Datang Tak diharap, Tak Datang Tak dirindu

KMAC-4
Cing Ato
#KarenaMenulisAkuCeria
Suatu hari ada seorang siswa curhat kepada penulis atas keresahan hati dirinya dan teman-temannya terhadap salah satu guru yang mengajar mereka. Mereka stres jika kehadiran guru itu.
Penulis hanya bisa menasehati agar para siswa tidak berbuat macam-macam dan siap untuk belajar. Ikuti segala arahannya dan patuh padanya. Itu nasehat yang penulis berikan. Penulis tidak berani menegur atau menasehati teman guru itu, mengingat guru itu senior penulis.
Memang guru itu agak sedikit temperamen, tidak segan-segan jika, ada yang macam-macam tangan pun melayang ke tubuh para siswa. Penulis sering melihatnya dan bahkan ada orang tua sempat komplen.
Penulis tidak tahu kenapa guru itu mempunyai sifat seperti itu. Bisa jadi mungkin kurang pelatihan atau kurang membaca buku-buku tentang pendidikan.
Memang guru yang serba kekurangan berbeda dengan guru yang banyak belajar.
Melihat peristiwa ini penulis berkisimpulan guru tersebut kehadirannya tak diharapkan dan ketidakhadirannya tak dirindukan. Guru semacam ini disebut dengan istilah guru haram.
Apakah kita seperti ini? Ini tergantung kepada kita sebagai guru. Jika ada sifat-sifat seperti ini berarti kita termasuk ke dalamnya.
Memang banyak kita temukan bahkan terkadang diri kita sendiri masih menggunakan kekerasan baik secara suara atau fisik. Itupun kalau mereka sudah terlalu parah. Emosi kita tak terkendali akhirnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Guru haram juga bukan saja melakukan kekerasan, tetapi juga sebab yang lain. Misal, guru yang selalu mencari keuntungan materi dengan dalih kegiatan belajar.
Di sekolah ada saja guru semacam itu didapatkan. Memanfaatkan kelemahan para siswa untuk mengeruk keuntungan besar.
Ada beberapa ciri guru haram, di antaranya yaitu:
Pertama, tidak menguasai materi. Terkadang ada saja ditemukan guru-guru yang tidak menguasai materi, terutama guru ditingkat dasar, karena banyak memegang mata pelajaran sehingga tidak mengusai berbagai mata pelajaran yang ada. Tidak ketinggalan juga ditingkat yang lebih tinggi ada juga ditemukan guru yang seperti itu. Tentunya ini membuat rugi para siswa. Dan juga membuat para siswa malas untuk belajar dengan guru tersebut.
Kedua, guru temperamen. Guru yang mudah emosi, jika emosi sedang tinggi guru tersebut akan main pisik. Sering didapati di sekolah ada saja guru yang bertemperamen seperti itu ketika sedang mengajar. Ya, seperti cerita di atas. Guru semacam ini membuat para siswa stress dan tidak nyaman untuk belajar.
Ketiga, miskin metode. Guru yang dari zaman kuda makan rumput hingga kuda makan beling, metodenya tidak pernah berubah. Apalagi kini sudah zaman digitalisasi guru itu tidak berkelid tetap memakai motede lama. Miskin metode terkadang membuat jenuh para siswa, sehingga timbul kemalasan.
Kempat, tidak disiplin. Guru yang tingkat kedisiplinannya rendah bisa mengakibatkan kurang simpatinya siswa terhadap guru itu. Tentunya berdampak pada kemalasan untuk mempelajari mata pelajaran yang diemban guru itu. Maka, itu para siswa bersifat masa bodo, mau datang atau tidak para siswa tidak perduli.
Kelima, tidak ramah. Guru yang tidak mempunyai sifat mengayomi, melindungi, dan menyayangi terhadap siswa. Ketus, tidak responsif, tidak respect, dan lainnya yang membuat kehadirannya seperti neraka buat siswa. Ini juga salah satu dari sifat guru Haram
Demikian guru haram adalah guru yang kehadirannya tidak diharapkan dan ketidakhadirannya tidak dirindukan.
Cilincing, 14 Februari 2023











