Titik Balik: Jelajah Lombok (Bag. 5)

Cerpen655 Dilihat

5 | Jelajah Lombok

 

Pagi tiba ketika mereka berkemas-kemas. Selepas salat Subuh berjamaah di masjid kampung, mereka mempersiapkan diri, termasuk kakek dan nenek Opin. Mereka berdua diajak ikut serta ke rumah Opin. Sementara Opin bersama ayah dan kakeknya mempersiapkan pakaian dan barang-barang, ibu dan nenek Opin menyiapkan bekal selama perjalanan. Terutama menyiapkan air minum ke dalam beberapa botol khusus yang telah dibersihkan.

Dingin pagi masih menusuk tulang ketika ayah Opin menyalakan mobilnya. Tidak lama kemudian mobil itu pun perlahan meninggalkan halaman rumah. Mobil pun menderu melintas jalanan. Dengan hati-hati ayah Opin mengendarai mobil di jalan raya menuju ke arah Timur. Setelah melewati hutan dan bukit akhirnya satu jam kemudian rombongan tiba di Sembalun kecamatan Lombok Timur.

Rombongan pun memutuskan untuk beristirahat di rumah teman ayah Opin. Di tempat yang beberapa bagiannya masih tertutup kabut itu Opin memasang jaket merah marunnya. Dia pun berjalan mengikuti ayahnya. Mereka akhirnya dipersilakan masuk setelah mengucapkan salam. Mereka pun dipersilakan duduk di berugak milik tuan rumah. Di berugak yang dipenuhi buku bacaan itu mereka berbincang-bincang.

“Tumben mampir sini, Pak Zul. Bagaimana kabarnya?” tanya tuan rumah sambil menyodorkan dua cangkir kopi.

Ayah Opin tersenyum lalu menjawab, “Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, Pak Jun. Kamu sendiri bagaimana? Bisnis kopi lancarkah?”

Pak Jun tertawa kecil sambil bercerita tentang usaha kopinya yang sudah merambah dunia internasional. Dia juga menceritakan banyak orang-orang luar negeri yang menjadi langganan tetapnya. Di sela-selanya bercerita, Pak Jun tidak henti-hentinya menunjukkan beberapa kopi bubuk kemasan hasil produksinya. Sementara ayah dan kakek Opin menyimak dengan saksama. Mereka akhirnya mengobrol tentang banyak hal terutama produksi kopi milik Pak Jun.

Sementara itu, Opin mengikuti ibu dan neneknya menuju kebun stroberi tidak jauh dari berugak itu. Di sana Ibu Jun menjelaskan tentang proses penanaman hingga pemanenan buah stroberi. Opin tidak mau melewatkan hal itu. Dia pun merekam penjelasan Ibu Jun dengan baik dalam ingatan. Setelah puas mengelilingi kebun yang dipenuhi tumbuhan menjalar dengan buah berwarna merah itu, mereka pun bergabung dengan ayah dan kakek Opin di berugak.

Di berugak dari kayu dengan enam buah tiang penyangga yang biasa disebut sekenem itu mereka membaur dalam cerita. Tawa pun pecah di antara mereka. Untuk mengisi waktu, mata Opin menjelajahi bagian samping berugak. Di sana terdapat rak buku berisi berbagai macam buku. Pandangan matanya tertuju pada sampul buku bergambar beberapa rumah adat Lombok. Dia pun minta izin untuk mengambil dan membacanya.

Dengan tekun Opin membuka lembar demi lembar yang ada. Matanya tertuju pada salah satu judul di dalamnya. Buku itu tentang Desa Adat Sembalun Lawang. Matanya berbinar saat menemukan gambar-gambar rumah dan hamparan sawah. Dia bergegas mengeluarkan perlengkapan menggambarnya. Dengan cekatan dia menyalin gambar kompleks rumah itu ke dalam kertas.

Pak Jun tersenyum melihat Opin yang semangat menggambar. Dia pun mendekati Opin dan duduk di sebelahnya. Tanpa diminta dia pun bercerita.

“Desa itu bernama Desa Beleq atau Desa Besar atau Desa Induk Sembalun. Di kompleks itu terdapat tujuh buah rumah tradisional,” kata Pak Jun membuka ceritanya.

Mendengar itu Opin menoleh dan tersenyum. Sesaat kemudian dia melanjutkan menggambar. Sedangkan Pak Jun kembali meneruskan ceritanya.

“Untuk bisa ke sana, kita harus melewati rumpun bambu yang tertata rapi. Setelah sampai di desa kita bisa melihat arsitektur tradisional Lombok, kata Pak Jun.

Sementara Pak Jun bercerita, Opin terus menggambar. Sedangkan yang lainnya ikut memperhatikan keduanya sambil sesekali tersenyum.

“Arsitektur rumah di kawasan yang sekarang menjadi tujuan wisata itu sangat sederhana. Atapnya terbuat dari ilalang dan dindingnya dari anyaman bambu atau bedeg. Pintu rumah pun dibuat rendah yang mengajarkan bahwa kita harus menunduk sebagai wujud sopan saat memasuki rumah orang lain,” lanjut Pak Jun.

Opin yang semakin tertarik mendengar cerita Pak Jun pun memutuskan berhenti menggambar. Dia menatap ke arah lelaki berjaket tebal itu.

“Keunikannya apa sih, Paman?” tanya Opin.

Pak Jun masih terdiam. Dia menoleh ke arah istrinya yang duduk di samping nenek Opin. Ibu Jun pun bergerak dan mendekat ke arah Opin. Dengan sabar dia melanjutkan cerita suaminya itu.

“Selain keunikan arsitekturnya, di kompleks desa itu kita bisa melihat hamparan petak-petak sawah di kejauhan,” kata Ibu Jun sambil menunjuk foto hamparan petak-petak sawah yang ada di dalam buku.

Opin mengangguk-anggukkan kepala kemudian mempersilakan Ibu Jun melanjutkan ceritanya. Perempuan berjilbab hitam itu pun melanjutkan ceritanya tentang nilai lebih desa adat tersebut. Salah satunya adalah bisa menatap gunung Rinjani dari kejauhan.

“Wah! Sepertinya seru sekali, Bu. Ayah ayo kita ke sana,” kata Opin kemudian.

Mendengar permintaan Opin, ayahnya hanya tersenyum. Dia pun menjelaskan bahwa mereka tidak akan ke tempat itu karena perjalanan masih jauh. Dia berjanji lain kali akan mengajak Opin mengunjungi desa adat itu.

Setelah itu pun mereka pamit melanjutkan perjalanan pulang. Pak Jun membawakan mereka oleh-oleh berupa beberapa bungkus Kopi bubuk sembalun buatan sendiri dan juga sekantong plastik stroberi yang dipetik langsung di kebun.

Kurang lebih satu jam setengah berlalu saat rombongan itu tiba di desa Gapuk Lombok Timur. Di desa itu mereka turun dan berjalan menuju salah satu kios kecil yang berderet di pinggir jalan. Ibu Opin memutuskan membeli beberapa ikat jajan bantal.

Sepanjang perjalanan mereka menikmati jajan dengan bahan utama ketan berisi potongan pisang. Nenek terlihat antusias bercerita saat Opin bertanya tentang cara pembuatannya.

“Kukus terlebih dahulu ketan yang sudah dicuci. Setelahnya masak campur dengan gula pasir, garam, dan parutan kelapa. Aduk sampai rata kemudian bungkus dengan janur membentuk seperti bantal, kemudian isi dalamnya dengan pisang matang yang sudah dipotong. Ikat janur tersebut dengan kuat kemudian kukus hingga matang. Gampang, kan?”

Opin menganggukkan kepala kemudian bertanya, “Harga sebijinya berapa tadi, Nek?”

“Murah, Nak. Cuma seribu rupiah. Oya, kalau kita belinya sepuluh ribu dapat berapa, ya? Opin tahu tidak? He he he…”

Opin tahu kalau neneknya sedang mengetes kemampuan matematikanya. Dia tidak segera menjawab. Anak lelaki itu justru melihat ke arah ayah dan ibunya yang sedang tertawa. Menyadari itu dia pun berusaha sekuat pikiran menjawabnya.

“Ngg… Kalau tidak salah dapat sepuluh, Nek,” jawab Opin sambil melihat kakeknya yang kemudian menganggukkan kepala.

Neneknya pun akhirnya memberikan jempol sambil berkata, “Wah! Hebat kamu, Nak. Sekarang sudah pandai Matematika.”

Merasa tersanjung Opin menepuk-nepuk dadanya. Dan akhirnya sepanjang perjalanan pagi itu kepala Opin sibuk mengingat-ingat pelajaran Matematika. Tujuannya adalah untuk berjaga-jaga.

Tanpa terasa perjalanan mereka telah sampai di kabupaten Lombok Tengah. Mengingat masih cukup waktu, ayah Opin menawarkan pada mereka tujuan sebelum pulang.

“Sebagai gantinya karena tadi kita tidak sempat ke Desa Beleq Sembalun, bagaimana kalau Kita mampir ke desa Sade?”

Mereka semua setuju. Perjalanan pun akhirnya dilanjutkan. Ayah Opin memutuskan mampir pom bensin. Di sana pria berusia 36 tahun itu mengisi bahan bakar. Dengan saksama, Opin memperhatikan ayahnya yang menyerahkan uang seratus ribuan sebanyak dua lembar. Opin berusaha melihat bagian penunjuk bahan bakar yang diisikan. Di sana tertulis 20.30. Setelah ayahnya masuk mobil, Opin pun menunggu ada yang bertanya soal Matematika. Benar saja. Kali ini giliran ayahnya yang bertanya.

“Ayah tadi menyerahkan uang sebanyak dua ratus ribu rupiah. Jika harga per liter pertamax dianggap saja sepuluh ribu rupiah, berapa literkah pertamax yang dibeli Ayah, Nak?”

Opin yang sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu pun bergegas mengambil kertas dan pulpen dari dalam tasnya. Dia menuliskan angka-angka dan mulai menghitung dengan operasi pembagian. Berkali-kali dia mencoret jawabannya kemudian menulisnya lagi. Demikian seterusnya hingga akhirnya dia menemukan jawaban.

“Duh, pusing kepala Opin, Yah! Sulit sekali soalnya,” kata Opin memegangi kepalanya.

Mereka yang mendengarnya pun tertawa. Ayah Opin pun akhirnya berusaha tidak memaksa Opin menemukan jawaban. Namun, Opin masih terus berusaha.

“Dua puluh liter, Yah!” jawab Opin tiba-tiba.

Mendengar Opin menjawab benar dengan yakin, ibu, nenek, dan kakek bertepuk tangan. Mereka pun memberikan penghargaan kepada Opin. Sementara itu Opin tertawa bangga.

Tawa itu masih terdengar ketika mereka melewati Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. Dari balik kaca mobil Opin melihat Pesawat terbang yang baru saja terbang.

Mobil pun terus melaju. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di desa adat Sade. Setibanya di sana mereka turun. Opin terkesima dengan bangunan tradisional yang ada. Dengan saksama dia memperhatikan setiap detail bagian. Di salah satu rumah, Opin mengeluarkan peralatan menggambarnya. Di sampingnya, ayah dan kakeknya setia menemani. Sementara ibu dan neneknya memilih berbelanja kain di kios yang ada di bagian depan dekat pintu masuk.

Dengan cekatan Opin mulai membuat garis-garis sehingga terbentuklah sebuah bangunan menyerupai lumbung padi. Meskipun gambar itu ala kadarnya, tetapi tetap saja mengagumkan bagi ayah dan kakeknya. Keduanya mengacungkan jempol.

“Opin tahu tidak kalau lantai rumah di sini dari kotoran hewan?” tanya ayah Opin saat mereka hendak meninggalkan rumah lumbung itu.

Opin menggelengkan kepala. Dia pun mengikuti ayah dan kakeknya yang berjalan ke arah depan desa. Di sana mereka menemui ibu dan nenek. Ibu Opin terlihat membawa beberapa lembar kain. Sedangkan neneknya terlihat membawa ikat kepala khas suku Sasak yang disebut sapuq. Opin pun menerima pemberian neneknya itu. Dia kemudian melepas topi dan memasang sapuq.

Mereka semua bertepuk tangan ketika melihat Opin terlihat gagah. Sementara Opin hanya tersipu malu.

Hari merambat siang ketika mereka meninggalkan desa itu. Mobil melaju lambat. Di dalam mobil ibu Opin menjelaskan tentang kain-kain yang dibawanya.

“Kain ini asli hasil tenun perempuan di Sukarare Lombok Tengah. Tempatnya tidak jauh dari sini. Nanti kita lewati, Nak. Uniknya di Sukarare itu perempuan yang belum bisa menenun belum dibolehkan untuk menikah. Tradisi itu berlaku sampai sekarang, Nak.”

Opin terlihat memahami penjelasan singkat ibunya. Dia lebih paham lagi lokasi kerajinan tenun itu saat ibunya menunjuk suatu tempat ketika melewatinya. Hingga akhirnya perjalanan pun berlanjut.

Hari menjelang tengah hari ketika mereka melewati wilayah Banyumulek Lombok Barat. Ayah Opin yang suka berkebun pun mengajak mereka singgah di sana. Selain menumpang salat juga sekaligus berbelanja pot bunga.

Setelah salat berjamaah di masjid desa, mereka menuju salah satu toko sekaligus tempat pembuatan gerabah. Opin terlihat bersemangat ketika melihat proses pembuatannya. Dia banyak bertanya kepada perajin ketika ada langkah yang tidak dipahaminya.

“Setelah tanah liat siap, kita ambil segenggam pasir dan ditaburkan di atas mesin pemutar,” kata perajin itu.

“Apa tujuannya, Paman?” tanya Opin.

“Tujuannya agar tanah liat tidak lengket. Baru setelah itu tanah dibentuk sesuai keinginan. Kalau sudah kemudian dihaluskan. Setelahnya dikeringkan kemudian dibakar. Kurang lebih seperti itu.”

Setelah mengucapkan terima kasih, Opin kembali ke depan toko. Di sana ayah dan ibunya sedang memilih beberapa gerabah. Setelah melalui proses tawar-menawar, mereka pun membawa pulang beberapa gerabah pilihan.

Perjalanan pun kembali dilanjutkan. Terik siang membuat Opin dan yang lainnya sepakat mencari tempat sejuk. Pilihan jatuh kepada Taman Air Narmada Awet Muda. Ayah Opin pun melajukan mobilnya ke arah Narmada. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam. Sekitar pukul setengah dua mereka tiba di tempat yang ramai pengunjung itu.

Ilustrasi 21. Penampakan taman narmada

Mereka menuruni tangga setelah pintu masuk kemudian berjalan menuju arah warung yang ada. Di sana Ibu Opin memesan beberapa porsi sate bulayak. Setelah puas menikmati sate daging yang dilengkapi lontong dibungkus janur itu, mereka menghirup udara segar di sekitar. Langkah mereka tertuju ke bangunan tempat sumber air awet muda berada. Di dalam bangunan kecil itu mereka mencuci muka.

Setelah puas menikmati pesona taman air Narmada, rombongan keluarga kecil itu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ayah Opin mengambil arah ke Lingsar setelah mendapat persetujuan dari keluarga. Tidak sampai lima belas menit, mobil mereka telah memasuki tempat parkir Pura Lingsar. Di tempat sakral itu terlihat ramai. Di pintu masuk wisatawan berbaur dengan umat Hindu yang akan beribadah.

Opin terlihat memandang penuh kagum ke arah gerbang masuk pura. Sepasang bangunan di kiri dan kanan terlihat menjulang. Kombinasi warna merah bata dan hitam mendominasi bangunan itu. Bangunan itu sangat terlihat sebagai arsitektur khas Bali. Terlihat dari ukiran di berbagai sisi.

Opin dan yang lain pun memasuki area pura. Dia hanya menatap tempat ibadah umat Hindu itu dari luar. Namun demikian dia sangat mengagumi salah satu kekayaan budaya masyarakat Lombok yang majemuk itu. Di sebuah tempat istirahat yang sisinya terbuka, Opin mulai melakukan aktivitas kesukaannya. Di sampingnya, neneknya terlihat melepas penat. Kepada neneknya dia bercerita tentang keunikan Pura Lingsar ini.

“Jadi di sini ada tradisi Perang Topat, Nek,” kata Opin membuka ceritanya.

Nenek menatap ke arah Opin yang sedang menggambar sketsa pura, kemudian bertanya, “Maksudnya apa, Nak? Berkelahi memperebutkan ketupat?”

“He he he … Bukan seperti itu, Nenek Opin yang Cantik. Perang Topat itu tradisi yang diadakan setahun sekali. Dalam tradisi itu diselenggarakan perang lempar-lemparan ketupat antara umat Islam dengan Hindu,” kata Opin setelah memasukkan perlengkapan menggambarnya ke dalam tas.

Sesaat kemudian dia melanjutkan kata-katanya, “Tradisi ini menunjukkan bahwa meskipun berbeda, tetapi kedua umat beragama tersebut pada akhirnya bisa hidup penuh toleransi, Nek.”

Nenek Opin menganggukkan kepala mendengar penjelasan cucunya. Keduanya pun perlahan meninggalkan tempat istirahat itu menuju tempat parkir. Keduanya menyusul yang lain yang telah lebih dulu keluar area pura. Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, Opin menceritakan keseruan perang topat kepada neneknya. Di dekat gerbang masuk, mereka diam-diam mengagumi bunga teratai putih yang mekar di kolam sebelah kiri dan kanan jalan masuk.

Setelah membayar parkir, ayah Opin pun menyalakan mobilnya. Hari menjelang sore ketika mereka keluar dari area wisata itu.

“Sebentar lagi masuk Ashar, Kek. Kita salat jamaah ke Islamic Center dulu, ya,” kata ayah Opin saat mob memasuki wilayah kota Mataram.

Mereka pun setuju dengan usulan itu. Tidak sampai setengah jam, mereka telah memasuki area parkir Islamic Center. Area dengan arsitektur modern berpadu dengan tradisional itu terlihat ramai umat Islam yang akan salat berjamaah.

Sebelum memasuki masjid bernama Hubbul Wathan itu, Opin menatap minaret yang tinggi menjulang. Dia mengagumi bangunan yang didominasi warna kuning keemasan dan hijau itu. Matanya menyusuri minaret dari bawah sampai atas. Melihat itu, ayah Opin pun berusaha menjelaskan.

“Selain kubah yang bertema Sasambo atau Sasak Samawa Mbojo, yaitu suku-suku di NTB, minaret adalah salah satu keunikan arsitektur yang ada di sini. Minaret itu tingginya sembilan puluh sembilan meter. Ini melambangkan Asma’ul Husna. Uniknya lagi, dari puncak minaret itu kita bisa melihat keindahan kota Mataram, Nak.”

Opin menganggukkan kepala kemudian mengikuti ayahnya. Keduanya menuju tempat wudu yang ada di halaman masjid lalu mengikuti salat berjamaah. Tidak ketinggalan pula ibu, kakek, dan nenek Opin.

Selesai salat berjamaah dan melepas lelah. Mereka memutuskan meninggalkan ikon provinsi Nusa Tenggara Barat tersebut. Di tempat itu Opin tidak seperti biasanya menggambar. Dia telah menggambar Islamic Center itu sejak lama.

Dengan penuh syukur, rombongan Opin meninggalkan kompleks megah itu. Di dalam mobil, Opin terlihat sedang membuka-buka buku gambarnya. Sesekali dia mengerutkan kening ketika memperhatikan bangunan yang digambarnya. Dia pun lalu mengonsultasikan hal itu pada ibunya.

Ibunya yang seorang pekerja seni tidak kesulitan saat Opin meminta masukan. Dengan telaten ibu Opin memberi penjelasan.

“Yang ini ukirannya kurang jelas, Nak. Jadi arsitektur Bali-nya belum begitu kelihatan,” kata ibu Opin menunjuk pura yang digambarnya Opin.

Opin pun memberikan tanda dengan pensilnya. Setelah itu dia pun meminta masukan untuk gambar-gambar lainnya. Kabin mobil pun terasa hangat oleh obrolan mereka.

Tanpa terasa perjalanan mereka telah sampai di wilayah kota tua Ampenan. Pandangan Opin tertuju pada sederet bangunan tembok dengan arsitektur yang seragam. Dia tahu kalau itu termasuk jenis arsitektur zaman kolonial. Setidaknya itu yang dia ingat dari penjelasan ayahnya beberapa waktu lalu. Deretan bangunan selanjutnya yang dilihatnya adalah bangunan dengan cat warna-warni. Seolah kota tua itu ingin menunjukkan semangat mudanya.

Waktu di telepon seluler ayah Opin telah menunjukkan angka 16:00 ketika mereka memasuki area pantai Ampenan. Di anjungan satu hati mereka menikmati bekal minuman yang mereka bawa.

Opin melemparkan pandangan ke sekitar. Di hadapannya dia melihat sisa-sisa kejayaan pelabuhan Ampenan. Sisa-sisa bangunan itu berupa pancang tiang yang terkikis ombak. Dia juga menyaksikan ombak kecil yang berkejaran. Sesekali memercik tinggi ketika mengenai bebatuan yang ada di bagian bawah anjungan.

Di kejauhan Opin melihat berderet-deret perahu nelayan warna-warni di sepanjang pantai. Perahu-perahu itu sedang bersiap mengarungi lautan saat malam. Tidak lupa dia melemparkan pandangan jauh ke tengah. Di atas permukaan laut berwarna biru gelap itu, dia melihat sebuah titik. Dia tidak tahu apa itu. Semakin jauh melemparkan pandangan, dia menemukan siluet gunung Agung di pulau seberang. Gunung itu menjulang menunggu waktu bagi matahari untuk sembunyi.

Benar saja. Ketika semburat senja semakin nyata, matahari pelan-pelan tergelincir. Dengan penuh syukur Opin menikmati setiap detik pergerakan matahari berwarna jingga itu. Dia hampir tidak mengedipkan mata hingga surya kala senja menghilang di balik gunung Agung.

 

***

Tinggalkan Balasan