5 | Panggilan untuk Penyelesaian
“Atas nama anak saya minta maaf, Pak Kades.”
Di depan Kepala Desa, bapak Rama tertunduk. Rama paham benar dengan kondisi yang sedang dihadapi oleh bapaknya. Namun, dia masih terlalu belia untuk bisa membantu orang yang disayanginya. Melihat bapaknya yang terus tertunduk, rasa bersalah menyelinap ke dalam hatinya. Penyesalan itu melahirkan setitik cairan bening di sudut matanya.
“Saya pribadi memaafkannya, Kak Tuan. Tapi ini kan bukan pertama kalinya. Bukan pula satu-satunya kejadian. Masalahnya sudah sering kejadian seperti ini,” kata Kepala Desa dengan berapi-api.
Kepala bapak Rama tetunduk semakin dalam dalam duduknya. Sementara bocah yang duduk di sampingnya berusaha menahan laju air matanya dengan memijat pelan bagian sudutnya. Tanpa disadari, tangan kanannya refleks mengenggam erat tangan kiri bapaknya. Ada bahasa saling menguatkan dalam genggaman mereka berdua. Dua sosok yang saat ini bersiap untuk mendengar keputusan dari pihak desa.
Kekuatan yang mengalir melalui kehangatan sentuhan seorang bapak itu akhirnya mampu membuka mulut Rama.
“Maaf sebelumnya, Pak Kades. Sebelum Pak Kades memutuskan, apa ndak sebaiknya pihak Rudi Solong dipanggil juga?”
Kepala Desa terlihat menganggukkan kepala lalu menjawab, “Akan saya usahakan agar kita bisa duduk bersama. Terima kasih sarannya, Rama.”
Tanpa berpikir panjang lagi, Kepala Desa bergegas menghubungi bapak Rudi Solong.
“Selamat siang, Pak Ahmad. Bisa ke ruangan saya sekarang?”
“…”
“Iya, Pak. Biar masalah ini tidak berlarut-larut.”
“…”
“Baiklah. Saya tunggu di ruangan.”
Setelahnya Kepala Desa melanjutkan perbincangan dengan Rama dan juga bapaknya terkait banyak hal tentang permasalahan kecimol mereka. Salah satunya adalah penyelesaian pembangunan masjid desa.
“Mohon untuk ndak mencampuradukkan masalah ini, Pak Kades. Menurut saya ini adalah dua kasus yang berbeda. Hemat saya lebih baik kita fokus pada permasalahan yang sedang kita bahas,” kata bapak Rama sambil melepaskan genggaman anak semata wayangnya.
Dengan penuh perasaan lelaki berpeci putih itu menatap ke arah Rama yang masih menunduk. Sesekali dia terlihat memegangi dadanya sebelah kiri yang terasa nyeri menusuk-nusuk.
“Jangan sekarang, ya, Allah,” doanya dalam hati.
Sejurus kemudian setelah serangan itu mereda, dia menepuk-nepuk pundak anaknya–anak kecil yang seringkali disangka telah duduk di bangku SMA. Hal ini tidak mengherankan karena Rama memang berperawakan tinggi besar–menurun dari garis keluarganya. Menyadari tangan bapaknya semacam memberikan kode untuk tetap tegar, Rama mengangkat kepalanya.
“Rama ndak kenapa-napa, kok, Pak.”
Jawaban pendek itu mampu menarik kedua sudut bibir menghitam milik pria itu ke arah berlawanan. Kehangatan pun pecah dalam satu senyuman. Senyuman yang menjadi satu-satunya pengisi keheningan ruangan. Keheningan yang akhirnya pecah dengan suara ketukan.
Saat pintu terbuka, terlihat sesosok pria berusia 40-an tahun berdiri. Di sampingnya seorang anak seusia Rama. Mereka adalah Pak Ahmad dan Rudi. Keduanya langsung masuk setelah dipersilakan dan langsung duduk di sofa cokelat di sisi kiri. Ruangan itu tidak lagi hening dan sunyi. Riuh seketika hadir dari perdebatan tentang siapa yang salah dan benar dalam perkelahian yang telah terjadi.
“Sudah, Bapak-bapak. Kalau begini terus masalah tidak akan selesai. Lebih baik kita dengarkan juga penjelasan dari Rudi Solong,” kata Pak Kades berusaha menenangkan situasi.
Akhirnya tiba giliran Rudi Solong menceritakan kronologi kejadian. Selama bercerita, semua yang berada dalam ruangan itu dengan saksama mendengarkan. Tidak ada satu pun yang berusaha menyela apalagi menghentikan. Hanya terlihat Rama yang sesekali mengangguk-anggukkan kepala seolah membenarkan.
Sementara Rudi Solong sesekali menarik napas panjang. Tubuh mungilnya seringkali terlihat berubah posisi saat dia cerita telah ditendang. Pandangan matanya pun tidak fokus pada Kepala Desa yang tak lepas memandang.
“Begini ceritanya, Pak. Jadi waktu itu saya sama Rama sedang berjoget. Tiba-tiba ada yang menyenggol-nyenggol saya. Karena yang ada di dekat saya itu Rama, saya langsung pukul dia,” kata Rudi Solong di depan meja kerja Kepala Desa sambil menimang-nimang telepon seluler barunya.
Kepala Desa mengangguk-anggukkan kepala. Dia merasakan ada kejanggalan dari cerita anak yang sejak kedatangannya tidak pernah berhenti memain-mainkan telepon seluler di tangannya. Pria berusia hampir 50 tahun itu paham betul tentang cara membaca sikap seseorang saat sedang menyampaikan cerita. Menyadari hal itu, Kepala Desa yang sudah menjabat selama dua tahun itu mencoba menggali informasi lebih dalam lagi tentangnya.
“Kenapa kamu yakin kalau yang menyenggolmu adalah Rama? Bukankah di sana juga ada Ipang Jering dan yang lain juga? Kamu ada dendam apa sama Rama?”
Rudi Solong tertunduk dan berhenti memain-mainkan telepon selulernya lalu menggelengkan kepala. Pelan sekali gerakannya. Tidak lebih pelan dari butir air mata yang meleleh di sudut matanya.
Semua yang di ruangan itu terdiam tanpa bicara. Tidak terkecuali Rama, bapak Rama, Ipang Jering, dan seseorang yang dipanggil ‘paman’ oleh sebagian anak-anak muda. Seseorang yang dipanggil ‘paman’ itu memang datang belakangan dari mereka. Kedatangannya sendiri tidak ada hubungannya dengan keperluan penggalian keterangan terkait kasus keributan beberapa hari sebelumnya. Dia datang hanya mengantarkan berkas kepada Kepala Desa lalu memutuskan ikut bergabung saat Rudi Solong memberikan kesaksian secara terbuka.
Sementara Rudi Solong terlihat mencuri pandang ke arah lelaki itu saat memberikan keterangan. Kepala Desa menduga Rudi Solong tidak nyaman dengan keadaan.
“Rajab … Kalau urusanmu sudah selesai, kamu boleh keluar ruangan saya,” kata Kepala Desa sambil menunjuk pintu ruangannya.
Lelaki berperawakan kurus itu segera beranjak kemudian menghilang di balik pintu. Sepeninggal Rajab, Kepala Desa meminta Rudi Solong melanjutkan kejadian setelah itu. Namun, permintaan itu dicegah oleh Rama yang kasihan melihat temannya tidak lagi mampu. Rama melihat kelelahan jelas terlihat di wajah teman sebangkunya itu. Dia pun memberanikan diri untuk meminta Kepala Desa membatalkan permintaannya pada Rudi untuk menceritakan kejadian yang telah berlalu.
“Maaf, Pak Kades. Saya rasa masalah ini sudah selesai. Tidak perlu diperpanjang lagi. Saya dan Rudi sudah baikan, kok.”
Kepala Desa terdiam. Diam-diam dia sepakat dengan apa yang dikatakan Rama tentang dendam yang tidak lagi terpendam.
“Sekarang tergantung Pak Kades saja. Saya dan anak saya pasrah dengan segala sanksi yang akan dijatuhkan,” kata bapak Rama berusaha memberikan jalan keluar.
Melihat Kepala Desa seperti sedang menimbang-nimbang apa yang dia sampaikan, bapak Rama kembali berkata, “Apa pun itu, itulah yang terbaik, Pak Kades. Bagaimana Pak Ahmad?”
Pak Ahmad hanya menganggukkan kepala. Dia tidak tahu harus berkata apa. Satu hal yang dia tahu, masalah anaknya sudah selesai dengan sebaik-baiknya. Namun, tidak demikian halnya dengan Rama yang masih menyimpan bara. Dalam hati kecilnya dia tidak sependapat dengan apa yang dikatakan bapaknya.
“Ndak semudah itu, Pak,” batinnya.
***









