
“Usai pameran malam itu saya terus menangis, rindu dan ingin hijrah ke Jakarta tempat saya dibesarkan. Mengingat orang tua juga masih disana.
Namun, saat saya mengutarakan niat itu, suami berkata, “Ngapain ke Jakarta? Kita nggak punya uang.” Saya pun sadar dengan kondisi saat itu tapi keinginan saya begitu kuat, saya bingung harus bagaimana, tak disangka di tengah tangis dan doa, keajaiban datang,” cerita Ibu Nuryanah dengan mata berbinar, membuat saya ikut terhanyut merasakan apa yang beliau rasakan.
Beliau masih melanjutkan bercerita di acara Pameran Seni Rupa Komunitas Perupa Perempuan Indonesia (KOMPPI) di Ruang MH Thamrin Gedung Graha Ali Sadikin Balaikota Jakarta.
“Di Surabaya kami hidup dari melukis, kebetulan saya suka melukis dan saya mulai aktif melukis sejak tahun 90-an, saat masih berkuliah di salah satu Universitas Surabaya. Waktu itu saya memilih jurusan dekoratif, karena saya jatuh cinta pada warna-warna cerah, pada ekspresi yang bebas, dan pada keindahan dekorasi yang bisa memancarkan suasana hati.
Dari proses belajar itu, saya mendapatkan banyak ilmu, baik tentang teknik, komposisi, dan terutama tentang bagaimana melukis bisa menjadi bahasa jiwa.
Setelah lulus kuliah, saya menikah, hidup terasa wajar tanpa banyak perubahan. Namun setelah kelahiran anak, muncul keinginan kuat untuk pindah ke Jakarta. Entah mengapa, ada dorongan yang begitu besar, seperti panggilan batin,” kata Ibu dua orang anak tersebut.
Rupanya keinginan kuat untuk pindah ke Jakarta tidak serta merta dapat diwujudkan, mengingat keterbatasan keuangan yang menjadi tantangan utama,
hingga pada tahun 1994 usai pameran lukisan terjadi peristiwa yang tidak pernah dilupakannya, baginya itu antara mimpi dan kenyataan.
Konon, sekitar pukul 12 malam ketika semua sudah terlelap terdengar ketukan di pintu. Seorang tamu datang tanpa diduga, menawar dan membeli enam lukisan sekaligus. Tiga lukisan Ibu Nuryanah, tiganya lagi lukisan sang suami, beliau hampir tak percaya dengan kejadian yang baru terjadi.
“Rasanya seperti jawaban doa yang langsung datang dari langit, aku terus menangis, bersyukur, karena yakin bahwa jalan untuk hijrah ke Jakarta benar-benar terbuka.” Ucapnya mengenang moments yang tak mungkin ia lupakan.
Uang dari penjualan enam lukisan tersebut memulai langkah baru, keinginan yang selama ini hanya menjadi angan akhirnya terwujud. Besoknya dengan hati penuh syukur perjalanan menuju Jakarta pun dimulai, tanpa modal besar namun hanya keyakinan dan semangat yang dibawa bersama hasil dari lukisan-lukisan tersebut. “Semuanya murni hasil dari lukisan yang terjual malam itu,” kenangnya, masih dengan mata berbinar karena rasa haru dan hampir tak percaya.
Hijrah ke Jakarta bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan awal dari babak baru dalam kehidupan dan perjalanan berkesenian. Dari sinilah langkah demi langkah mulai ditapaki, keluarga kecil ini kembali menyesuaikan diri dengan suasana kota besar, meskipun Ibu Nuryanah kelahiran Jakarta sekitar tahun 1968 itu, tetapi mengaku tidak banyak memiliki teman seprofesi di Jakarta, sehingga mencari ruang untuk terus berkarya, melukis dengan sepenuh hati.
Sementara sang suami memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan di sebuah mall, usaha tersebut bergerak di bidang dekorasi seperti menghias area mall saat natal dan idul Fitri atau berbagai acara lainnya yang ada di mall, karena dunia dekorasi masih berhubungan dengan seni sehingga masih tetap bisa menyalurkan jiwa kreatifnya, dan itu berjalan selama 20 tahun.
Namun ketika pandemi covid-19 melanda hampir semua negara tak hanya Indonesia, banyak mall tutup, tentunya usaha yang sudah dirintis dengan tidak mudah pun harus tutup. Akhirnya kembali menekuni dunia lukis.
Beruntung, punya kenalan seorang pelukis yang cukup dikenal di Jakarta Raya, dari sana sang suami dipercaya menjadi koordinator pameran lukisan, melalui kegiatan itu semakin banyak berinteraksi dengan para seniman juga berbagai komunitas, hingga kembali aktif mengikuti berbagai pameran dengan gaya lukisan cenderung dekoratif dan ekspresif.
Melukis yang dulu hanya bermula dari hobi dan cinta warna, kini menjelma menjadi jalan hidup yang membawa makna lebih dalam.
“Saya terus melukis, bertemu banyak orang baru, menemukan warna-warna baru dalam hidup. Yang paling indah, suami yang dulu sempat ragu kini ikut melukis juga. Termasuk anak saya yang putra, saat ini kuliah di IKJ dengan mengambil jurusan seni lukis, sementara putri saya sudah bekerja sebagai arsitek, jadi kami sekeluarga memiliki kecintaan besar terhadap dunia seni,” ucapnya tanpa ragu.
Ketika saya tanyakan sudah berapa banyak lukisan yang dibuat. Beliau mengaku cukup banyak, tapi tak pernah menghitung, baik itu lukisan sang suami, anak-anak, termasuk lukisan hasil tangannya sendiri.
Satu hal naluri untuk melukis muncul menurutnya adalah terkadang datang begitu saja, kadang ketika membayangkan sesuatu, atau pada saat melihat pemandangan, suasana atau peristiwa yang menyentuh perasaan, dari sana inspirasi mengalir, tangannya seolah bergerak sendiri menuangkan warna serta bentuk ke atas kanvas.
“Tapi kalau lukisan kali ini ditentukan oleh panitia yaitu tentang budaya Betawi, baik dari sisi ekstrinsik seperti seni tari, musik, kuliner, juga pakaian adat. Dari intrinsik berupa nilai-nilai luhur seperti toleransi, kebersamaan dan keterbukaan, karena Pameran disini khusus mengangkat Budaya Betawi,” jelas Ibu Nuryanah pada Pameran Seni Rupa KOMPPI, saat itu yang mana setiap anggota KOMPPI hanya diwajibkan membuat 2 lukisan saja.
Kata beliau, kedua lukisan tersebut dibuat dalam waktu 1 minggu, dan baginya itu tidak terlalu sulit, mengingat hampir semua koleksi lukisannya sangat rumit.
“Lukisan menjadi jembatan kami, tempat kami berbagi rasa, mimpi, dan doa, karena
setiap goresan warna di kanvas bukan sekadar karya seni tapi juga kisah perjalanan, harapan, dan keberanian untuk percaya pada keajaiban.” Tutupnya penuh senyum.
Benar, Melukis merupakan bentuk ekspresi diri yang menggunakan unsur-unsur visual seperti garis, warna, tekstur, dan bentuk untuk menyampaikan emosi, cerita, atau gagasan.
Lebih dari sekadar kegiatan menggambar, melukis menghadirkan kedalaman makna dan kebebasan dalam mengekspresikan perasaan. Setiap sapuan kuas dan perpaduan warna mencerminkan suasana hati serta imajinasi sang pelukis.
Makanya Tak heran jika karya lukis sering menjadi cerminan jiwa dan pandangan hidup seseorang terhadap dunia di sekitarnya.
Namun, melukis tak hanya menjadi wadah ekspresi, tetapi juga dapat menjadi lahan hidup bagi para pelukis. Dari hasil karya yang tercipta, mereka dapat memperoleh penghasilan melalui pameran, penjualan karya, hingga pesanan khusus.
Dengan demikian, melukis bukan sekadar seni, tetapi juga profesi yang bernilai dan bermartabat.
Salam Sukma












