Sebagai manusia normal, wajar bila kita pernah berkonflik dengan sesama. Berakar dari prinsip yang berbeda, maupun pandangan yang tidak sama.
Komunitas menawarkan banyak cara dalam menyelesaikan konflik, tapi seringkali tidak membawa kedamaian sejati dan abadi bagi hubungan relasional antara kita dengan sesama manusia. Di permukaan, konfliknya tampak selesai, tapi benarkah hati kita selesai berkonflik? Itulah sebabnya kita perlu mempertimbangkan cara terbaik dalam menyelesaikan konflik. Cara yang jauh berbeda dari jalan kita, dan terkadang tidak sesuai dengan logika kita. Sebab bukan hanya menyelesaikan konflik, tapi kita harus menyelesaikan akar masalahnya, yaitu hati kita.
Seorang penulis pernah melakukan penelitian terhadap sejarah penyebab perang dan menyimpulkan bahwa perang disebabkan dorongan tanpa henti untuk memiliki kekuasaan. Sejarawan Thucydides, mengatakan bahwa hal itu akan selalu terjadi selama sifat manusia tetap sama, penyebab semua kejahatan ini adalah nafsu yang muncul dari keserakahan dan ambisi.
Contoh yang paling dekat dalam kehidupan kita, dua orang pemuda yang berkonflik gara-gara memperebutkan seorang gadis, atau dua orang tenaga penjual yang memperebutkan seorang pelanggan. Pasti pangkal konflik adalah karena keegoisan kedua belah pihak.
Sumber konflik adalah nafsu manusia yang saling berjuang untuk menang di dalam hatinya. Kita terlalu egois, kita selalu mendahulukan kepentingan pribadi. Kita ingin memenangkan argumen, apapun yang kita inginkan harus kita dapatkan. Inilah akarnya, Sebab di mana terjadi iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ pasti ada keributan dan segala macam perbuatan jahat. Ingat, menuruti nafsu berarti mementingkan diri sendiri. Sudah seharusnya kita selalu ingat tidak boleh egois dan rela berkorban.
Jika hari ini kita sedang menghadapi konflik dan nurani kita mengharapkan kedamaian di dalam hati kita, pertama-tama kita perlu menilai motivasi kita dengan jujur. Jangan duduk pasif dan membiarkan rasa egois menguasai konflik kita. Bertobatlah dari keegoisan kita. Dengan begitu, kita dapat menghindari bahkan mengatasi konflik secara dewasa dan objektif tanpa melibatkan nafsu.
Hampir semua konflik relasional berakar dari salah satu atau kedua belah pihak yang menonjolkan rasa egoisnya.
Pada saat terjadi konflik, kita perlu menilai motivasi kita dengan jujur. Jauhkan rasa egois kita. Atasi konflik secara dewasa dan menilainya secara objektif tanpa digerakkan nafsu kita.
Di mana terdapat iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ pasti terjadi keributan dan segala macam perbuatan jahat.
Tangerang Selatan, 23 September 2021.
@sg











