
Salah satu kegemaran awak adalah memperhatikan kehidupan masyarakat dalam geliat keseharian. Selalu saja ditemukan hal hal unik dari perilaku rakyat yang patut dan layak di ketengahkan ke media sosial. Sebenarnya perilaku warga itu memang sudah melekat dalam pergaulan namum tidak ada salahnya apabila diangkat lagi. Tujuannya adalah untuk perintang rintang waktu sembari mengkhabarkan kepada khalayak bahwa sebenarnya hidup itu indah.
Tahun Baru saja berusia 2 hari. Rabu, 2 Januari 2019 awak beringsut dari kediaman bada shalat zhuhur. Tujuan ke Bank Rakyat Indonesia di kawasan Pasar Innduk Kramatjati Jakarta Timur. Apalagi kalau bukan acara rutin bulanan mengambil (menerima ) dana pensiun. Strategi ke BRI agak siangan sebenarnya memiliki maksud agar tidak terlalu panjang ikutan antri di depan kasir. Maklum di tanggal muda bisa dipastikan ramai para pensiunan dan pedagang berurusan dengan Jasa Bank.
Sebelum ke Bank awak memenuhi hasrat kampong tengah alias makan siang di kedai padang induk raya. Inilah langganan tetap memanjakan lidah dengan ikan bawal bakar plus rendang. Kedai ini persis ditepi Jalan Raya Bogor Km 22 depan halte trans Jakarta Pasar Induk. Ramai juga pengunjung nan datang silih berganti. Si Uni sudah paham apa lauk pauk kegenaran awak tanpa dipesanpun hidangan telah tersedia.
Tak lama masuklah kekedai 2 orang bapak bapak. Dari penampilan awak kira mereka pedagang buah. Pelayanan cepat tidak sampai 3 menit apa apa yang mereka pesan telah tersedia di meja. Inilah kelebihan restoran padang, ketika makan siang perut sedang lapar laparnya sepiring nasi mengebul dan lauk sesuai pesanan sudah siap disantap.
Sembari menimati kuliner maknyoes awak perhatikan dua bapak bapak tadi. Betapa lahapnya mereka menikmati rendang dan gulai ikan mas. Nah satu hal yang sudah lama sekali tak awak saksikan adalah cara salah seorang bapak itu ketika duduk diatas kursi. Ternyata beliau menekuk kaki kirinya. Ingatan langsung melayang di tanah kelahiran Tempino Jambi.
Di kampong kami ada kedai Pak Kutar. Masakan sop buntut sangatlah terkenal sehingga para pejabat dari Jambi menempuh 27 km guna menikmati sajian khas tersebut. Tentu enak rasa sop buntut itu. Rekomendasi dari mulut kemulut kalau tidak kenapa datang jauh jauh ke Tempino. Walau sudah jadi ” orang” terkadang para pejabat itu lupa dengan gengsi. Enak saja mereka duduk menekuk kaki ketika menikmati hidangan super maknyoes kedai Pak Kutar.
Kisah nyata ini tentu bukan hoax bersebab awak saksi sejarah. Timbul pertanyaan apa sih enaknya menekuk lutut ketika menyuap hidangan. Bukankah perut terjepit karena tertekan paha sehingga tidak banyak makanan masuk ke lambung. Entahlah, bisa jadi itu salah satu sebabnya menekuk lutut. Namun bagi komunitas tambun agak sulit juga menekuk lutut bersebab tebalnya lemak di lingkaran pinggang.
Nyatanya si bapak tetap saja mengangkat tangan memberi kode ke si Uni kedai
“tambauh ciek”
Bergegas palayan mengghampiri sembari menyahut
“nasi tambauah di agiah kuah gulai atau dadak randang?”
Nah sodara, model kaki di tekuk ternyata tidak mengurangi jumlah asupan ke perut. Jadi untuk sementara hipotesa melipat dengkul tidak ada hubungannya dengan teori mengurangi makan. Sering juga awak memperhatikan Jamaah Tabligh yang singgah di Masjid Jami An Nur Polsek Ciracas menekuk lutut ketika makan. Bedanya mereka tidaklah duduk di kursi tetapi sembari duduk. Hanya menggunakan 3 jari ketika menyuap hidangan, berlima dalam satu nampan. Inilah Sunah Rasulullah Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu adab ketika menikmati rezeki Allah SWT. Makan ketika lapar, isi lambung sepertiga dan berjhenti makan sebelum kenyang.
Ketika awak menyelesaikan suap terakhir di hari yang cukup panas, masuklah 2 orang ibu ibu. Agak asing juga, jarang awak melihat ibu ibu berbusana sederhana singgah makan siang. Oh mereka baru saja dari warung sebelah menikmati harumnya buah durian. Memang di Pasar Induk sedang musim, banyak buah durian kiriman dari Pulau Sumatera. Makan durian ditempat atau dilapak menjadi mode saat ini. Tujuannya untuk memastikan apakah isi durian itu memang enak dan tidak busuk.
Si Uni kedai memang sangat ramah tamah. Awak mendengar obrolan mereka terkait malam tahun baru 2019.
“Alhamdulillah malam tahun baru tidak terlalu banyak kembang api dibanding tahun lalu”
Si ibu yang berusia 70 tahun namun terlihat masih sehat menyahut
” Puji Syukur, kita harus prihatin, akhir akhir ini terlalu banyak bencana, musibah. Kami semalaman di gereja berdoa untuk keselamtan seluruh umat”
Uni kedai menmpali
” ya bu saya buka kedai sampai pergantian tahun, tidak banyak terdengar dentuman mercon dan langitpun tak seterang tahun lalu dari pesta kembang api”
Inilah geliat kehidupan rakyat kita. Mereka sangat peduli apa saja yang terjadi dinegeri ini. Dengan carannya masing amsing warga memberikan kontribusi agar Indonesia Raya tetap aman, nyaman serta sejahtera dalam satu kedamaian. Ketenangan hidup adalah sumbangsih kita semua tanpa enggan saling menyapa, bersilaturahim dalam kebaikan dan kebenaran. Insha Allah. Amin Ya Rabbal Alamin.
Awak beringsut ke BRI, berjalan kaki 150 meter untuk bertemu dan bertemu lagi dengan sesama pensiunan dari berbagai Kementerian dan Purnawirawan TNI/- Polri. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan dibaca terulang sebanyak 31 kali dalam surat Ar Rahman.
Salam Literasi
YPTD 020121
YPTD








Subhaanallaaah…
Kalo baca tulisan Bapak gimana gitu , begitu enak dibaca ngga ada bosan2nya