Laporan di dw.com/id (15/3-2016) menyebutkan ada tujuh keajaiban alam yang juga sebagai ‘surga wisata’ di dunia yang terancam akan hilang karena berbagai faktor. Salah satu di antaranya adalah Pulau Bali. Pulau yang dijuluki “Pulau Dewata” ini merupakan daerah tujuan wisata (DTW) utama di Indonesia. Jika faKtor-faktor yang merusak ekosistem di pulau itu tidak segera ditangani, maka ‘surga wisata’ ini pun terancam akan tinggal kenangan.
Selain Pulau Bali surga wisata lain yang diperkirakan akan tinggal kenangan adalah: Maladewa, Gunung Kilimanjaro (Afrika), Hutan Amazon (Amerika Latin), Laut Mati, Mount Everest, dan Danau Titicaca (Peru).
Salah satu risiko terbesar yang dihadapi Bali adalah penyedotan bawah tanah (ABT). Air permukaan dan mata air tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi permukiman, industri dan pariwisata. Akibatnya, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) daerah pun harus menyedot air dari dalam tanah atau ABT. Selain PDAM, banyak pula rumah tangga, perumahan, industri dan industri pariwisata yang juga menyedot ABT sehingga daya dukung air tanah di Pulau Bali krisis.
Paling tidak Pemprov Bali harus menyediakan air bersih untuk 4,3 juta penduduk, air untuk irigasi dan air bersih untuk industri pariwisata. Sebagai DTW utama Pulau Bali jadi ’surga’ bagi wisatawan mancanegara. Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat wisatawan mancanegara dengan menumpang pesawat yang terbang dari negerinya maupun lewat laut ke Pulau Dewata sebanyak 2.992.925 pada periode Januari-September 2015 atau naik 7,63 persen jika dibandingkan periode sama tahun t2014 hanya 2.780.741 (bali.tribunnews.com, 31/10-2015).
Pada tahun 1970-an, sebagaimana rata-rata masyarakat Indonesia, warg Bali setiap hari hanya menghabiskan air 60-90 liter/hari/orang. Kebutuhan air itu sudah mencakup untuk mandi, mencuci, masak, dan sebagainya. Kini konsumsi air warga Bali, setidaknya warga Kota Denpasar, sudah mendekati 200 liter/hari/orang (bali.tribunnews.com, 11/5-2015). Kondisi ini perkiraan kalangan ahli 60 persen cadangan air di Bali ada dalam kondisi kering.
Kondisinya kian parah karena luas daerah tangkapan hujan (catchment area) pun kian menyusut karena dipakai untuk perladangan, permukiman, industri dan pariwisata. Jika penyedotan ABT tidak dikontrol, maka cadangan ABT akan kritis yang menyebabkan permukaan tanah turun dan mendorong terjadi intrusi air laut.
Pola tata guna lahan pun lepas kontrol sehingga lahan dengan kemiringan di atas 15 derajat pada ketinggian 350 meter dpl (di atas permukaan air laut) yang dijadikan sebagai kawasan lindung untuk daerah tangkapan hujan pun jadi areal pertanian dan permukiman. Pada areal pertanian dan permukiman tidak ada lagi pohon-pohon yang besar bahkan sebagian lahan gundul. Ini menyebabkan air hujan akan mengalir deras sebagai air permukaan (run off) sehingga tidak sempat masuk ke bawah permukaan tanah untuk mengisi cadangan ABT.
Berdasarkan kemiringan lereng (elevasi) pemanfaatan lahan erat kaitannya dengan ekosistem, yaitu: pada lereng di bawah 15 derajat tanaman tahunan 25 persen dan tanaman semusim 75 persen, pada kemiringan 15-30 derajat tanaman tahunan 50 persen dan tanaman semusim 50 persen, di lereng dengan kemiringan 30-45 derajat tanaman tahunan 75 persen dan tanaman semusim 25 persen, sedangkan di lereng dengan kemiringan di atas 45 derajat hanya ditanami dengan tanaman tahunan 100 persen (vetiverindonesia.wordpress.com).
Dengan patokan di atas bisa diamati apa yang terjadi di Pulau Bali khususnya dan di Indonesia umumnya. Di lereng-lereng dengan kemiringan di atas 15 persen nyaris tidak ada lagi tumbuhan karena yang ada justru perladangan dan permukiman. Kondisi ini membuat air hujan tidak maksimal masuk ke bawah permukaan tanah. Dalam Permentan No 47/Permentan/OT.140/10/2006 tentang Pedoman Umum Budidaya Pertanian pada Lahan Pegunungan disebutkan bahwa Lahan pegunungan adalah wilayah dengan elevasi > 350 m dpl dan/atau dengan tingkat kemiringan lereng > 15%.
Alih fungsi lahan persawahan di Bali juga cukup kencang. Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan Bali, misalnya, menyebutkan pada tahun 2013 luas lahan pertanian berkurang 460 hektar menjadi 81.116 hektar, dibandingkan dengan tahun 2012 yang luasnya 81.625 hektar (bisnis.com, 29/6-/2014). Dengan penyusutan rata-rata 400 hektar pertahan, diperkirakan luas lahan pertanian hanya 14 persen dari luas daratan seluas 5.780 kilometer persegi.
Maka, langkah yang arif adalah memanbun bendung dan bendungan untuk menampung air hujan. Bendungan pun bisa pula dimanfaatkan untuk pengairan (irigas) dan menggerakkan turbin pembangkit listrik. Bisa dengan skala kecil misalnya untuk beberapa desa atau tingkat kecamatan.
Tanpa langkah-langkah yang konkret kerusakan lingkungan dan penyedotan ABT akan merusak Pulau Bali yang diperparah dengan intrusi air laut. Perubahan iklim global yang menyebabkan permukaan air laut naik juga jadi ancaman bagi Pulau Bali.
Hanya dengan regulasi yang disertai dengan penegakan hukum yang bisa ”menyelamatkan” Pulau Bali agar kelak tidak hanya dikenal sebagai ”kenangan” (Kompasiana, 2 Agustus 2016). *
Komentar:
Robert Parlaungan Siregar (2 Agustus 2016) Bung Syaiful: tulisan bermanfaat. Seorang teman pernah berkomentar (orang Bali, guru besar Arsitektur dan pejuang lingkungan): “Semoga pemerintah pusat tidak menjadikan Bali sebagai satu-satunya objek wisata di nusantara, namun hendaknya membangun di seantero Aceh hingga Jayapura”. Beliau melihat ancaman terhadap kehidupan di Bali, terhadap penduduk asli Bali. Terima kasih berbagi dan salam.
Syaiful W. HARAHAP (4 Agustus 2016) @Robert, ya .. itulah yg terjadi. Celakanya, orang Bali pun menikmatinya tanpa memikirkan anak cucu mereka kelak… salam ….
Iskandar Zulkarnain (2 Agustus 2016) Ikut prihatin… keserakahan manusia, pelan-pelan menenggelamkan manusia itu sendiri. Kejadian yang baru saja terjadi, di Anyer dan Panimbang Banten.
Syaiful W. HARAHAP (4 Agustus 2016) @Iskandar …. Ya, biar pun sdh ada korban tapi penguasa dng uang rupanya tetap tdk perduli … kita terus perang melawan mereka… Salam …
TJIPTADINATA EFFENDI (2 Agustus 2016) Bang …. Ikut prihatin …. adakah upaya untuk mengatasinya Bang? Terima kash dan salam hangat dari musim dingin yang mengigil
Syaiful W. HARAHAP (4 Agustus 2016) @Pak Tjip, celakanya yg merusak itu kan pemegang kekuasaan dan uang … kita hanya bisa berteriak … hehe.. Salam ….
Thamrin Sonata (2 Agustus 2016) Inilah soal kita bersama, Bang.
Syaiful W. HARAHAP (4 Agustus 2016) @Thamrin, ya kita hanya bisa memakai ‘pena’ untuk memerangi perlakuan buruk thp alam …. Salam
Ananda Syahendar (2 Agustus 2016) …. lah carita dan anyer aja sekarang banjir gimana ceritanya tuh..
Syaiful W. HARAHAP (2 Agustus 2016) @Ananda, ya .. itulah ulah manusia celakanya pemerintah daerah tdk bertindak ….
hasan saropi (2 Agustus 2016) Sekarang tarif PAM naik berlipat lipat menambah dorongan masyarakat dan pengguna air banyak akan mengebor air tanah. Hotel, villa jelas butuh air banyak untuk kolam renang dsb, dari mana lagi sumber air kalau tidak ngebor. Pemda harus bertindak sebelum terlambat.
Syaiful W. HARAHAP (2 Agustus 2016) @hasan, ya jika dibiarkan permukaan tanah akan turun dan itu artinya pulau itu pun akan di bawah permukaan air laut …. Salam ….
Mbah Ukik (2 Agustus 2016) Bukan hanya Bali. Semua alam di negeri ini banyak yang berubah peruntukan…
Syaiful W. HARAHAP (2 Agustus 2016) @Mbah Ukik, terima kasih … itu kan contoh ekstrim … yg potensial saja diabaikan apalagi yg tdk potensial ….











