Oktober Kala Itu

Lima musim telah berlalu, ketika kala itu lewat jejaring sosial ada permintaan pertemanan dari seseorang. Dia seorang pria berasal dari tetangga desa, namun sudah lama tinggal di salah satu kota lain. Dia seorang pria yang sudah berkeluarga, mempunyai seorang putri berusia 12 tahunan kala itu, namun istrinya sudah dipanggil Yang Maha Kuasa karena sebuah tragedi kecelakaan . Namanya Rizki. Sosoknya kelihatan dewasa dan bijaksana serta penyayang. Sinar matanya tajam namun lembut, senyumnya menawan.
Kala itu dia meminta pertemanan di akun Facebook. Namun aku tak menanggapi permintaan pertemanan tersebut. Kubiarkan berlalu begitu saja. Sampai pada akhirnya, mungkin Tuhan sudah mengatur kisah hidupku harus melewati semua ini.
Entah kenapa, aku serasa tak berdaya, ketika hampir tiap hari, Rizki selalu menyapaku dengan santunnya. Kalimat-kalimat penuh makna dan mempesona senantiasa dia tuliskan untukku. Hingga tanpa kusadari pertemanan kami telah berubah menjadi sebuah persahabatan. Dan persahabatan itu rasanya kian memikat hari-hariku. Hingga aku tanpa sadar selalu merindukan dirinya, jika tak bersapa dan bercanda walau hanya lewat dunia maya. Aku tak tahu apa arti semua ini. Yang jelas kami sama-sama merasa cocok dalam hal apapun. Semua yang terjadi di dunia ini sudah ada yang mengaturnya. Kita sebagai manusia hanya sebagai wayang yang dalangnya adalah Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segalanya, Allah Subhanau wata’ala.
Aku yang berada di sudut desa, dia berada di belahan kota lain, namun rasanya begitu dekat. Walau begitu, kami tetap bisa menjaga norma dan adab, dan itu pula jarak yang memisahkan kami untuk tidak mungkin bertemu secara nyata. Kami hanya ditakdirkan untuk bertemu dan bersahabat lewat maya, dan itu sudah membuat kami bahagia. Doa terbaik semoga Rizki selalu sehat bersama putri semata wayangnya.
#KarenaMenulisAkuAda
#Day38KMAAYPTDCHallenge
Gunungkidul, 29 September 2021












