Di negeri ini terdapat banyak pondok pesantren, terutama di pulau Jawa. Awalnya, pesantren berada di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, yakni di Dirjen Diniyah dan Pondok Pesantren (Ditpdpontren).
Namun kini pesantren meliliki dirjen khusus yaitu Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren.
Lahirnya ditjen ini dianggap sebagai kado spesial Perayaan Hari Santri 2025
Hal ini disampaikan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H.R. Muhammad Syafi’i di Antara Heritage Centre (AHC), Jakarta pada Kamis (Antara News, 25-9-2025).
Mantan Menag Lukman Hakim Saifuddin menegaskan relevansi pembentukan Ditjen Pesantren sebagai kebutuhan negara dalam menjaga dan memperkuat moderasi beragama sekaligus mendukung kemandirian pesantren. Menurutnya, negara berkepentingan memastikan pemahaman keagamaan mayoritas. warganya tetap moderat. (kemenag.go.id, 25-9-2025).
Membawa kepada kebaikan atau justru menyeret pada ke mudharatankah bila diberikan pandangan moderasi beragama pada dunia pesantren? Tulisan ini berusaha memberikan jawaban.
Proyek Barat
Pemikiran moderasi bukan ajaran Islam karena ia lahir dari rahim sekularisme. Gagasan moderasi beragama idak berkaitan dengan fungsi strategis pesantren sebagai poros dakwah perjuangan Islam oleh ulama dan santrinya
Moderasi merupakan proyek global Barat untuk mencegah kebangkitan Islam. Melalui moderasi, Barat berupaya mengerdilkan ajaran Islam sebagai ideologi. Tujuannya agar Islam hanya sebagai agama ritual semata yang tidak mumuat keharusan penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Barat menvinginkan lahirnya individu muslim moderat yang menerima pemikiran Asing seperti demokrasi, liberalisme, pluralisme yang menjauhkan peran agama dari kehidupan.
Barat memberikan dukungan yang luas untuk proyek moderasi dengan dana dan memberi panggung bagi tokoh yang menjadi corongnya. Barat mendukung apapun kelompok moderat ini dalam menampilkan wajah Islam sekuler.Tujuannya untuk memunculkan keragu-raguan umat tentang ajaran Islam dan mengikis kebanggaan terhadap Islam dan
Oleh karenanya, ironis jika negeri muslim ini ikut latah mengadopsi moderasi dan membesarkan opini tentangnya. Apalagi dengan menjadikan moderasi sebagai program yang dilekatkan dengan dunia pesantren. Namun mirisnya, tidak sedikit ulama yang ikut menyuarakan moderasi, perkara yang mestinya ditolak karena memang bukan ajaran Islam.
Penggeseran Orientasi Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang berakar pada tradisi ulama dan santri. Orientasi pesantren sangat , visioner dan strategis. Lembaga pesanten bertujuan mencetak ulama warasatul anbiya’ yang berkepribadian Islam, menguasai ilmu agama, tangguh dalam dakwah. Juga aktif melakukan koreksi terhadap penguasa agar pemimpin terus berada dalam jalur rakwa dan benar dalam mengurusi urusan rakyat.
Dari pesantren lahirlah tokoh ulama besar yang perhatian terhadap masa depan generasi Kiai Hasyim Asy’ari contohnya, yang mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang pada 1899. Beliau kemudian membentuk Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926. Beliau adalah penyeru Resolusi Jihad untuk melawan kafir penjajah.
Tokoh ulama seperguruan Kiai Hasyim Asy’ari di Makkah, yaitu Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Beliau dikenal sebagai pendiri pusat pendidikan Islam yang hingga kini terus berkembang.
Dalam perjalanan sejarah negeri yang penuh dinamika, kehadiran pesantren dirasakan begitu nyata. Kiprah pesantren jauh dari orientasi materi. Langkah perjuangannya semata demi meninggikan agama Allah, mencerdaskan umat dengan Islam, menyeru pada ketaatan syariat-Nya. Pesantren juga memiliki misi membangun kepedulian umat terhadap persoalan negerinya.
Namun, seiring menguatnya dominansi penjajahan kapitalisme sekuler di nusantara, pesantren pun tidak luput dari serangan pemikiran sekuler. Berbagai program berbau sekuler terus dirancang untuk menyudutkan ajaran Islam.
Langkah mengebiri kesempurnaan Islam, melemahkan peran strategis ulama dan santri, serta menggeser arah perjuangan. Dan kini, moderasi beragamapun masuk dalam kurikulumnya. Menjadi topeng bagi masifnya sekularisasi lewat pesantren.
Sudah waktunya umat sadar bahwa ide dan pemikiran asing telah masuk dalam tubuh umat. Tidak hanya lewat kurilulum sekolah formal namun juga melalui lembaga pesanten.











