Memupuk Rasa Kebersamaan Antar Tetangga Lewat Senam Pagi

Terbaru588 Dilihat

Memupuk Rasa Kebersamaan Antar Tetangga Lewat Senam Pagi

Senam Rutin Minggu Pagi Warga Pelangi, Bojonggede, Bogor, ‘Memupuk Rasa Kebersamaan Antar Tetangga’

 

“Tetangga adalah keluarga terdekat kita meski tidak memiliki hubungan darah langsung”.

 

Saya percaya kalimat tersebut cukup sering kita dengar jika ada sesuatu yang berhubungan dengan tetangga.

 

Karena harus kita akui keberadaan tetangga sangatlah penting, tetangga merupakan orang pertama yang paling mengenal kondisi dan lingkungan sekitar rumah kita.

 

Bahkan menjadi orang pertama juga yang dapat kita hubungi ketika ada sesuatu yang urgent atau emergency, karena keberadaan kita yang saling berdekatan.

 

Namun dalam kenyataannya sekarang ini sering kita menyaksikan tidak sedikit tetangga sering berselisih paham atau berkonflik hanya masalah sepele bahkan bisa sampai ke meja hijau, yang harusnya tidak perlu terjadi.

 

Malah ada juga tetangga tidak saling kenal satu sama lain, parahnya ada yang saling kenal namun enggan untuk saling menyapa. Inilah yang menyebabkan kurangnya jiwa kebersamaan dan kegotong-royongan dalam bertetangga.

 

Saya menjadi salah seorang warga pelangi yang beruntung, dimana saya dan para tetangga saling kenal, saling sapa, bahkan saling bantu jika ada tetangga yang membutuhkan bantuan.

 

Belakangan ini kami rutin melakukan kegiatan senam di Minggu pagi, tidak saja untuk menjaga kondisi tubuh tetap sehat dimasa pandemi, namun yang terpenting memupuk rasa kebersamaan, kekompakan antar tetangga.

 

Kegiatan senam dilakukan semua anggota keluarga masing-masing baik mulai dari anak-anak maupun orang tua atau bagi siapa saja yang hendak ikut gabung senam tidak dipaksakan dengan instruktur-nya Bapak Jose atau Bapak Kembar, karena punya anak sekaligus kembar tiga dari istri tercintanya, beliau sangat luwes dengan energinya yang luar biasa keren!

 

Setelah itu, kami lanjut sarapan bersama yang dipersiapkan oleh masing-masing tetangga secara bergilir atau siapapun yang merasa cukup mampu dalam segi ekonomi artinya tidak dipaksakan, menunya pun terserah si penyedia, karena kami tidak melihat menu apa? Tetapi melihat kebersamaan yang tercipta antar tetangga.

 

“Warga Pelangi” begitu nama tempat kami. Disebut pelangi, saya rasa ini terinspirasi dari warna pelangi yang punya warna berbeda-beda. Karena setiap bangunan rumah masing-masing mempunyai warna cat bangunan yang berbeda pula, unik memang seperti pelangi, termasuk penghuni rumah dengan kultur budaya dan agama yang berbeda, pastinya aktivitas pun berbeda. Sungguh indah bukan kebersamaan itu?

 

Kembali lagi, kita pun perlu menyadari

tidak semua orang mau berbaur dengan orang lain, bisa jadi orang tersebut punya alasan tertentu yang orang lain tidak perlu tahu atau sudah menjadi karakternya, entahlah kita pun tak baik untuk memaksa.

 

Misal pendatang baru, sehingga masih bingung bagaimana cara menyesuaikan diri dengan tetangga lama atau penghuni lama, apakah harus menyapa duluan atau apa? berbagai pertanyaan bisa muncul dalam pikirannya dan ini biasa terjadi.

 

Untuk mengatasi hal ini, penghuni lama wajib menyambut penghuni baru dengan baik dan tangan terbuka, karena bagaimana pun tetangga adalah saudara terdekat kita dan akan membantu kita secepat mungkin ketika kita membutuhkan pertolongan.

 

“Seseorang yang mencintai tetangga memungkinkan dia menjadi apa adanya.” – Michel Quoist

 

Sukma

 

 

Tinggalkan Balasan