Abang Becak Bule dan Sisi Lain Kehidupan di Moskwa

Wisata345 Dilihat

Moskwa merupakan kota terbesar sekaligus ibukota Federasi Rusia yang dalam sejarahnya juga pernah menjadi tempat pusat pemerintahan negeri tirai besi Uni Soviet dan juga tempat singgasana para Tsar Rusia.

Kota dengan penduduk lebih dari sepuluh juta jiwa ini tidak pernah berhenti bergerak dan terus menerus penuh daya pikat untuk dijelajahi. Tempat yang pernah didatangi sekali bukannya tidak menarik untuk didatangi lagi untuk kedua kalinya. Demikian juga dengan kawasan di sekitar stasiun metro VDNKh.

 

Rusia, dengan runtuhnya Uni Soviet memang mengalami perubahan yang sangat cepat dari masyarakat dengan sistem ekonomi sentralistis yang tertutup menjadi sistem ekonomi kapitalis. Sistem ekonomi ini memang membuat banyak orang di Rusia menjadi kaya yang terlihat dengan banyaknya mobil mewah dan macetnya jalan-jalan di kota ini.

 

Namun sebagian lagi tampaknya tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dan terseok-seok dalam berlomba dengan biaya hidup yang kian hari kian mahal. Secara kasat mata, cukup banyak pengemis yang saya jumpai di jalan-jalan kota Moskwa termasuk di sekitar stasiun metro. Salah satunya adalah nenek tua bahkan menggelar topinya di tepi jalan di dekat pintu masuk stasiun metro VDNKh dan selalu membuat tanda salib setiap kali menerima uang receh sebagai tanda syukur.

Tidak jauh di hadapannya, ada lagi cara unik untuk mendapatkan uang receh. Seorang kakek berumur enam puluh tahunan memamerkan dua ekor kuda dan sekaligus meminta sedekah dari para pejalan kaki yang lewat.

Di dekat kawasan VDNKh ini pula banyak dijumpai pedagang kaki lima yang menjual segala jenis barang dan cukup ramai dikunjungi di sore itu. Saya terus berjalan ke belakang gedung Narodno Rusia dimana patung Lenin masih berdiri dengan megahnya. Di belakang gedung ini terdapat kumpulan paviliun yang digunakan sebagai tempat pameran permanen sejak jaman kejayaan Soviet dulu.

Sebuah air mancur dengan warna emas yang di tengahnya banyak terdapat patung cantik yang juga berkilauan warna emas menjadi pusat daya tarik kawasan ini. Sayangnya, sore itu air mancurnya sedang tidak dihidupkan, namun tetap tidak mengurangi aura keindahannya.

Di sebuah paviliun yang dijadikan museum, dipamerkan kendaraan rakyat jaman Soviet yaitu mobil merek ”Lada” yang legendaris. Di sebelahnya terdapat sebuah kendaraan militer khas Soviet yang dicat warna hijau.

 

Ketika senja kian meredup dan malam mulai menjelang walau waktu belum menunjukkan pukul 6 sore. Saya pun meninggalkan kawasan VDNKh ini. Asyiknya kali ini saya tidak naik metro melainkan mencoba moda transportasi lain yaitu monorel yang menghubungkan jalur 6 dan jalur 9 metro Moskwa.

Di sekitar pintu masuk metro di dekat kawasan museum kosmonaut dimana terdapat patung Yuri Gagarin dan kawan-kawannya, terdapat sebuah kendaraan yang mirip dengan becak namun dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bentuknya menjadi kombinasi helikopter dan bemo. Sebut saja bemo helicak.! Dan di atapnya tertulis kata “Taxi” , lengkap dengan abang becaknya yang bertubuh tinggi besar dan berkulit putih.

 

Anda ingin naik becak yang di Jakarta sudah jadi sejarah? Dipersilahkan mampir ke Moskwa!

Tinggalkan Balasan

News Feed