Kesatria Titi Gangsa
“Jangan asal mengambil tindakan! Apa kau tidak berpikir ke depan?”
Lelaki bertubuh tegap itu tidak segera menjawab. Dia hanya terdiam menundukkan kepala. Pandangannya tajam menatap lantai mengilat yang didudukinya dalam posisi bersila dengan kedua tangan masing-masing bertumpu pada lututnya.
“Atau jangan-jangan kau menginginkan kembali terjadi peperangan? Asal kau tahu, Patih. Kita sudah lemah. Tidak perlu memaksakan diri untuk merebut kemenangan. Tidak akan ada gunanya. Sia-sia saja. Paham?!”
Suara tegas penuh wibawa itu seakan tidak mampu melemahkan tekad bulat lelaki yang masih tertunduk itu. Dia sudah tidak peduli. Dia hanya peduli pada tujuannya untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Pejanggik. Berulangkali dia telah meyakinkan junjungannya yang saat ini berdiri tegap di hadapannya. Namun Raja Pejanggik tetap tidak juga mau mengubah keputusannya. Beberapa kali Jero Batu berusaha membakar semangat Raja Pejanggik untuk membangkitkan kerajaan. Namun itu justru membuat Raja Pejanggik berdiri di batas kesabaran. Kesabaran itupun akhirnya berubah menjadi kemurkaan. Kobar kemarahan yang akhirnya membuat beliau tegas mengambil keputusan.
Sejenak keheningan menyergap seisi balairung istana. Tidak ada satu suara pun setelah Raja Pejanggik terlihat menapakkan kakinya semakin jauh dari Jero Batu. Jero Batu masih menyimpan batu keinginan di hatinya agar Raja Pejanggik mengubah keputusannya.
“Tunggu, Baginda!”
Terdengar suara Jero Batu memecah senyap nan pekat ruangan besar itu. Sesaat setelahnya terdengar Raja Pejanggik menghentikan langkahnya. Keduanya bersitatap saat Jero Batu mengangkat kepalanya.
“Maafkan hamba, Baginda. Hamba tidak bermaksud menyulut kembali peperangan. Hamba hanya ingin Pejanggik bisa berdiri megah di atas kaki sendiri dan bebas dari cengkeraman penjajah.”
Raja Pejanggik melangkah mendekati Jero Batu yang kembali menundukkan kepala.
“Tahu apa kau tentang kemegahan sebuah kerajaan, Patih? Kau tidak akan pernah tahu sampai kau berhasil menggulingkan kekuasaanku!” Raja Pejanggik bersedekap dan memandang tajam ke arah Jero Batu. Sesekali dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan berisi penggawa, prajurit, dan pengawal istana yang semuanya menundukkan kepala.
“Maafkan hamba, Baginda. Hamba sama sekali tidak bermaksud untuk itu,” jawab Jero Batu sambil membungkukkan badannya lebih dalam hingga dahinya menyentuh lantai.
“Dasar kau pendusta! Pengawal!”
Teriakan keras Raja Pejanggik pun membuat beberapa pengawal pilihan bergegas berlari mendekat. Setelah beberapa prajurit berdiri di sampingnya, Raja Pejanggik pun kembali menurunkan sebuah perintah.
“Tangkap dia dan buang ke laut sekarang juga!”
Demi mendengar titah raja, sepuluh orang pengawal berbadan kekar dengan sigap menangkap Jero Batu yang tidak ada niat melawan. Dengan mudah, mereka pun membawa Jero Batu keluar ruangan,
Balairung pun akhirnya benar-benar lengang.
Namun tidak demikian dengan keadaan di tengah lautan beberapa waktu setelahnya. Teriakan demi teriakan terdengar di sela-sela keriuhan debur ombak. Beberapa orang nelayan terlihat berusaha keras menarik jala yang mereka gunakan untuk menangkap ikan. Ada yang berbeda dengan hasil tangkapan mereka kali ini. Dengan hati-hati salah seorang nelayan mengangkat jala dan melepaskan hasil tangkapannya di atas perahu.
Teriakan itu berganti tangisan.
Tangisan bayi terdengar memecah udara laut yang lembap becampur garam. Beruntung seorang nelayan akhirnya mampu meredakan tangisan bayi laki-laki tersebut setelah berusaha menghangatkan tubuh montok itu di dekat lampu badai yang menyala benderang. Dia pun akhirnya memerintahkan nelayan lainnya untuk merapatkan perahu ke pantai.
Setibanya di pantai, terlihat banyak orang mengerumuni bayi yang digendong seorang nelayan tersebut. Mereka pun berebut melemparkan pujian. Kerumunan berkurang ketika nelayan yang menggendong bayi itu perlahan meninggalkan jejak-jejak kaki di atas pasir.
Pagi merekah keemasan ketika nelayan itu tiba di rumah. Dia disambut dengan suka cita oleh istrinya. Keduanya pun akhirnya mencurahkan sepenuhnya kasih sayang kepada bayi yang mereka beri nama Jero Batu.
Siang dan malam pun menyapa bumi bergantian sesuai aturan yang semestinya. Tanpa terasa, bayi yang ditemukan di tengah lautan itu telah tumbuh menjadi pemuda yang taat beribadah. Di usia muda, dia telah bisa menentukan pilihan agama apa yang harus dianutnya. Dia tidak pernah dipaksa mengikuti agama kedua orang angkatnya. Meskipun besar di keluarga beda agama, dia tetap berusaha keras memegang teguh ajaran agama yang dianutnya. Keteguhan hatinya membuat kedua orang tua angkatnya akhirnya ikhlas melepasnya untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
“Pergilah, Jero. Lakukan apa yang menurutmu baik. Tapi ingat pesan ayah dan ibu, sekeras apa pun kemauanmu terhadap sesuatu, jangan sampai memaksakan kehendakmu. Dekati orang-orang baru dengan ini,” kata ayah angkat Jero sambil menunjuk dadanya sendiri.
Jero menganggukkan kepala lalu mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
“Selamat tinggal, Ayah dan Ibu. Doakan tyang menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi sesama.”
Seperti halnya pertemuan, perpisahan pun menjadi sebuah kepastian yang tidak bisa dielakkan dari sisi kehidupan siapa pun. Keduanya hanyalah perkara menunggu waktu yang tepat. Masa ketika keduanya telah tiba di garis batas yang telah ditentukan oleh-Nya. Dan, pagi itu, tanpa air mata, Jero Batu meninggalkan orang tuanya di Karang Mas-mas. Dalam lindungan doa-doa terbaik kedua orang tua angkatnya, dia melangkah ke utara tanpa menoleh lagi ke belakang. Saat ini tekadnya hanya satu, belajar mendalami dan menyebarkan pengetahuan yang dimilikinya.
Hingga di sebuah wilayah kekuasaan kerajaan pimpinan Anak Agung Gde Ngurah, Jero Batu memutuskan beristirahat. Di tempat baru tersebut, dia berkenalan dengan Ida Bagus. Kesamaan latar belakang keduanya menyebabkan keduanya cepat akrab. Sebuah keakraban yang akhirnya menjadi awal bagi Jero Batu untuk memulai tugas baru sebagai seorang pejuang syiar Islam.
“Jero… Ada baiknya kau minta izin dulu pada penguasa wilayah ini.”
Demikian Ida Bagus berusaha memberikan masukan pada Jero pada suatu hari ketika melihat semakin banyak orang yang mengikuti ajarannya. Jero pun sepakat dengan usulan sahabatnya tersebut.
“Bisakah kau menolongku mengantarkan pada penguasa wilayah ini, Ida?”
“Apa pun akan kulakukan untukmu, Teman. Mari saya antar,” kata Ida Bagus sambil menarik tangan Jero Batu menuju rumah pengelola wilayah di utara pusat kerajaan yang dipimpin Anak Agung Gde Ngurah tersebut.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk tiba di sebuah rumah besar milik penguasa wilayah. Dia adalah Kiai Nurjinah, kaki tangan kesayangan Anak Agung Gde Ngurah. Bukan tanpa alasan Anak Agung Gde Ngurah bersikap demikian. Kiai Nurjinah terbukti memiliki kesetiaan yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Sosok karismatik ini pun telah beberapa kali menjadi jalan bagi Anak Agung Gde Ngurah untuk bisa memasuki hati rakyat Lombok. Bagaimanapun juga, Kiai Nurjinah berperan besar bagi diterimanya Anak Agung Gde Ngurah sebagai penguasa. Khususnya penduduk di wilayah Utara pusat kerajaan. Tak heran jika akhirnya Kiai Nurjinah pun diberikan hadiah berupa wilayah pengelolaan yang luas. Sebuah wilayah wujud dari rasa sayang atasan kepada bawahan yang akhirnya dinamakan Sayang-sayang.
Dan, hari ini di wilayah itu, Jero Batu dan Ida Bagus menapak jalanan di tengah perumahan penduduk. Tanpa kesulitan mereka pun menemukan rumah Kiai Nurjinah yang kemudian menyambut mereka dengan ramah tetapi penuh selidik.
“Silakan masuk, Ida. Maaf kalau boleh tahu, siapakah dia? Apakah dia temanmu?”
“Maaf, Kiai. Benar. Dia adalah Jero Batu. Teman saya,” jawab Ida Bagus sambil menatap ke arah Jero Batu yang sedang mengambil tempat duduk di samping Kiai Nurjinah.
“Baiklah, Anak Muda. Kalau boleh tahu lagi, apa maksud kedatanganmu ke tempat saya yang sederhana ini?” Kiai Nurjinah bertanya sambil terus mengamati gerak-gerik Jero Batu. Dia berhenti mengamati ketika hatinya yakin bahwa Jero Batu bukanlah orang yang jahat.
Tanpa membuang kesempatan, Jero Batu pun mengutarakan maksud kedatangannya. Dia menceritakan tentang kisah hidupnya mulai dari dibuang ke laut oleh Raja Pejanggik, kelahirannya kembali ke dunia berwujud bayi hingga saat ini menjadi seorang pemuda gagah. Kiai Nurjinah terlihat mengangguk-anggukkan kepala. Dia bisa membaca bahwa sesungguhnya Jero Batu bukanlah orang biasa.
Kiai Nurjinah yakin kalau Jero Batu memiliki kelebihan yang bisa membuat orang lain tunduk padanya dan mengikutinya. Jero Batu memiliki karisma yang tidak akan seorang pun mampu menolak permintaannya. Sehalus apa pun cara menolaknya. Dari air mukanya yang bersih, Kiai Nurjinah juga yakin kalau kelak Jero Batu akan menjadi orang besar yang disegani banyak orang. Jero Batu juga diyakini akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak mudah dilupakan ajaran kebaikannya.
“Saya hanya ingin menyebarluaskan pengetahuan agama yang saya miliki, Kiai,” jawab Jero Batu sambil menunduk takzim ke arah Kiai Nurjinah.
Kiai yang telah banyak makan asam garam kehidupan itupun akhirnya menyahut dengan pertanyaan baru, “Kau yakin akan bisa mengatasi kultur masyarakat sini, Nak Jero?”
“Insyaallah saya bisa, Kiai. Saya akan mencoba berbagai pendekatan kepada masyarakat agar bisa menerima ajaran kebaikan yang saya sebarkan.” Jero Batu menarik napas sesaat setelah akhirnya meneruskan kata-katanya, “sebab dengan terus mencoba, saya bisa tahu gagal atau berhasil.”
Kiai Nurjinah terlihat mengelus-elus jenggotnya yang mulai keabuan. Dia tidak berhenti mengangguk-anggukkan kepala ketika Jero Batu menjawab pertanyaannya.
“Jika kau gagal, apakah kau akan terus mencoba atau justru akan berhenti?” Kiai Nurjinah kembali mencecar Jero Batu dengan pertanyaan. Dia ingin mengetahui sedalam apa kemampuan yang dimiliki Jero Batu.
“Saya akan berhenti mencoba menggunakan cara pendekatan sama, Kiai. Saya akan memilih menggunakan cara lainnya. Meskipun saya sendiri belum yakin apakah cara selanjutnya akan lebih baik hasilnya, tetapi setidaknya masih banyak cara lainnya yang layak untuk diusahakan. Bukankah berusaha terus hingga mencapai hasil terbaik merupakan kewajiban manusia, Kiai?”
Menyadari semua kelebihan dan kemampuan yang dimiliki, Kiai Nurjinah pun memberikan izin sepenuhnya kepada Jero Batu untuk menyebarluaskan agama Islam di wilayah Sayang-sayang dan sekitarnya. Jero Batu pun menganggukkan kepala setelah Kiai Nurjinah selesai menyampaikan sebuah syarat.
“Tapi ingat, Nak Jero. Kau jangan pernah membuka mulut kalau aku mengizinkanmu untuk melakukan syiar Islam di sini. Lakukan syiarmu dengan cara sebaik-baiknya agar Anak Agung Gde Ngurah tidak curiga. Saya khawatir jika dia mencurigaimu, maka akan habis juga riwayat kepegawaianku di istana. Bahkan bisa jadi, Anak Agung Gde Ngurah akan membunuhku. Sebagai seseorang yang pernah tinggal di istana raja, kau pasti memahami persyaratan yang saya ajukan.”
Meskipun Kiai Nurjinah dipandang oleh masyarakat sekitar dengan sebutan yang tidak mengenakkan, tetapi baginya Islam tetaplah agamanya. Dan, dia memiliki kewajiban untuk turut serta dalam upaya penyebarluasannya. Jika tidak mampu melakukan sendiri karena satu dan lain hal, setidaknya dia bisa menggunakan kewenangan yang dimilikinya untuk mendukung penyebarluasan oleh orang lain. Begitu cara Kiai Nurjinah bisa membuat dirinya bermanfaat bagi masyarakat di wilayahnya tanpa mereka ketahui dan sadari.
“Saya tahu, Nak Jero. Menyebarluaskan hal baru itu bukan perkara mudah. Namun yakinlah, bukan perkara mudah bukan berarti sulit kita lakukan. Semua bisa dilakukan sebaik-baiknya. Ingatlah! Selalu ada Sang Maha Memudahkan yang menghargai setiap niat dan usaha baik kita.”
“Baik, Kiai. Saya paham. Terima kasih atas izin dan restunya. Semoga segalanya benar-benar dilancarkan dan dimudahkan. Aamiin.”
“Aamiin.”
Obrolan ketiganya pun akhirnya berlanjut ke hal-hal yang lebih hangat. Tentang kondisi wilayah pengelolaan Kiai Nurjinah. Perihal Ida Bagus yang tidak kunjung menikah. Pun mengenai cerita masa lalu Jero Batu. Ketiganya larut dalam hangat yang tidak dibuat-buat. Tawa ketiganya pun bukanlah topeng belaka. Namun kehangatan itu menghadirkan wajah-wajah asli ketiganya. Wajah-wajah asli yang masih tetap sama ketika mereka beriringan menuju meja makan.
Setelah menikmati jamuan makan malam, Jero Batu mengajak Ida Bagus ke sebuah bukit yang menjulang di pinggir wilayah pengelolaan Kiai Nurjinah. Di atas bukit itu keduanya banyak berbincang tentang strategi yang akan dilakukan agar penyebarluasan ajaran keagamaan terasa aman. Keduanya bertukar pendapat yang sesekali diselingi dengan tawa penuh kemenangan. Kemenangan karena telah menemukan cara mengelabui Anak Agung Gde Ngurah. Sebuah cara yang akan bisa membuat mereka berdua dan juga Kiai Nurjinah tidak perlu was-was dan takut akan ketahuan.
Berkat masukan dari Ida Bagus, Jero Batu tidak kesulitan menjalankan misinya. Sedikit demi sedikit pengikutnya semakin bertambah. Sebuah keadaan yang membuat kebahagiaan mampu menipiskan gejolak hati yang membuncah.
Gejolak hati untuk sebuah perubahan yang dari waktu ke waktu tidak pernah berubah. Termasuk perkara gejolak hati dengan lawan jenis. Di salah satu bagian wilayah pengelolaan Kiai Nurjinah tersebut, pertama kalinya dada Jero Baru menjelma debar tidak menentu saat sepasang matanya menangkap bayangan seorang perempuan yang sangat memesona. Seorang perempuan yang dia harapkan akan menjadi salah satu rahasia takdir kehidupannya yang terbuka.
Benar saja. Tentang suratan takdir telah dipastikan pada Jero Batu. Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk melangsungkan pernikahan dan melahirkan seorang putra yang berparas tampan. Dia pun memberikan nama Ismail dengan harapan anaknya kelak akan tumbuh menjadi sosok yang rela mengorbankan dirinya demi agamanya.
Demi mengenalkan agama sejak dini, suatu hari Jero Batu mengajak serta Ismail untuk menyebarluaskan syiar agama. Dalam perjalanan dia bertemu dengan Ida Bagus. Keduanya pun berbagi tawa dan bahagia sama seperti sebelum-sebelumnya. Setelah itu, Jero Batu pun pamit dan melanjutkan perjalanan bersama Ismail. Tak lama sejak kepergian Jero Batu, Ida Bagus bertemu dengan seorang pembawa kabar berita.
“Kenapa kau kelihatan tergesa-gesa, Pak? Kau mau ke mana?” Tanya Ida Bagus kepada seorang lelaki yang kebetulan melintas di depannya.
Lelaki tersebut menghentikan langkah dan mengatur napasnya lalu menjawab, “Saya mau ke Langko. Mau mengabarkan kematian.”
Terdorong rasa penasaran, Ida Bagus bertanya, “Siapa yang meninggal?”
Demi mendengar jawaban dari lelaki pembawa berita tersebut, Ida Bagus menggeleng-gelengkan kepala. Kedua tangannya meraih pundak lelaki tersebut dan mengguncang-guncangnya sambil berkata, “Ah! Kau bisa saja bercanda. Mana mungkin. Baru saja aku berpapasan dengannya saat dia mau melakukan perjalanan. Masa kau bilang dia telah meninggal tadi pagi. Yang benar saja. Hahaha….”
Ida Bagus tidak percaya kabar yang sampai di telinganya. Namun akhirnya dia pun berusaha mencari tahu kebenaran. Dan, ternyata dia salah. Jero Batu benar-benar telah meninggal sebelum berhasil menjadikan Ismail sebagai penerusnya.
Harapan besar Jero Batu pun akhirnya tidak pernah bisa mengalahkan perputaran waktu. Detik demi detik jatah usianya pun berkurang. Hingga dia benar-benar berada di tepi batas terakhirnya. Sehebat apa pun, seseorang tidak akan mampu menafikan takdir kematian yang telah digariskan. Namun dia berhasil menyembunyikan syiar yang dilakukan dari penguasa demi menjaga nama kiai yang telah mendukungnya.
Dukungan yang dia peroleh hingga tutup usia dan dimakamkan di sebuah bukit yang lumayan jauh dari tanah yang dikelola Kiai Nurjinah. Pemakaman itu dikenal sebagai makam Jero Batu Ismail, diambil dari nama anaknya. Kini makamnya dikenal dengan nama Titi Gangsa yang dalam versi kepercayaan Hindu berarti jalan yang dipakai menuju puncak tertinggi dalam sebuah prosesi pengabenan mayat.
Nama Titi Gangsa juga bisa berasal dari kata Tete yang berarti jembatan kecil dan Ganggas yang artinya panjang. Nama ini selain menunjukkan posisi makam yang berada di atas bukit tinggi, untuk bisa mencapainya pun harus melewati jembatan kecil panjang yang dulunya dibuat dari satu pohon kamboja utuh, juga sebagai pengingat bahwa untuk mencapai tujuan diperlukan jiwa kesatria agar bisa menundukkan rintangan kehidupan.






