Kristin masih terdiam. Wajahnya terlihat menunduk. Tiba-tiba dia ingat dengan keyakinan kelas yang dibuat.

Kristin pun menjawab, “Aku ingat, Kamila.”

Kamila menganggukkan kepala. Selanjutnya dia melihat Kristin mengangkat kepala. Setelah itu keduanya bertatapan cukup lama.

“Salah satu keyakinan kelas kita adalah kebersihan,” jawab Kristin.

Kristin pun melanjutkan ucapannya. Dia juga ingat tentang konsekuensi. Dia pun akhirnya memungut sampahnya kembali.

Kamila melihat Kristin membuang sampah pada tempatnya. Dia tersenyum melihatnya. Selanjutnya Kamila melihat Kristin memungut sampah lain di sekitarnya.

“Aku bantu, ya, Kristin?” tanya Kamila menawarkan bantuan.

Kristin menjawab, “Tidak usah, Kamila. Biar aku sendiri yang menyelesaikannya.”

Kamila tersenyum. Dia pun menjauh dari Kristin. Dia duduk di kursi panjang depan kelas.

“Selesai!” teriak Kristin sambil tersenyum.

Keduanya pun mencuci tangan. Setelah itu pergi ke kantin bersama-sama. Di kantin banyak murid lain berbelanja.

Kamila mengajak Kristin duduk. Mereka duduk di bangku semen. Bangku itu di bawah pohon mangga.

Angin segar bertiup mengenai wajah mereka. Keduanya terlihat asyik mengobrol. Sesekali diselingi dengan tawa.

“Kristin… Kenapa kamu menolak tawaranku tadi?” tanya Kamila sambil menggoyangkan kakinya.

Kristin menyahut, “He he he. Kan, itu kesalahanku. Jadi aku yang harus bertanggung jawab. Lagian, kan, begitu keyakinan kelas kita.”

“Iya juga, ya. He he he,” sahut Kamila sambil tertawa kecil.

Keduanya pun tertawa di tengah keramaian. Sampai mereka tidak menyadari suatu hal. Guru kelasnya telah duduk di samping Kamila.

“Ada apa ini? Pagi-pagi sudah tertawa-tawa,” sapa Ibu Guru dengan ramah.

Kamila dan Kristin menghentikan tawanya. Keduanya menoleh ke arah Guru kelasnya. Kamila mulai angkat bicara.

“Begini, Bu Guru. Tadi Kristin membuang sampah sembarangan. Saya menegurnya, tapi awalnya dia keberatan,” jawab Kamila.

Bu Guru yang merasa penasaran pun bertanya, “Terus bagaimana kelanjutannya?”

Kamila pun menceritakan kejadian yang mereka alami. Sementara Kristin hanya tersenyum malu-malu. Dalam hati Kristin mengakui kesalahannya melanggar keyakinan kelas.

“Wah hebat kamu, Kristin! Berani bertanggung jawab,” kata Bu Guru memberikan penghargaan kepada Kristin.

Kristin pun menyahut, “Terima kasih, Bu. Saya hanya ingin menjalankan keyakinan kelas.”

“Bagus itu! Keyakinan kelas kan kita bersama yang bikin. Jadi kita juga yang harus mematuhinya,” kata Bu Guru menjelaskan.

Kamila dan Kristin menganggukkan kepala. Mereka berdua telah memahami penjelasan itu. Bu Guru pun mengajak mereka masuk kelas.

Mereka telah tiba di dalam kelas. Bu Guru mengingatkan kembali keyakinan kelas yang sudah disepakati bersama. Kamila dan teman-temannya memperhatikanĀ dengan saksama.

mo

 

 

Tinggalkan Balasan

2 komentar