Seri Santet #1 – Kiriman Gaib untuk Mencelakai

Humaniora1485 Dilihat

Pengantar: Seri tulisan tentang santet ini tidak berurutan waktunya, tapi tetap saling terkait yang merupakan pengalaman empiris penulis. Alhamdulillah, sudah banyak yang saya bantu untuk menyembuhkan penyakit nonmedis mereka. Banyak di antara mereka yang sudah pasrah karena kehabisan uang berobat ke sana ke mari, tapi setelah saya hubungkan dengan yang mengobati saya penyakit nonmedis mereka itu pun sembuh. Penulis.

 

“Pak, hati-hati! Ada ’kiriman’ dari salah seorang saudara Bapak dari kampung.” (salah satu kota di bagian barat daya Sumatera Utara).

Itulah bunyi SMS yang saya terima tanggal 5/7-2013 pukul 20.00 WIB.

Kiriman? Kiriman apa? Malam-malam?

Tentulah itu yang muncul di pikiran banyak orang jika membaca SMS itu.

Apa iya, sih, ada jasa kurir yang mengantarkan kiriman malam hari?

Tentu saja bukan kiriman yang memakai jasa kurir, tapi kiriman secara gaib (tidak kelihatan).

Selepas shalat isya ada bunyi benda besar jatuh di loteng rumah. Saya kabari ke Banten dan Tasikmalaya tentang kejadian itu.

Bunyi-bunyi yang khas biasanya seperti pasir ditebarkan atau seperti bunyi benda besar jatuh.

Tapi, plafon tidak akan rusak dan di atas pun tidak ada benda. Padahal, kalau mendengar bunyi yang terjadi pastilah plafon jebol.

Rupanya, yang di Banten dan Tasikmalaya, yang sejak delapan tahun yang lalu membantu saya menghadapi ’kiriman-kiriman’ dalam bentuk ghaib sudah mengetahuinya.

”Saya akan tarik yang sudah masuk ke badan Bapak,” kata (alm) Dadang di Tasikmalaya.

Bersamaan dengan SMS dari Tasikmalaya masuk pula SMS dari Banten: ”Aduh, kembali lagi ada kiriman dari kampung, Pak!”

Dua-duanya jawabannya sama. Padahal, mereka tidak saling kenal dan jelas berjauhan puluhan kilometer.

Kabar dari Pak Ajie di Banten lebih rinci karena diberitahu asal benda yang dikirim: Kalau Bapak keluar dari jalan di depan rumah (maksudnya rumah di kampung) ke jalan raya belok ke kiri. Kira-kira lima kilometer.

Minggu sebelumnya benda yang dikirim dari kampung masuk ke sendi bahu kiri. Saya pergi ke Banten. Benda-benda itu diambil.

”Pengiriman” benda-benda yang memakai ’jasa’ makhluk halus dengan umpan minyak yang disuling dari sejenis kayu di Turki itu biasanya dilakukan pada malam Selasa dan malam Sabtu.

Benda-benda keras, seperti paku, tulang binatang, dan lain-lain dijadikan semacam jelly, secara ilmiah dikenal sebagai dematerialisasi (proses mengubah materi jadi immateri). Dengan bantuan gaib jelly masuk ke badan, setelah di dalam badan akan berubah wujud ke benda aslinya sehingga menimbulkan rasa sakit. Celakanya, benda-benda itu sudah dilumuri dengan racun sehingga menimbulkan penyakit yang parah.

Gambaran ril yang disampaikan dari Banten menyebutkan bahwa saudara yang memakai jasa dukun itu untuk mengirimkan ’benda-benda’ mengeluarkan uang dalam tiga tahap, yaitu Rp 7 juta, Rp 4 juta dan Rp 6 juta.

Tentu saja jumlah itu tidak sedikit, tapi karena sudah kerasukan dengan harapan dapat yang lebih banyak orang-orang yang memakai jasa dukun santet akan terus membayar dukun untuk mengirim santet. Selain itu ada juga dukun memaksa harus terus disantet dengan alasan kalau berhenti santet akan berbalik ke dia.

”Sangat jelas terlihat sosok laki-laki yang menyerahkan uang kepada dukun yang mengirimkan benda-benda itu,” kata Pak Ajie. ”Berkulit hitam.”

Yang mengirimkan benda itu sendiri laki-laki tua berumur sekitar 60 tahun yang membuka ’praktek’ semacam paranormal. Bukan penduduk asli daerah itu dan sebenarnya tidak pemeluk Islam.

Alasan saudara di kampung memakai dukun untuk mencelakai saya ternyata berkaitan dengan harta warisan. Tapi, harta warisan itu dikuasai oleh adik bukan saya.

Namun, karena saya anak tertua mereka anggap saya bersekongkol untuk menguasai tanah tersebut dengan adik saya.

Persoalannya adalah saudara itu tidak mengirimkan ancaman: bagi harta atau saya santet!

Itulah sebabnya saya tidak tahu apa alasan saudara itu membayar dukun untuk menyantet saya.

Akibatnya, selama ini saya hanya meraba-raba apa alasan saudara itu mencelakai saya.

Sebelum ‘kiriman’ tersebut mendarat di rumah ada keponakan yang datang. Nah, keponakan itulah yang mereka manfaatkan untuk membawa ‘benda pertanda’ ke rumah, seperti: beras, kertas, dll. Memang, beberapa hari setelah keponakan tadi datang ke rumah ada beberapa butir beras di teras.

‘Benda pertanda’ itulah yang menjadi “kompas” bagi makhluk halus yang membawa ‘kiriman’ secara gaib untuk mencari (posisi) saya.

Kegiatan pengiriman ‘benda’ dengan makhluk halus merupakan bentuk santet (adalah upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu hitam. Santet dilakukan menggunakan berbagai macam media antara lain rambut, foto, boneka, dupa, rupa-rupa kemang, dan lain-lain. Seseorang yang terkena santet akan berakibat cacat atau meninggal dunia. Santet sering dilakukan orang yang mempunyai dendam kepada orang lain (id.wikipedia.org).

Sendi bahu kiri saya memang nyeri. Saya berobat ke rumah sakit di Jakarta Timur tapi tetap tidak sembuh. Setelah benda di bahu saya diambil di Banten kondisinya jauh lebih baik. Tidak nyeri lagi.

Saya tidak tahu entah sampai kapan saudara di kampung itu berhenti mengganggu saya dengan mengirim ’paket’ secara gaib (Kompasiana, 8 Juli 2013). *

 

Komentar: cuke sasuke (8 Juli 2013) Ane kok kurang percaya ama santet ya,,, kita percaya santet=kita melestarikan prasangka buruk .. itu kenyataannya,, salam

Tinggalkan Balasan