Belajar Tak Bertepi

Terbaru700 Dilihat

Belajar Tak Bertepi
Suharto
MTsN 5 Jakarta

Penulis terlahir dari keluarga sederhana, hidup hanya sekadar makan, terkadang makan apa adanya. Sudah dipastikan keadaan ekonomi di bawah rata-rata. Hal ini berdampak pada pendidikan yang penulis jalani.

Dahulu ingin sekali menjadi santri, tetapi kondisi ekonomi tidak memungkinkan dan ditambah minimnya dukungan orang tua. Hingga mimpi itu tidak terlaksana, tetapi penulis tidak putus harapan. Banyak jalan menuju Roma. Maka itu, penulis berusaha menjemput ilmu dengan para ulama di kampung penulis.

Ulama di kampung penulis tidak beda keilmuannya. Justru banyak orang-orang dari luar kampung penulis yang berguru kepada para ulama di kampung penulis. Sejak duduk di bangku MI/SD hingga sekarang penulis berusaha menjemput berbagai macam ilmu.

Ketika duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) berguru kepada ustaz Naman, ustaz Nasroji, ustaz mustahil (membaca Al-Qur’an). Saat di Madrasah Tsanawiyah (MTs) berguru kepada ustaz H.Zahrudin (Kitab Nahwu, Shorof, dan Fikih), ustaz H.Dasuki (Nahwu dan Shorof). Ketika di Madrasah Aliyah (MA) berguru kepada K.H. Zaenun (Kitab Hadits, Nahwu, Fikih, Tafsir, dan Falaq). Saat IAIN berguru kepada ustaz Mundzir (Nahwu, Fikih, dan Akhlak), Ustaz H. Ahmad Haromain (Kitab Tafsir, Hadits, dan Fikih), dan kepada para dosen di lingkungan masjid kampus IAIN Fatullah. Ketika menjadi guru, berguru kepada K.H. Hifdzillah (Kitab Nahwu, Fikih, dan Aqidah) dan juga kepada K.H. Hasan Basri (Kitab Nahwu, Fikih, Tafsir, dan Akhlak).

Belajar tidak sebatas pada dinding-dinding sekolah dan mencari selembar kertas. Belajar sepanjang hayat, itu harus tertanam pada setiap individu wabilkhusus kepada para pendidik. Ketika pendidik berhenti belajar, maka berhenti pula nilai keguruannya.

Belajar merupakan sebuah kewajiban. Islam sangat konsen dalam hal pendidikan. Semua ajarannya berisi tentang pendidikan. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi ada nilai-nilai pendidikannya. Maka itu, Islam menjunjung tinggi masalah pendidikan, bahkan Allah mengangkat derajat bagi orang-orang yang berpendidikan. Dengan ilmu yang didapati bisa mendapatkan posisi yang terbaik di tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana firman-Nya yang termaktub dalam surat Al-Mujadallah ayat 11.

“… Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

Coba saja perhatikan orang-orang yang mendapat posisi terbaik, mereka yang keilmuannya tinggi. Itulah janji Allah. Begitu juga Rasulullah sangat memperhatikan masalah pendidikan dalam hal ini menuntut ilmu atau belajar. Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan disahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224.

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.”

Sejak kapan dan sampai kapan kita menuntut ilmu atau belajar? Sejak lahir manusia sudah mulai belajar. Ya, belajar melihat, mendengar, bergerak, dan selanjutnya berangsur-angsur menjadi manusia pembelajar hingga hayat di kandung badan. Belajar itu tidak ada batasnya. Belajar itu bukan hanya di bangku sekolah atau sebatas strata kelas. Belajar itu tidak mengenal kelas. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya, “Tuntutlah ilmu dari buaian (bayi) hingga liang lahat.”

Sebagai seorang pendidik dituntut untuk selalu meng-upgrade kualitas diri dan meng-update perkembangan ilmu pengetahuan, yang terus-menerus berkembang dalam upaya memantaskan diri menjadi pendidik yang terbaik.

Pendidik yang hanya puas pada zona nyaman akan tergilas oleh roda perkembangan zaman. Pendidik akan tertinggal jauh bahkan bisa-bisa pendidik tersebut ditinggalkan. Kondisi zaman terus mengalami perubahan tentunya akan berimbas pada seluruh lini kehidupan, mau tidak mau kita harus mengikutinya.

Contoh ketika pandemi terjadi di seluruh dunia, di mana orang tidak bisa bergerak bebas karena ada pembatasan pertemuan, jaga jarak, dan tidak boleh berkerumunan. Semua aktivitas kerja dan belajar dilakukan dari rumah. Apa yang terjadi? Banyak pendidik yang tidak siap dan bingung karena tidak menguasai teknologi (komputer/laptop).

Nah, di sinilah sebagai seorang pendidik harus terus belajar, belajar, dan belajar. Ketika guru itu berhenti belajar, pada saat itu pula guru tersebut berhenti menjadi guru. Sebagai seorang pendidik tidak berhenti pada pengusaan materi dan metodologi semata, masih banyak ilmu yang harus dikuasai oleh seorang pendidik. Di antaranya: Public speaking, ice breaking, hypno tesching, science dan technologi, desain grafis, blog, youtube, writing, membuat karya tulis dan ilmu penunjang lainnya yang berkaitan dengan dunia pendidikan.

Belajar tak bertepi. Jangan pernah berhenti untuk belajar. Belajarlah untuk memantaskan diri menjadi pendidik yang terbaik yang penuh dengan inspirasi untuk keluarga, peserta didik, teman-teman pendidik, dan semua orang.

Tinggalkan Balasan