
Ada rindu yang tak pernah lapuk oleh perjalanan waktu, dan ada cinta yang senantiasa menemukan jalannya untuk pulang. Hari itu, di bawah naungan sederhana rumah makan yang dipenuhi aroma kehangatan Nusantara, langit Jakarta seolah berhenti sejenak menyaksikan dua jiwa penjelajah Bapak Tjiptadinata Effendi dan Ibu Roselina kembali menjejakkan kaki di tanah air. Pertemuan itu bukan sekadar perjumpaan fisik biasa, melainkan simfoni persahabatan tempat jiwa-jiwa penyair dan penjelajah kata saling bertaut, merayakan kerinduan yang telah lama mengendap di balik benua.
Langkah-langkah setia para sahabat Kompasiana berdatangan dari penjuru negeri, tak terhalang oleh jarak dan lelah. Dari sudut sejarah Yogyakarta, keasrian Kuningan, keheningan Sukabumi, hingga sejuknya Kota Bogor, mereka datang membawa seberkas kerinduan yang mendalam. Mereka bertandang hanya untuk satu alasan: kembali menatap mata dan menyalami hangat tangan Bapak Tjiptadinata beserta Ibunda Roselina, dua sosok pilar yang selama ini memberi makan jiwa lewat deretan tulisan dan teladan hidup.

Suasana pertemuan kian sarat makna dengan kehadiran para tokoh dan petinggi literasi tanah air. Tampak hadir pimpinan Kompasiana, Bapak Embong dan Pak Pepih, bersama para senior Kompasianer seperti H. Thamrin Dahlan, Syaiful Harahap, dan Ajinatha. Dalam lingkaran kebersamaan itu, tiada jarak antara yang senior dan junior, yang ada hanyalah benang merah persahabatan yang terpintal rapi oleh cinta pada literasi. Pertemuan berlangsung dengan hikmat, penuh tawa gembira, dan mengalir dengan kehangatan yang tak ternilai.

Di antara gelak tawa dan obrolan hangat, riak kejutan hadir menyentuh kalbu. Bapak Tjiptadinata, dengan suara yang lembut namun bergetar oleh ketulusan, melantunkan sebuah lagu khusus yang ia persembahkan hanya untuk Ibunda Roselina. Tak kalah mengharukan, seorang Kompasiana senior ayah tuah berdiri menyampaikan bait-bait puisi karangannya sendiri, sebuah kado jiwa yang ditujukan langsung bagi Ayahanda Tjiptadinata. Suasana makin semarak ketika generasi penulis muda turut menyumbangkan keindahan; penampilan istimewa dari Muthiah Alhasany dan rekan-rekan lainnya yang menyanyi untuk memeriahkan hari berharga tersebut.

Di balik kemeriahan itu, tersimpan fakta-fakta unik yang menggetarkan dada. Bapak Tjiptadinata dan Ibu Roselina telah mengarungi samudera pernikahan selama 61 tahun. Beliau berdua adalah cinta pertama sejak masa sekolah sebuah keabadian cinta yang jarang ditemui di era modern. Sepanjang acara, sisi romantis itu tak redup sedikit pun jemari Bapak Tjiptadinata terus menggenggam erat jemari Ibunda Roselina, menyanyikan lagu dengan tatapan mata yang masih sama hangatnya seperti puluhan tahun lalu.

Keteguhan dan perjuangan pasangan senior ini menjadi cermin jernih bagi para pasangan muda yang hadir. Lewat keteladanan yang terpancar tanpa sekat, mereka mengajarkan bahwa merawat rumah tangga adalah seni menjaga nyala api di tengah badai, bukan sekadar kata-kata manis di awal cerita. Setiap genggaman tangan dan senyuman di antara berdua menjadi nasihat paling puitis bagi generasi muda tentang arti keikhlasan dan kesetiaan.
Sebagai penutup yang menggetarkan sukma, motivasi dan kata sambutan yang disampaikan oleh Bapak Tjiptadinata Effendi tertanam dalam di sanubari setiap hadirin. Pesan-pesan kehidupan yang beliau tuturkan tak hanya menyentuh para juniornya di Kompasiana, tetapi juga menggoreskan kesan mendalam bagi para penulis di Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan. Hari itu, mereka tak hanya pulang membawa perut yang kenyang, tetapi juga jiwa yang penuh dengan lentera kebaikan dan cinta yang tak kunjung padam.
Liputan Sumardi dari Jakarta





