LELAHKU HILANG

Bismilahi tawakaltu ‘alallahi lahaula wala kuata ilabilahil aliyiladziim… doa keluar rumah aku panjatkan setelah kegiatan rutin pagi ku bereskan dapur dan juga persiapkan kebutuhan anak-anak untuk ke sekolah. Motor merah yang selalu setia menemani perjalanku ke sekolah telah siap juga untuk bersamaiku. Tepat pukul 06.30 WIB aku berangkat. Hangat mentari, kicauan burung bersautan, deretan bukit terpampang luas menambah semangat baru tuk tapaki jalan. Suasana sejuk khas pegunungan menemaniku setiap hari dengan pemandangan persawahan nan hijau sebelum sampai tepat di sekolah tempatku bekerja serta rimbunnya pepohonan terlihat menyejukkan mata menghiasi pegunungan yang berada di belakang sekolah. Meski udara dingin membuat alergi dinginnya lebih sering menghampiri tubuhku hingga jaket dan masker menjadi perlengkapanku yang wajib kubawa.
“Selamat pagi,Pak. Assalamu’alaikum,” sapaku pada seorang guru senior di sekolah.
“Pagi, wa’alaikumsalam warah matullah, Bu. Jawabnya.”
Sedikit berbincangan untuk saling sapa terjadi dan kami pun menuju ke ruang guru. Di sana belum banyak guru yang datang. Pak Tito temanku yang begitu luar biasa, beliau menurutku sosok guru teladan. Bagaimana tidak di antara guru dan karyawan beliaulah orang yang rumahnya paling jauh. Sementara datang ke sekolah tak pernah terlambat. Selama ku bekerja di sekolah itu hanya beberapa kali aku temui beliau datang ke sekolah terlambat, itu saja karena alasan tertentu,ban bocor atau ada tugas lain yang tidak dapat ditinggalkan.
Malu jika kami yang rumahnya lebih dekat dari pada Pak Tito namun datang terlambat. Apa yang membuat aku dan teman guru lainnya tidak seperti beliau. Perlu di tanamkan dalam hati untuk bisa datang tepat waktu, kedisiplinan akan terbentuk jika kita selalu berusaha tepat waktu. “Aku harus bisa” Pak Tito bisa aku dan teman lainpun harus bisa. Satu tekat niat yang tulus untuk bisa datang ke sekolah tepat waktu.
Berteman dengan Pak Tito selama kurang lebih 7 tahun membuatku belajar banyak hal. Aku yang semula merasa terbebani bekerja dengan jarak yang jauh kini mulai sadar bahwa ternyata ada yang lebih jauh juga dan beliau tak pernah mengeluh sedikitpun. Beliau adalah sosok yang bersahaja dan berwibawa., rendah hati dan suka menolong. Beliau benar-benar mampu menggerakkan sekolah. Selama ada beliau di sekolah ini, banyak kegiatan yang di lakukan. Setiap ada event perlombaan banyak siswa yang berhasil dan mengharumkan nama baik SD.
Hingga siang itu tiba-tiba beliau menghampirikudan berbincang. Betapa kagetnya setelah mendengar beliau mau mutase ke daerah asalnya.
“Bu, mohon doanya ya, semoga nanati saya bisa menyesuaikan bekerja di tempat yang baru.” Ucap beliau.
“Lhu Bapak mau mutasi kemana? Kok mau mutasi, Pak. Bagaimana dengan SD ini jika di tinggal Bapak? Tanyaku bertubi-tubi membuat Pak Tito terdiam sejenak.
“Begini, Bu. Beberapa bulan yang lalu saya mencoba untuk usul mutasi ke tempat yang lebih dekat.” Jelasnya.
Tentu kaget aku mendengar kabar itu. Namun apa boleh buat. Melihat jarak rumah beliau ke sekolah begitu jauh, tak tega jika melihat beliau terlalu capek di perjalanan. Maka aku pun berusaha mengiklaskan. Walau jujur aku dan juga guru lain sangat kehilangan. Sempat kami berpikir bagaimana kedepannya sekolah ini jika Pak Tito mutasi. Tapi aku hempas segala keraguan, pasti nanti sekolah masih tetap bisa pertahankan segala prestasi yang ada dan semoga lebih maju.
Tiba waktu yang di nanti, SK mutasi ke daerah asal Pak Tito keluar. Dan Pak Tito pun berpamitan kepada seluruh warga sekolah termasuk anak-anak. Suasana sedih meliputi. Bukan hanya anak-anak yang keluarkan air mata. Bapak ibu guru dan karyawan pun turut serta.
“Berpisah hanya di lahirnya, di hati kita tetaplah kita satu, jauh di mata dekat di hati. Maafkan saya selama di sini banyak keslahan pada anak-anak dan juga bapak ibu guru. Begitu pula jika bapak ibu dna juga anak-anak punya salah saya juga memaafkan.” Kata pamit pak Tito.
Ibu kepala sekolah atas nama warga sekolah membalas kata pamit Pak Tito dengan perasaan berat, suasana haru begitu terasa. Kami bersalaman dengan derai air mata. Kami akan kehilanagn sosok guru yang bisa beri inspirasi dan motivasi pada kami. Terimakasih Pak Tito untuk semua yang telah Bapak berikan pada kami. Semoga Allah selalu melindungi dan memberkahi.
Kepergian Pak Tito mampu membuat ku lebih bersemangat lagi. Aku akan ingat dan jalankan pesan Pak Tito.
Kini Aku tak lagi mengeluh merasa capek dan berat dalam bekerja. Walau jarak jauh yang aku tempuh semua akan terasa ringan. Luruskan Niat bahwa apa yang kita lakukan akan kembali pada kita hal baik atau hal buruk sekalipun. Niat untuk mulai bisa berubah.Yakin kehadiran kita selalu di nanti sejuta harapan anak-anak bangsa,di pundak mereka ada beban berat untuk mereka lalui di masa depan,Tugas kita yang bisa membuat mereka jadi anak-anak kuat,tangguh,beriman serta berkepribadian.
Tidak mudah memang, tidak cukup untuk di beri nasehat namun butuh teladan dari kita sebagai guru. Di mulai dari diri kita sendiri. Jadilah guru yang selalu di tunggu kehadirannya selalu di rindukan anak didik kita bukan guru yang di takuti yang tidak diharapkan kehadiranya. Ada kebahagiaan tersendiri melihat senyum-senyum ceria anak-anak didik, apalagi melihat mereka mampu menerima pelajaran yang kusampaikan. Lelah menjadi hilang bahagia kan datang. Tidak ada kata lain selain bangga dan bahagia seorang guru bisa membuat anak-anak didiknya bisa menerima apa yang kita sampaikan. Senyummu semangatku nak…!
#KarenaMenulisAkuAda
#Day26KMAAYPTDChallenge
Gunungkidul, 17 Sepetember 2021






Jadilah guru yang selalu di tunggu kehadirannya dan dicintai murid-muridnya.