Lebaran Kelabu (2)

Hari belum begitu siang. Sementara rintihan sakit Faizal ritmenya kian rapat. Dalam cemas, aku bergegas menuju unit Graha Husada. Di pavilyun ini kuharapkan bisa memberi peluang untuk mendapatkan layanan operasi lebih cepat.

Namun di tempat ini tak memberikan harapan. Hasil yang kudapat tetap nihil. Resepsionis menjelaskan bahwa dokter Ismu, spesialis Bedah Ortopedi sedang berada di Jepang. Kepulangannya paling cepat hingga tanggal 4 Juli. Petugas itu juga menjelaskan perihal prioritas penanganan pasien yg mendapatkan tindakan operasi.

“Darurat operasi hanya diperuntukkan buat pasien yang masuk kategori redzone Bu. Semisal patah tulang terbuka. Jadi kalau diagendakan tanggal tiga, berarti kondisi pasien tidak mendesak.” jelas resepsionis itu.

Mendengar penjelasan petugas itu, lidahku terasa kelu. Mulutku tercekat. Seakan pintu untuk memajukan operasi bagi Faizal sudah tertutup. Meski demikian, masih terucap syukur dalam hati.

Segala puji hanyalah untuk Allah. Rasa bersyukur bahwa fraktur (patah tulang) pada femur (tulang paha) anakku termasuk tipe tertutup. Tidak sampai menembus daging dan kulitnya. Namun siapa yang tega mendengar keluhannya. Rintihan yang keluar dari lesannya, sungguh begitu menyesak dada.

Yaa Allah… Kemana lagi aku harus melobi. Sejenak kubuka HP androidku. Bismillah. Kukirimkan permintaan doa kepada teman di berbagai di WAG. Grup keluarga besarku dan keluarga besar suami. Grup SMA, SMP, Klas Biologi, MGMP matpel di kotaku. Juga grup ODOJ dan juga beragam jamaah pengajian.

Kumohonkan keridhoan doa untuk kemudahan urusan ini. Berharap doa dari teman, kerabat dan saudara mampu mengetuk Arsy menembus jagat pengampunan dari Robb penguasa jagat. Tuhan penggenggam segala urusan. Harapku, benang kusut ini besa terurai oleh kemurahan-Nya.

Hari Rabo pagi. Waktu belum begitu siang. Bersimpuh aku di pojok Masjid rumah sakit ini. Hanyut dalam dalam panjatan doa-doa tak bertepi. Kutumpahkan segala sesak yang membebaniku. Patahnya tulang paha anak sulungku. Juga tentang mimpi indahnya untuk kuliah di ITS. Kampus dambaannya sejak awal masuk SMA. Terbersit aneka keraguan. Menyusup beragam kebimbangan. Masih bisakah dia mengikuti tes seleksi dalam dua minggu kedepan. Mengingat operasi baru dilakukan seminggu ke depan.

“Ya Allah, Tuhan pemilik alam yang menggenggam segala urusan. Peganglah urusan ini yaa Robii. Jadikanlah segalanya menjadi mudah. Sesungguhnya Engkau yang mempermudah segala urusan. Yang pelik rumit juga yang gampang dan mudah. Engkau Maha segala-galanya. Yassaralllahu umuronna.” Yaa Allah, mudahkanlah urusan kami ini.

***

Menunggu hingga tiba waktu yang dijadwalkan untuk bedah tulang, alangkah lamanya kurasa. Rintihan kesakitan anakku seakan kian memperlambat putaran waktu. Sulit kubayangkan enam hari harus terhimpit rasa nyeri.

Kami bertiga berada di kamar Bima Lima. Faisal, aku dan suami. Sengaja kamar Faizal dipindahkan di kompleks Graha Husada, agar pelayanan perawatan lebih mudah didapat.

Jarum jam menunjuk angka sembilan. Belum terlalu malam. Kulihat anakku mulai tenang setelah suster menambahkan obat anti nyeri disuntikkan lewat slang infus.

Tiba tiba pintu kamar diketuk.

“Assalamu alaikum.”

“Waalikum salam.”

Hampir berbarengan aku dan suami menjawab salam itu. Seseorang mengenakan jas dokter masuk, diikuti oleh dua perawat.

” Ini mas Faizal, ya? Saya dokter Hamzah,” sapa dokter yang berusia muda itu. Prediksiku usianya sekitar tiga puluhan tahun.

“Bagaimana, apa yang dikeluhkan?” Dokter yang ramah itu melanjutkan bertanya

“Sakit sekali, Dokter. Di bagian ini,” Faizal berusaha menjawab. Suaranya lorih kurang semangat.

“Sabar ya, besuk siang kita lakukan operasi. Malam ini bisa mulai puasa. Boleh makan boleh minum. Tapi maksimalnya jam enam pagi’ Jelas dokter yang belakangan kuketahui bernama Hamzah.

Dokter muda itu lalu memberi tahu kalau ia mendapat amanah dari dokter Wisnu. Kami tak begitu paham apa yang dimaksudkan olehnya. Mengapa ada amanah untuk tindakan operasi buat anakku. Mengapa dokter spesialis bedah Ortopedi yang masih plesir di Jepan itu demikian peduli pada urusan yang sulit ini?

Aku dan suami hanya bisa melonga. Sementara aneka pertanyaan masih tersimpan dalam benakku. Hendak kutanyakan pada dokter muda itu, tapi mandeg di tenggorokan. Suaraku tak jadi membunyi.

“Begitu, Mas Faizal. Apa ada yang ditanyakan?” Pertanyaan dokter Hamzah membuyarkan lamunanku.

Saking bungahnya, aku dan suami menjadi bingung apa yg harus kutanyakan. Seakan tak percaya, Allah telah mengirim dokter itu ke kamar tempat anakku di rawat. Aku meyakinkan diri kalau ini bukanlah mimpi. Alhamdulillah. Terimakasih Yaa Allah, wahai dzat yang menggenggam segala urusan. Tuhan yang maha pemurah lagi Maha mengabulkan doa. Bersambung ke kmaa-9

 

#KMAA-8-Cerbung-LebaranKelabu

#Direpro dari artikel penulis yang terbit di gurusiana.id

 

Tinggalkan Balasan

1 komentar