Titik Balik: Kecimol (Bagian 6)

Cerpen293 Dilihat

6 | Tekad Sudah Bulat

 

Suara drum yang ditabuh Ipang Jering bersahutan dengan petikan gitar Rama. Paduan dua suara alat musik itu memantul-mantul di dalam sanggar seni. Nada-nada dari keduanya terdengar semakin indah dalam bentuk gelombang longitudinal lewat pengeras suara di setiap sisi. Di salah satu sudutnya, Rudi Solong terlihat memutar-mutar tombol ke kanan dan kiri. Dia ingin menemukan kualitas terbaik dari suara yang dikeluarkan dengan pasti.

Ketiga anak berusia belasan itu terlihat asyik dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri. Dunia kecil yang mungkin hanya akan menjadi butiran kenangan saat mereka besar nanti. Sebab saat ini di bagian titik bumi yang lain, tanpa sepengetahuan mereka beberapa orang tengah berusaha mengubur kenangan itu agar tidak sampai terbawa hingga kelak mereka memahami.

*

“Bagaimana perkembangan draf yang kamu berikan ke Pak Kades itu, Rajab?” Bapak Rudi Solong membuka pembicaraan di sebuah ruang rekaman.

Rajab hanya menjawab singkat, “Tenang, Pak Ahmad.”

Pak Ahmad merasakan ada ketidakyakinan dalam jawaban lelaki yang lebih muda darinya. Dia tidak mempertegasnya. Dia tahu Rajab tidak akan pernah dipaksa oleh siapa saja. Termasuk dirinya, seseorang yang telah membantunya kuliah hingga mampu menjadi pengacara yang mempunyai LSM sendiri yang ternama. Selama mengenalnya, dia tahu persis kalau Rajab adalah seseorang yang bisa diandalkan dalam situasi apa saja. Termasuk saat ini juga. Suatu masa ketika dia harus tetap menghidupkan manajemennya, apa pun caranya. Termasuk membunuh satu per satu bisnis yang menghalangi kemajuan usahanya. Dia tidak peduli apa pun konsekuensinya.

“Lalu bagaimana dengan Kak Tuan Yusuf? Apa dia tahu kalau kita sedang merencanakan ini semua?” Pak Ahmad bertanya sambil mengatur peralatan di studio musiknya.

Saat ini dia sedang kesulitan mencari penyanyi dan pemain gitar tunggal. Imah Inges si kembang desa lebih memilih tetap menjadi penyanyi di grup kecimol milik Kak Tuan Yusuf, bapak Rama. Sementara beberapa penyanyi yang telah mengikuti audisi tidak sesuai dengan harapannya. Kemampuan bernyanyi mereka jauh di bawah Imah Inges termasuk penampilan fisiknya. Sebagai seorang yang multitalent, Imah Inges adalah paket lengkap yang ada. Segala genre lagu dilahap secara sempurna. Terlebih penampilannya yang selalu up to date adalah nilai jual sendiri baginya.

Sama halnya dengan Rama, si kecil-kecil cabe rawit. Sudah sejak lama Pak Ahmad sangat ingin Rama mengembangkan bakat main gitarnya di manajemennya yang terancam pailit. Dia paham betul kalau Rama sama seperti Imah Inges yang memiliki nilai jual selangit. Penampilan menarik dan petikan gitar yang piawai telah membuatnya berusaha menggandeng mereka meskipun terasa sulit.

Dan, satu-satunya cara mendapatkan Imah Inges dan Rama adalah dengan menghancurkan grup kecimol tempat mereka bergabung. Dia yakin gadis yang sedang menyelesaikan kuliahnya di perguruan tinggi negeri di kota Mataram itu tidak akan punya pilihan lain jika grup kecimol itu bubar dan membuatnya berkabung. Sedangkan Rama, dia pasti akan mengikuti ke mana Imah Inges bergabung. Dia sangat paham dengan kedekatan keduanya yang sudah seperti saudara kandung. Membayangkan itu semua, senyuman terkembang di sudut bibir Pak Ahmad tanpa canggung.

“Kak Tuan Yusuf biar saya yang urus, Pak. Pak Ahmad tenang saja.”

Keduanya pun akhirnya terdiam cukup lama. Masing-masing membiarkan angannya melukis harapan-harapan terbaik ke depannya. Rajab dengan kebahagiaan bisa dekat dengan masa lalunya, sedangkan Pak Ahmad menari-nari dengan harapan manajemen artis yang semakin dikenal pada akhirnya.

*

Sementara itu di sanggar seni milik Kak Tuan Yusuf, ada tiga orang bocah sedang mengekspresikan kebahagiaan masa kecil. Rama dengan petikan gitarnya, Ipang Jering dengan drumnya, dan Rudi Solong memainkan sound system-nya dengan tangannya yang dekil. Ketiganya larut dalam tawa saat salah seorangnya melakukan kesalahan secara mendetail.

“Eee … Rama! Sini aku ajarin!” Teriak Rudi Solong selesai mematikan peralatan sound system.

Rama menanggapi teriakan Rudi Solong dengan tertawa. Tawa pun bersambut dengan gelak Ipang Jering di depan drumnya. Keduanya meleburkan tawa demi mendengar Rudi Solong dengan segala kesoktahuannya. Bukan kali ini saja. Hampir di setiap kesempatan, Rudi Solong selalu seperti itu kelakuannya.

“Halah gayamu, Long! Kunci dasar saja kamu ndak paham. Ha ha ha,” kata Rama sambil terus tertawa.

Ipang Jering pun tidak mau kalah, “Bener itu, Rama! Dia gaya doang itu. Cobak kasih dia gitar itu, Rama! Ha ha ha …”

“Ini! Awas saja kalau sampai ndak hafal kunci. Kita kasih hukuman nanti,” kata Rama sambil mengangsurkan gitarnya.

Dengan gaya layaknya gitaris top, Rudi Solong menerima dan mengalungkan gitar listrik itu. Kepalanya yang terantuk badan gitar saat berusaha mengalungkan gitar, mau tidak mau membuat Rama dan Ipang Jering kembali menertawakan anak itu. Ketiganya pun akhirnya terbahak-bahak tanpa ragu. Seluruh ruang di sanggar seni itu seolah bergetar menjadi saksi kisah mereka yang sangat seru. Tak lama setelahnya ombak tawa itu pun mereda saat Rudi Solong menyerahkan kembali gitar pada Rama tanpa memetiknya sedikit pun karena jemarinya lebih dulu kaku. Ketiganya pun memutuskan untuk rehat sementara waktu. Langkah demi langkah pun saling susul di atas lantai semen kasar halaman belakang rumah itu.

Sepanjang perjalanan Rudi Solong menepuk-nepuk dadanya sambil berkata penuh percaya diri, “Bagaimana? Keren, kan, permainan gitarku? Sudah kubilang kalau aku jago main gitar.”

Tawa kembali pecah bahkan sampai mereka tiba di gazebo sudut halaman belakang. Di gazebo yang biasa disebut berugak itu, mereka duduk melingkar dengan kaki terentang. Di sana mereka berbincang sambil menikmati minuman dingin dan jajan pasar yang disiapkan oleh mamak Rama dalam sebuah keranjang.

“Cobak tadi ada Kak Imah, ya? Pasti jalan dah latihan kita,” kata Rama sambil memasukkan sepotong pisang goreng ke mulutnya.

Rudi Solong yang mulutnya sedang penuh dengan jajan pasar dari bahan parutan singkong berisi gula merah dibungkus daun pisang dan dikukus berkata, “Enak sekali celilong ini. Oya, kenapa kamu ndak telepon dia, Rama.”

Ndak berani aku. Kalau sampai ketahuan bapak bisa bahaya, Bro!” jawab Rama setelah selesai menyeruput minumannya.

Ipang Jering yang baru saja menelan kue sari muke menyahut, “Kenapa memangnya, Bro?”

Rama tidak menjawab pertanyaan dari anak yang menghabiskan sendiri jajan tradisional dari bahan ketan berlapis gula merah di atasnya itu. Dia justru memilih membiarkan angannya melayang menuju bayang-bayang beberapa waktu lalu.

“Kamu jangan ganggu kak Imah dulu. Dia lagi fokus ujian akhir. Kalau mau latihan, latihan sudah.”

Bayang-bayang itu membentuk sesosok wajah yang telah membesarkannya. Demi lelaki yang selalu menuruti segala permintaannya, Rama pun tidak lagi berani membantahnya. Termasuk keinginan bapaknya yang sebenarnya sudah bosan mengurus kecimol miliknya. Namun, dia meyakinkan bapaknya bahwa kecimol mereka tidak sama dengan yang lainnya. Sayangnya, insiden dengan Rudi Solong telah menodai kepercayaan yang ada. Bapaknya seperti sudah enggan untuk melanjutkannya. Namun, tidak juga segera membubarkannya.

Rama semakin tidak paham ketika ingatannya tertumbuk pada sesosok pria yang telah lama dikenalnya. Dia heran kenapa semenjak pemanggilan ke kantor desa, bapaknya sangat dekat dengan penjaga masjid sekaligus berprofesi sebagai pengacara. Pernah suatu hari dia menemukan bapaknya sedang berdiskusi dengan pria yang dipanggilnya ‘paman’ itu di berugak belakang rumah suatu senja. Sepengetahuannya itu bukanlah obrolan biasa. Di depan bapak dan pria yang mengajarinya mengaji setiap sore itu ada laptop dan mesin cetak yang sedang menyala. Sesekali pria muda berbaju gamis itu menekan-nekan tombol pada papan ketik yang ada. Sesekali terlihat tanpa jeda. Namun, tak jarang terlihat seolah sedang mengeja. Tidak jauh dari mesin cetak itu, berlembar-lembar kertas penuh tulisan tinta hitam berserakan di atas meja.

“Rama … Sana dulu sebentar, Nak. Ndak semua hal harus kamu tahu juga, kan?”

Kata-kata itu berhasil membuat Rama mundur beberapa langkah. Setelahnya, dia kembali asyik bermain dengan teman-temannya di sanggar seni yang terlihat megah.

Dan, saat ini bersama teman-temannya dia telah membuat ikrar untuk terus latihan kecimol setiap hari. Meskipun kecimol bernama ‘Timbang Momot’ yang berarti ‘Daripada Diam’ itu kini menjelma menjadi balon gas yang membubung di angkasa yang sedang menunggu waktu gas habis kemudian terempas ke bumi. Namun, Rama sudah telanjur berjanji dengan teman-temannya untuk membuat kelompok kesenian yang tidak dianggap sebagai budaya lokal itu tetap melambung tinggi.

 

***

Tinggalkan Balasan