Sebutir Kurma Penghalang Do’a (3)

Terbaru434 Dilihat

Sebutir Kurma Penghalang Doa

Suharto

MTsN 5 Jakarta




Ada seorang ahli ibadah ternama yang tidak diragukan keilmuannya dan kedekatannya dengan Allah hingga doanya selalu dikabulkan . Suatu hari ketika beliau selesai menunaikan ibadah haji dan hendak kembali ke daerah Palestin untuk berdiam diri di masjidi al-aqsha. beliau mampir hendak membeli buah kurma di salah satu toko buah kurma.
“Pak kurmanya sekian kilo,” pinta ahli ibadah.
“Iya, tuan saya akan timbangkan,” jawab pedagang kurma.


Ahli ibadah melihat ada sebutir kurma yang berada di bawah timbangan, tanpa berpikir panjang beliau ambil beliau pikir kurma itu miliknya yang jatuh dari timbangan . Beliau makan, kemudian beliau berangkat dengan membawa beberapa kilo kurma untuk persiapan selama berada di perjalanan menuju tempat yang beliau tuju, sesampainya di sana beliau masuk ke sebuah masjid dan duduk di bagian kubah Sakhra masjid untuk melakukan dzikir dan doa. Beliau sering berlama-lama di kubah Sakhra, ketika beliau sedang melakukan doa, tetiba beliau mendengar suara seperti ada orang yang sedang bercakap-cakap.


“Selama empat bulan ini doa-doa yang beliau panjatkan tidak diterima Allah,” kata salah satu suara tersebut.
“Kenapa tidak diterima?” Tanya suara kedua.
“Karena beliau telah memakan yang bukan haknya,” jawab suara pertama.
Mendengar suara tersebut ahli tasawuf ini kaget dan langsung mengucapkan istighfar” Astagfirullah…. astaghfirullah…. astagfirullah…” Terus menerus sambil mengingat-ingat apa yang pernah beliau lakukan empat bulan yang lalu. Akhirnya beliau menemukan jawabannya.
“Oh, jangan-jangan sebutir kurma yang saya ambil di bawah timbangan itu,” ucapnya.


Keesokan harinya beliau berangkat ke kota Makkah untuk menemui pedagang tersebut. Sesampainya di kota Makkah beliau tidak menemukan pedagang tersebut, beliaupun bertanya kepada milik toko.


“Tuan empat bulan yang lalu saya membeli kurma di toko ini, tetapi kenapa penjual itu tidak ada?” Tanya ahli ibadah.
“Oh, pemiliknya sudah meninggal, itu orang tua saya, sekarang tokonya saya dan saudara saya yang meneruskan,” jawab pedagang.
“Ada apa dengan orang tua saya?” Pedagang balik bertanya.
“Begini, berapa bulan yang lalu saya membeli kurma dengan orang tuamu, secara spontan saya mengambil kurma yang ada di bawah timbangan, saya pikir itu milik saya yang terjatuh ketika ditimbang, maka saya makan ternyata itu bukan milik saya hingga gegara itu doa-doa saya tidak didengar oleh Allah, Saya minta kamu selaku pewaris sudi kiranya mengikhlaskan apa yang saya telah makan,” jawab ahli ibadah.
“Tuan saya mengikhlaskan, tetapi ini toko milik bersama keluarga,” ucap pedagang.
“Tolong antarkan saya kepada saudaramu,” pinta ahli ibadah.
“Baik tuan” jawab pedagang.


Pedagang mengantarkan ahli ibadah kesemua saudarannya untuk meminta di halalkan apa yang telah dimakannya. Setelah dimaafkan beliau sudah merasa legah kemudian beliau balik lagi ke masjid al-Aqsha untuk melakukan kegiatan rutin dzikir dan doa. Di tengah khusunya berdoa, tetiba terdengar suara.


“Sekarang doa-doanya sudah diterima lagi oleh Allah SWT karena tidak ada lagi benda haram berdiam di tubuhnya,” kata suara tersebut.
Mendengar yang demikian akhirnya alhi ibadah itu legah hatinya. Siapakah ahli ibadah itu? Beliau adalah Ibrahim bin Adham.-Sripoku.com


Cerita di atas tentang membersihkan jiwa dari benda haram bisa dijadikan pembelajaran bagi kita dalam menjalankan kehidupan ini.
Dalam hidup ini sering kita dapati bahkan kita pernah melakukannya mungkin mengambil atau mendapatkan sesuatu yang bukan diperuntukkan untuk kita atau tidak kita sadari kita memakan sesuatu yang belum dapat ijin dari yang punya.


Penulis pernah melihat atau mungkin kita sendiri yang melakukannya, ketika membeli sesuatu lalu ditimbang oleh penjual dengan repleknya kita mengambil sesuatu untuk ditambahkan tetapi pedagang sedikit kesal atau tidak mengijinkan. Atau memakan milik pedagang tanpa ijin ketika membeli sesuatu.


Hal ini sepele tetapi di mata Allah ini dikatagorikan sudah mengambil atau memakan yang bukan haknya. Sekecil apapun yang kita perbuat ada perhitungannya. Maka itu, berhati-hatilah dalam mengarungi kehidupan ini.


Begitu juga sering kita dapati para pejabat yang membuat laporan tidak sesuai dengan kenyatan yang ada atau memark up data dalam laporan keuangan atau menganggarkan sesuatu yang bukan sesuai dengan regulasi. Hal ini dengan tegas dilarang dalam Islam.


Firman Allah SWT.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ


Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (QS: An-Nisaa | Ayat: 29).

مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ» فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ


Artinya:“Barangsiapa yang mengambil harta saudaranya dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan masuk surga. Lalu ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun hanya sedikit?” Beliau menjawab, “Meskipun hanya sebatang kayu araak (kayu untuk siwak).“ (al-Hadits)

Bagaimana caranya agar yang kita pernah ambil atau makan? Ya, minta dihalalkan atau diganti dengan yang semisal.

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Artinya:“Barangsiapa yang pernah menzalimi seseorang baik kehormatannya maupun lainnya, maka mintalah dihalalkan hari ini, sebelum datang hari yang ketika itu tidak ada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka diambillah amal salehnya sesuai kezaliman yang dilakukannya, namun jika tidak ada amal salehnya, maka diambil kejahatan orang itu, lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Demikian, berhati-hatilah terhadap hidup ini jangan sampai ada sesuatu yang haram hinggap pada tubuh kita sekecil apapun adanya. Karena itu akan menghalangi amalan ibadah kita dan pada akhirnya merugikan akan diri kita sendiri.




Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan